OPINI: Memaknai Iduladha

Ilustrasi penjual kambing untuk Iduladha. - JIBI/Harian Jogja
10 Agustus 2019 05:02 WIB Etik Fadhilah Ihsanti Aspirasi Share :

Hari Raya Iduladha 1440 telah tiba. Hari yang dinanti oleh kaum muslimin untuk saling berbagi. Bagi yang mempunyai harta berlebih, hendaklah mengikhlaskan sebagian hartanya untuk menyembelih hewan kurban. Bagi yang hidup pas-pasan dan serba kekurangan, tentu momen seperti ini sangat ditunggu karena mereka bisa menikmati daging hewan kurban. Daging yang jarang sekali mereka nikmati karena harganya mahal sehingga tidak terjangkau dan jarang terbeli.

Pahala berkurban sangat besar sekali sehingga secara khusus Allah SWT memerintahkan kita untuk berkurban setelah/mengiringi perintah salat. Fasholli lirobbika wanhar, maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (QS. Al Kautsar 2). Nabi Muhammad SAW juga bersabda, dari Zaid Ibn Arqam, mereka berkata Wahai Rasulullah SAW, apakah kurban itu? Rasulullah menjawab kurban adalah sunahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim. Mereka bertanya apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan berkurban itu?, Rasulullah menjawab setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan, mereka bertanya kalau bulu-bulunya?, Rasulullah menjawab setiap helai bulunya juga satu kebaikan. (HR. Ahmad dan Ibn Majah).

Seperti sabda Rasulullah SAW, bahwa berkurban adalah sunahnya Nabi Ibrahim AS, karena memang kesabaran dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS merupakan tonggak sejarah awal adanya hari raya Iduladha yang setiap tahunnya diperingati oleh umat Islam di seluruh dunia. Sesungguhnya rangkaian ibadah haji di Tanah Suci Mekkah juga ritual syariat yang sangat berhubungan erat dengan kisah dan sejarah Nabi Ibrahim AS. Momentum Iduladha ini, memang sudah seharusnya membawa kita kembali kepada lembaran kisah Nabi Ibrahim AS, untuk kemudian menjadikannya teladan dalam kehidupan kita dan anak cucu kita kelak.

Sungguh teramat banyak kisah perjuangan yang dialami Nabi Ibrahim AS. Kesabaran dan pengorbanannya begitu banyak digambarkan dalam ayat-ayat Alquran. Dari mulai masa kecilnya yang mencari siapa Tuhan yang sebenarnya, kemudian masa mudanya yang dihabiskan untuk berdakwah kepada umatnya yang hidup dalam kemusyrikan, bahkan ayahnya sendiri adalah pembuat berhala yang dipuja-puja dan disembah masyarakatnya. Belum lagi saat berhadapan dengan kesombongan Raja Namrud, hingga berujung pada peristiwa pembakaran diri beliau, yang kemudian diselamatkan oleh Allah SWT, yang dengan kuasanya menjadikan api yang membakar dirinya menjadi dingin dan menyelamatkan. Allah SWT berfirman Ya naru kunni bardan wa salaman ala Ibrohim, Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim (Al-Anbiya 69).

Ujian bagi Nabi Ibrahim AS tidak hanya pada lingkungan yang keras, tandus, atau tantangan dakwah dari masyarakat atau bahkan penguasanya, namun juga ujian berupa datangnya perintah yang sangat berat dari Allah SWT, yaitu menyembelih anak yang dicintainya dan dinanti-nanti kehadirannya sejak lama. Alquran begitu indah menggambarkan dialog antara Nabi Ibrahim dan Ismail ketika itu, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim”, Ibrahim berkata, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (QS Ash Shaffat :102).

Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putranya Nabi Ismail AS, maka beliau dengan serta merta memenuhi perintah Allah SWT dengan tanpa ada keraguan. Maka sebagai ganti Nabi Ismail AS, Allah SWT menurunkan dari langit, “Dan Kami tebus anak itu dengan dengan seekor sembelihan yang besar. (Q.S Ash-Shaffat 107). Nabi Ibrahim AS akhirnya memang tidak menyembelihan anaknya, sebab Allah SWT memberikan ujian tersebut bukan dalam rangka mewujudkan penyembelihan terhadap anaknya tersebut, namun semata-mata untuk membuktikan kecintaan Nabi Ibrahim AS sebagai khalilullah dan termasuk Ulul Azmi yang mampu memurnikan kecintaannya hanya untuk Allah SWT.

Dan ini menunjukkan bahwa Allah SWT memberikan cobaan kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai jenis cobaan, untuk membuktikan keimanan hamba tersebut. Kisah perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putranya sampai saat ini masih terus memberikan ibrah dan pelajaran serta hikmah yang sangat banyak bagi kita umat Islam sehingga di hari raya Iduladha ini, sebisa mungkin kita itba kepada Nabi Ibrahim AS dengan ikut berkurban.

