OPINI: Menumbuhkan Sikap Zuhud melalui Puasa

Ilustrasi pempek palembang - Ist
09 Mei 2019 05:57 WIB Endro Dwi Hatmanto Hikmah Ramadan Share :

Puasa Ramadan sejatinya dapat meningkatkan karakter zuhud bagi setiap kaum mukmin. Zuhud, menurut Ibnu Qayim, bermakna terbebasnya hati dari belenggu dunia. Seseorang dengan sifat zuhud akan berikhtiar untuk menggapai derajat-derajat akhirat. Karena dahsyatnya sifat zuhud, para ulama salaf seperti Abdullah bin Mubarak, Imam Ahmad, Hinad bin Sari mengkhidmatkan diri menulis buku tentang zuhud dengan judul yang persis sama, yakni az-Zuhd.

Meski demikian, zuhud bukan berarti menolak kekuasaan, jabatan dan kemuliaan dunia. Nabi Sulaiman dan Nabi Dawud adalah orang-orang yang punya kekuasaan pada zamannya. Namun sejarah mencatat bahwa kedua nabi mulia ini adalah manusia-manusia yang berkarakter zuhud. Begitu juga dengan Ali Bin Abu Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zubair dan Usman bin Affan. Mereka adalah orang-orang yang kaya harta. Namun mereka adalah orang-orang yang dikenal dengan sifat zuhudnya.

Bagaimana ibadah puasa dapat menumbuhkan sikap zuhud? Ibnu Qayyim membagi zuhud menjadi beberapa macam. Pertama, zuhud dari sikap berlebihan dalam perkara yang halal. Melalui puasa, kita diajarkan untuk tidak makan, minum dan berhubungan biologis. Di luar Ramadan, semua perkara ini adalah halal jika dilakukan dengan syariat. Namun, sesuatu yang halal bisa menjerumuskan manusia ketika kerasukan menjadi gaya hidupnya. Kalau mau jujur, rusaknya hutan, korupsi, syahwat kekuasaan yang menghalalkan segala cara adalah bentuk-bentuk dari kerakusan manusia. Puasa sejatinya melatih diri kita untuk mampu membangun kontrol diri terhadap anasir-anasir kerakusan.

Yang kedua, zuhud juga berkenaan dengan perkara yang tidak terlalu penting dalam perkataan, pandangan dan segala nafsu yang dapat menjatuhkan muruah atau martabat manusia. Dalam menjalani ibadah puasa Ramadan, kita didorong untuk menghindari pandangan terhadap yang diharamkan, pembicaraan yang sia-sia, menggunjing, membuat rumor-rumor, apalagi menyebarkan perkataan dan berita hoaks dan dusta. Dengan latihan ini, setiap mukmin diharapkan dapat menjaga kehati-hatian agar tidak terperosok pada sifat-sifat yang dapat menistakan dirinya melalui pembicaraan dan pandangannya. Puasa adalah media untuk menumbuhkan pribadi yang penuh hormat dan martabat.

Yang ketiga adalah zuhud dalam perkara syubhat atau perkara yang masih meragukan. Masih menurut Ibnu Qayyim, jika syubhat sebuah perkara berat, maka sikap zuhud menjadi wajib. Jika perkara syubhatnya ringan, maka sikap zuhudnya dianjurkan saja. Bagi muslim yang tinggal di negara-negara nonmuslim, perkara syubhat menjadi tantangan tersendiri. Contoh, banyak makanan yang tidak jelas halal dan haramnya sehingga memunculkan keraguan.

Kenikmatan Dunia
Mukmin yang memiliki sikap zuhud tentu akan menghindari untuk menikmati makanan yang belum jelas kehalalannya dan mengganti dengan makanan lain yang sudah jelas kehalalannya. Puasa berperan penting dalam melatih kemampuan zuhud seperti ini. Di masa Ramadan, jangankan perkara yang haram, perkara yang halal saja kita dituntut untuk menahan diri, apalagi perkara yang masih bersifat syubhat.

Yang keempat adalah zuhud dalam perkara yang haram. Hukum zuhud ini wajib bagi setiap kaum muslim. Orang-orang yang sudah terbiasa melatih pengontrolan diri melalui puasa cenderung memiliki radar spiritual yang kuat untuk menghindari perkara-perkara yang haram. Dalam konteks kehidupan berbangsa, perkara-perkara yang haram seperti korupsi, suap menyuap dalam bidang hukum dan politik, perselingkuhan, dan kesewenang-wenangan adalah sumber keruntuhan sebuah bangsa. Ibadah puasa akan selalu mengingatkan kita bahwa segala perkara yang haram harus dijauhkan dari kehidupan kaum mukmin.

Mewujudkan sifat zuhud memang bukan perkara mudah karena godaan dunia yang memesona. Dalam Alquran surat Ali Imran ayat 14, godaan-godaan itu bisa dalam bentuk syahwat seksual, kecintaan terhadap anak keturunan, harta benda, kendaraan, hewan ternak dan sawah ladang. Segala kenikmatan ini bersifat universal dari generasi yang satu ke generasi yang lain. Di era milenia sekarang ini, goncangnya bangunan sosial masyarakat kita disebabkan oleh jatuhnya manusia dalam menikmati berbagai kenikmatan dengan tidak memakai nilai-nilai agama. Pergaulan bebas, rebutan kekuasaan dengan segala cara, mencuri uang rakyat dengan cara yang haram, kapitalisme yang semakin menciptakan jurang si kaya dan si miskin adalah gambaran bagaimana jika kenikmatan tidak dipandu oleh ajaran-ajaran agama.

Di akhir surat ini kita diajarkan bahwa semua kenikmatan yang digambarkan tadi adalah kenikmatan dunia yang bersifat temporal dan kenikmatan yang paling tinggi akan diberikan oleh Allah di akhirat kelak. Tentu kenikmatan yang diraih diakhirat bukanlah taken for granted, namun harus diperjuangkan dan diusahakan melalui amal ibadah dan, tentu saja, sikap zuhud kita selamat kita hidup di dunia. Sungguh, ibadah puasa di Ramadan membantu kita untuk menumbuhkan sikap zuhud tersebut.

*Penulis merupakan dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta