OPINI: Industri dan Pariwisata dalam Perspektif Kesehatan Jiwa

Peta wilayah koordinatif Badan Otorita Borobudur (BOB) di DIY dan Jawa Tengah. / Ist. - dok.BOB
31 Juli 2019 05:07 WIB Satwika Ganendra Aspirasi Share :

Proses industrialisasi yang tumbuh akhir-akhir ini tidak terhindarkan lagi. Keberadaan industri berupa pabrik dan perusahaan di satu wilayah diharapkan mengurangi pengangguran, menyerap tenaga kerja sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Kendatipun begitu sebuah Riset Kesehatan Dasar beberapa tahun lalu, menengarai sekitar 6% penduduk di atas 15 tahun rentan mengidap depresi lantaran tekanan industri. Apabila penduduk produktif berkisar 180 juta jiwa, sekitar 10 juta rentan mengalami gangguan emosional.

Oleh karena itu, dalam proses industrialisasi diperlukan perencanaan yang matang, khususnya terkait kesehatan jiwa masyarakat. Zonasi adalah salah satu solusi yang meliputi klasifikasi industri berat, menengah, ringan, termasuk pengembangan industri pariwisata

Rekayasa Sosial Budaya
Sebagaimana kita ketahui persaingan bisnis di era disrupsi menyebabkan warga merasa ditinggalkan. Oleh karena itu, masyarakat perlu mendapat wawasan dan ketrampilan agar merasa dilibatkan. Sekaligus memiliki “nilai tambah” dalam menata kehidupannya.

Joseph Stiglitz dalam buku Creating a Learning Society; A New Approach to Growth, Development and Social Progress mengingatkan kita semua bahwa akumulasi kreativitas dan inovasi lebih strategis ketimbang akumulasi modal.

Lantaran persaingan makin berat, maka untuk menjaga keseimbangan mental-emosional, dibutuhkan rekayasa sosial budaya, berupa peningkatan soft skill supaya melahirkan pola pikir kreatif dan mandiri dalam sistem sosial kemasyarakatan.

Masyarakat di dukung agar berpikiran positif, kreatif dan inovatif dengan mengedepankan nilai humanistik. Diperlukan proses komunikasi yang intens dalam kebijakan pembangunan industri, sehingga masyarakat terarahkan dalam kehidupan yang sehat, terencana dan terintegrasi.
Walaupun teknologi dan informasi di era Revolusi Industri 4.0 mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat, namun di sisi lain patut diantisipasi meningkatnya kerentanan emosional masyarakat.

Industri Pariwisata
Salah satu solusi agar kesejahteraan dan kesehatan jiwa masyarakat terjaga adalah pengembangan industri pariwisata, lantaran seluruh warga dapat berperan serta dalam kegiatan pariwisata. Oleh karena itu, pemerintah juga menggalakkan pengembangan objek wisata.

Kegiatan semacam kelompok masyarakat sadar wisata (pokdarwis) adalah untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi warga. Oleh karena itu, keberadaan objek, sesungguhnya juga membantu masyarakat luas yang mengalami mental fatique melakukan pelepasan stres dengan berbagai fasilitas yang tersedia,.

Kehidupan Industri yang menghabiskan energi bisa diimbangi keberadaan sebuah obyek wisata untuk menurunkan prevalensi gangguan jiwa. Apabila tingkat kesehatan serta kesejahteraan masyarakat terpenuhi, dengan sendirinya roda perekonomian di satu wilayah akan berputar dengan cepat.

Pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) di Temon, Kulonprogo, kemudian Badan Otorita Borobudur (BOB) pengelola objek wisata Candi, termasuk wisata Glamping De’Loano di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, tentunya punya multiplier effect pada kesehatan jiwa, semangat kerja dan tingkat kesejahteraan warga setempat.

Pengembangan Daerah
Keberadaan YIA yang dikelola PT Angkasa Pura 1, selain membuka akses industrialisasi juga berdampak pada pengembangan wisata. Berbagai perusahaan di wilayah Kulon Progo dapat memberikan kesempatan pengembangan diri masyarakat melalui dana sosial perusahaan (CSR).
Kegiatan tersebut sesungguhnya membuka kesempatan warga meningkatkan keunggulan kompetitif, perilaku yang produktif dan berbagai pelatihan ketrampilan mengiringi peluang kerja di dunia industri yang terbuka lebar.

Selama ini pengembangan industri dan wisata DIY dan Jawa Tengah, familiar dengan istilah Joglosemar (Jogjakarta-Solo-Semarang). Maka ke depannya ada peluang industrialisasi dan wisata di kawasan Mangkupurwo (Magelang-Kulonprogo-Purworejo). Daerah yang belum banyak tersentuh industrialisasi.

Sesuai konsep Joseph Stiglitz, rekayasa sosial budaya tidak lain adalah pengembangan kreativitas dan inovasi lewat kegiatan kemasyarakatan, akan melahirkan wirausahawan yang handal.

Apabila warga merasa dilibatkan dalam pembangunan, baik industrialisasi maupun pariwisata, maka dorongan Presiden pada pengembangan industri dan pariwisata bukanlah retorika belaka, melainkan sebenar-benarnya untuk meningkatkan taraf kesejahteraan dan kesehatan jiwa masyarakat.

*Penulis merupakan Psikolog Industri/Staf di sebuah BUMN