Makna Iduladha
Pertama, semangat berbagi untuk semua. Di hari Raya Iduladha, setiap umat Muslim yang mampu dianjurkan untuk membeli dan menyembelih hewan kurban. Setelah itu, daging kurban tidak hanya disantap sendirian, tetapi harus dibagikan kepada saudara, tetangga, terutama fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Dari kegiatan ini, Iduladha dapat menumbuhkan semangat berbagi dan tolong menolong untuk sesama.

Dengan harapan, saudara-saudara di sekitar kita yang belum mampu membeli daging yang harganya mahal bisa ikut menikmati lezatnya berbagai menu olahan daging. Namun, jangan hanya saat Iduladha saja kita peduli dengan sesama, kita harus belajar peduli sesama setiap saat, di mana pun dan kapan pun.

Kedua, yaitu memberikan pengorbanan. Ibadah pada Hari Iduladha secara langsung mengajarkan kita dan seluruh umat Islam lainnya selalu memberikan pengorbanan kepada segala sesuatu yang dilakukan. Pada momen inilah kita diingatkan kembali bahwa untuk mencapai segala sesuatu yang kita impikan, semuanya butuh pengorbanan, maka pengorbanan wajib dilakukan. Sama halnya dengan yang dilakukan Nabi Ibrahim, beliau bersedia mengorbankan putranya karena perintah Allah SWT.

Ketiga yaitu memberi keikhlasan. Makna Iduladha dan kurban selanjutnya adalah mengingatkan umat Muslim untuk senantiasa ikhlas atas segala cobaan yang diberikan. Dengan ikhlas, ujian seberat apapun InsyaAllah akan mendapatkan hikmah yang terbaik dari Allah SWT. Mengenai keihkalsan, kita bisa belajar dari Nabi Ismail AS, di mana ketika beliau merelakan dirinya hendak disembelih oleh ayahnya sendiri. Bagi Nabi Ismail AS, mengorbankan nyawanya sebagai bentuk pelaksanaan perintah Allah SWT merupakan bagian dari ibadah. Dan ketika Nabi Isamail AS ikhlas menyerahkan nyawanya, Allah SWT membalas ke-ikhlasannya dengan usia yang panjang, dan derajat kehidupan yang lebih baik. Buktinya, kita selalu mengenang Nabi Ismail AS setiap tahunnya.

Keempat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sesuai makna dari kata kurban yang berasal dari kata quraba atau dekat, ibadah kurban pada hari Iduladha memiliki makna terdekat. Tak hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT, Iduladha juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada keluarga dan saudara. Lewat Iduladha pula, Allah SWT ingin mengajarkan kita tentang kemurnian cinta.

Kelima yaitu silaturahmi. Pada Hari Raya Iduladha, terdapat tradisi mengunjungi sanak saudara. Interaksi dengan tetangga dan kerabat dapat terjalin ketika pelaksanaan salat Iduladha dan penyembelihan hewan kurban. Namun ada baiknya, silaturahmi tidak hanya dilakukan pada saat hari-hari besar, maupun hari tertentu. Tetapi, setiap saat kita harus bersilaturahmi, entah itu seminggu sekali, ataupun sebulan sekali. Silaturahmi juga merupakan sebagai bukti dari keimanan seseorang kepada Allah SWT dan hari akhir. Rasulullah SAW bersabda “Siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali silaturahim".(HR Bukhari).

Keenam, meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Berkurban pada Hari Raya Iduladha menjadi sebuah perintah yang sudah jelas tertulis di dalam kitab suci Alquran dan dapat menjadi suatu amalan yang baik dan wajib dijalankan bagi umat Muslim jika memiliki harta yang berlebih. Oleh sebab itu, ibadah berkurban bermaksud untuk mengajak kita sebagai umat Muslim agar menjalankan segala perintah-Nya guna meningkatkan keimanan serta menghindarkan diri kita dari nafsu duniawi.

Ketujuh yaitu kualitas diri. Dari ritual kegamaan inilah yang akan memperkuat rasa empati, kesadaran diri, pengendalian dan pengelolaan diri yang merupakan cikal bakal akhlak terpuji seorang Muslim. Akhlak terpuji dicontohkan Nabi seperti membantu sesama manusia dalam kebaikan, memuliakan tamu, mementingkan orang lain dan senantiasa amar ma'ruf nahi mungkar. Sebaliknya, akhlak tercela dipastikan berasal dari orang yang bermasalah dalam keimanan yang merupakan pembiasaan dari sifat-sifat setan dan iblis.

Kedelapan yaitu segalanya milik Allah SWT. Dengan adanya perayaan Iduladha, umat Muslim akan menyadari bahwa apa yang ada di langit dan bumi adalah milik Allah SWT. Penyembelihan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS sebenarnya secara tidak langsung mengajarkan bahwa tidak ada apa pun yang dimiliki secara mutlak oleh seseorang. Jadi, tak ada yang layak untuk disombongkan oleh diri kita. Semua yang dimiliki saat ini hanyalah titipan dari Allah SWT yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali, jadi manfaatkanlah sebaik-baiknya.

*Penulis merupakan guru MIN I Kulonprogo