OPINI: Jangan Sampai Ibadah Puasa Sia-sia

Ilustrasi ibadah salat. - Harian Jogja/Desi Suryanto
16 Mei 2019 06:02 WIB Fahmi Irfanudin Hikmah Ramadan Share :

Dalam kitab Minhajul ‘Abidin, Imam al-Ghazali mengisahkan suatu hari Atha' as-Salimi al-Bashri bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya berbulan-bulan pada seorang penjual kain di pasar. Setelah diamati dan diteliti secara seksama lalu si penjual kain pun berkata: "Wahai Atha', sesungguhnya kain yang kamu tenun ini bagus, tapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya."

Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya berbulan-bulan ada cacatnya, Atha' pun termenung kemudian menangis.

Melihat Atha' menangis, si penjual kain pun berkata: "Wahai Atha', aku mengatakan apa adanya bahwa memang kainmu ada cacatnya. Tapi, karena kamu menangis, maka baiklah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dengan harga yang pas."

Mendengar tawaran tersebut kemudian Atha' berkata: "Wahai sahabatku, kamu kira aku menangis karena kainku ada cacatnya? Ketahuilah, bukan itu yang membuatku menangis. Aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan itu tidak ada cacatnya, tapi ternyata di mata engkau sebagai ahlinya, kain itu ada cacatnya. Aku juga menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada cacatnya, tapi bisa jadi di mata Allah Ta'ala ibadahku penuh dengan cacat dan celanya. Itulah yang menyebabkan aku menangis."

Kisah tadi jika kita renungkan mengandung pesan, pernahkah kita berfikir jangan-jangan amalan kita selama ini tidak diterima Allah Ta'ala? Pernahkah kita merasa takut akan ditolaknya amalan kita oleh Allah Ta'ala? Dalam Alquran surat al-Mukminun Allah Ta'ala berfirman terkait orang-orang yang takut amal ibadahnya tidak diterima:

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya” (QS al-Mukminun: 60-610).

Aisyah Radhiyallahu 'anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terkait ayat tersebut: “Apakah mereka adalah orang-orang yang meminum khamr dan mencuri?” Beliau menjawab: “Tidak, wahai puteri Ash-Shiddiq! Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat dan bersedekah dan mereka takut amal mereka tidak diterima (Allah). Mereka itulah orang-orang yang bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan”. (At-Tirmidzi).

Jadi, seyogianya kita memiliki rasa takut jika amal kita ditolak Allah Ta'ala. Karena itulah yang akan membuat kita semakin termotivasi untuk terus memperbaiki kualitas dan meningkatkan kuantitas ibadah kita kepada-Nya, juga menghindari segala yang dapat merusak ibadah kita dengan senantiasa menjaga ke-ikhlas-an dalam beribadah dan memastikan bahwa ibadah yang kita lakukan itu benar-benar sesuai dengan yang dituntunkan Rasul Shallallahu 'alaihi wa Sallam karena itulah dua syarat utama yang harus terpenuhi agar ibadah kita diterima Allah Ta'ala. Jika kita ikhlash dalam beramal, namun tidak sesuai dengan yang diajarkan Rasul Shallallahu 'alaihi wa Sallam maka amalan tersebut akan tertolak. Begitu juga jika amalan yang kita lakukan sesuai dengan ajaran Rasul namun tidak ikhlas maka amalan tersebut juga akan tertolak.

Mudah-mudahan kita terus diberikan kekuatan dan kesempatan oleh Allah untuk terus belajar dan belajar untuk memperbaiki kualitas keberislaman kita sehingga mudah-mudahan kita termasuk diantara golongan orang-orang yang beruntung yaitu mereka yang amalan-amalannya diterima Allah Subhanahu wa Ta'ala. Amin.

*Penulis merupakan dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta