OPINI: Ramadan dan Harmoni Kebangsaan

Ilustrasi ibadah salat. - Harian Jogja/Desi Suryanto
17 Mei 2019 06:02 WIB Ahmad Sahide Hikmah Ramadan Share :

Ramadan menjadi bulan yang bisa dikategorikan sebagai bulan pendidikan spiritual. Hal itu karena pada bulan ini, umat Islam berlomba untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam seantero dunia akan memperbanyak amal ibadahnya; mulai dari intensitas bacaan Alqurannya, ikut pengajian di berbagai tempat untuk menambah wawasan keislamannya, memperbanyak ibadah salat berjemaah di masjid (terutama salat tarawih), serta kerelaan untuk berbagi kepada sesama yang membutuhkan.

Inilah sejatinya nilai-nilai yang hendak ditanamkan dan diperkuat dalam diri umat Islam dengan bulan pendidikan spiritual selama sebulan tersebut. Bulan yang penuh berkah serta segala amalan kita akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Setelah bulan Ramadan usai dan kita menjadi orang yang beruntung, maka kita yang berpuasa dengan kesungguhan hati, ikhlas karena Allah, akan meraih predikat suci lahir dan batin sebagaimana bayi yang baru lahir. Bagaiamanakah kecusian bayi yang baru lahir itu?

Bayi yang baru keluar dari rahim ibunya tidak mempunyai rasa benci, dengki, dendam dari sesamanya (bayi). Juga tidak menempatkan dirinya lebih tinggi dari yang lain meskipun ia dilahirkan dari keluarga yang kaya, pejabat dan segala kehormatan duniawi lainnya yang melekat. Itulah makna kesucian (fitrah) batin dari bayi yang baru lahir.

Oleh karena itu, salah satu indikator keberhasilan kita selama menjalankan pendidikan spiritual selama sebulan penuh di bulan Ramadan ini ketika kita mampu mendidik diri kita untuk tidak membenci sesama, tidak merendahkan sesama, berperilaku jujur dan adil, serta kita terpanggil untuk berbagi kepada sesama karena Tuhan telah mengajari kita untuk mengetahui bagaimana rasanya menahan lapar dan dahaga. Inilah dampak sosial dari berpuasa pada bulan Ramadan. Bulan yang mampu mengantarkan kita menjadi pribadi yang sholeh secara individu dan sosial.

Harmoni Kebangsaan
Suasana kehidupan berbangsa dan bernegara menjelang Ramadan diwarnai dengan kabut hitam. Kecemasan dan ketakutan mengiringi hari-hari kita terutama menjelang dan sesudah 17 April lalu. Berita keseharian di berbegai media, terutama media sosial, diwarnai dengan ujaran kebencian, saling menghujat, saling memfitnah dan menyebar hoaks, serta saling klaim kebenaran karena ketidakmampuan meredam ego pribadi dan golongan. Kehidupan kita pun seolah kehilangan keadaban di ruang publik.

Kehidupan berbangsa dan bernegara pun jauh dari keharmonisan dan kedamaian. yang hadir adalah kecemasan dan ketakutan di ruang-ruang publik. Jika kita mengambil hikmah dari bulan Ramadan ini, maka kita akan tahu bahwa kegaduhan dari kehidupan kebangsaan ini karena (mungkin) hati dan jiwa kita tidak fitrah. Kita diselimuti kebencian dan ego pribadi dan golongan. Sebagian dari kita mungkin merasa bahwa golongannyalah yang berhak menjadi pemenang dalam berbagai hal. Mungkin banyak dari kita yang senang dan mencari kehidupan dengan menebar kebohongan seantero negeri dan tidak perduli apakah itu menyebabkan kehebohan dan kegaduhan sosial. Semua berawal dari hati yang tidak fitroh.

Ramadan adalah bulan yang mendidik dan akan mengantarkan kita kepada kesucian lahir dan batin itu. Jika kita berhasil dalam proses pendidikan spiritual ini, maka harmoni kebangsaan akan terwujud. Kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadi indah karena sesama kita akan saling mencintai, menyayangi, menghormati, memuliakan, saling berperilaku dan berkata jujur.

Semoga Ramadan kali ini, kita tidak termasuk sebagai orang berpuasa yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa, “Banyak umatku yang berpuasa tapi mereka hanya mendapatkan lapar dan dahaga.” Kita berharap bahwa Ramadan tahun ini akan mengantarkan kita pada kesucian lahir dan batin yang akan menghadirkan harmoni sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


*Penulis merupakan dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta