OPINI: Selangkah di Depan Perusahaan Teknologi

Ilustrasi digital marketing - CC0
12 Agustus 2019 05:07 WIB Alexander Soemarno Aspirasi Share :

Pada 18 Juni 2019, Facebook mengumumkan rencana untuk menghadirkan Libra, mata uang baru yang mengadopsi teknologi blockchain. Dengan membentuk anak usaha bernama Calibra yang nantinya akan mengurusi layanan keuangan, Facebook bercita–cita memberikan akses keuangan yang mudah bagi seluruh lapisan masyarakat.n

Pada 18 Juni 2019, Facebook mengumumkan rencana untuk menghadirkan Libra, mata uang baru yang mengadopsi teknologi blockchain. Dengan membentuk anak usaha bernama Calibra yang nantinya akan mengurusi layanan keuangan, Facebook bercita–cita memberikan akses keuangan yang mudah bagi seluruh lapisan masyarakat.

Berdasarkan data yang dikutip Facebook dalam rilisnya tentang Libra, masih ada lebih dari separuh populasi penduduk dewasa di dunia ini yang belum memiliki rekening bank aktif. Dalam rilis tersebut disebutkan, 70% dari perusahaan kecil di negara berkembang belum memiliki akses kredit. Para pekerja di luar negeri pun harus kehilangan US$25 miliar hanya untuk membayar biaya remitansi.

Produk pertama yang akan diluncurkan adalah layanan dompet digital untuk Libra yang akan tersedia di Messenger, WhatsApp dan aplikasi yang akan diluncurkan pada 2020. Layanan ini akan memudahkan setiap orang mengirimkan uang semudah mengirim pesan singkat dengan biaya minimum dan bahkan gratis. Layanan lain yang juga akan diluncurkan adalah pembayaran tagihan semudah menekan tombol atau hanya memindai barcode.

Masalah keamanan pun juga menjadi perhatian Facebook. Calibra dijamin tidak akan membagikan informasi termasuk keuangan dengan Facebook atau pihak ketiga tanpa ada izin dari pengguna. Calibra hanya akan menggunakan data untuk memenuhi aturan, mitigasi risiko, atau mencegah tindakan kriminal.

Dalam laman Calibra pun Face­book menjamin ma­ta uang besutannya le­bih sta­bil dibandingkan de­ngan mata uang kripto lain­nya, mi­­sal­­nya Bitcoin. Ini ka­re­na ada cadangan aset yang da­pat me­­ng­­in­­tervensi pergerakan ni­lai tukar Libra sehingga tidak ter­la­lu volatil.

Dengan mengadopsi teknologi blockchain, pertukaran pun terjadi langsung antar user di dalam platform yang disediakan oleh Facebook tersebut. Sayangnya, saya melihat justru inilah sumber masalahnya, sama seperti yang dikhawatirkan sejumlah regulator di Amerika Serikat dan Eropa. Facebook menjadi makin kuat dan susah untuk dikontrol.

Transaksi yang dilakukan antar user tidak dapat dijejak karena pihak penjual bisa mengirimkan barangnya dari negara atau teritorial lain. Pun pihak pembeli bisa hanya merupakan proxy (perantara pihak yang menjadi end user). Dan Libra akan bersembunyi di balik privacy policy untuk tidak menyediakan data secara komprehensif kepada pihak-pihak yang berwenang

Tak hanya Facebook, menguatnya posisi perusahaan-perusahaan teknologi raksasa dunia justru menimbulkan berbagai kekhawatiran. Ada yang khawatir dominasi mereka menimbulkan dampak pengangguran akibat terjadinya per­ge­seran lapangan pekerjaan, me­ngu­rangi pendapatan pajak ne­gara, dan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Peran mereka dalam mengatasi kesenjangan pendapatan masyarakat pun ikut dipertanya­kan. Dominasi mereka juga menimbulkan kekhawa­tiran terjadinya persaingan usa­ha yang ti­dak seimbang. Apple mendomi­nasi pasar pon­sel pintar kelas high end, Google mendomi­nasi pasar me­sin pencari di internet, Facebook dan Instagram ataupun Whats­App mendominasi pasar media so­sial, Amazon dan Ali­ba­ba mendominasi pasar e-commerce. Dominasi mereka yang makin kuat dikhawatirkan membuat kendali pasar dan konsumen menjadi sangat tergantung pada mereka. Di beberapa belahan dunia, praktik persaingan usaha kurang sehat oleh perusahaan teknologi raksasa dunia ini jadi sorotan serius.

Sebagai contoh, pada Juni 2017 lalu Uni Eropa mengenakan denda pada Google sebesar 2,4 miliar euro karena Google dinilai telah menyalahgunakan dominasinya di pasar search engine yang dapat merugikan kompetitor atau konsumen.

Cengkeraman bisnis perusahaan-perusahaan teknologi raksasa dunia ini juga dicemaskan mengakibatkan terjadinya pengambilalihan perusahaan-perusahaan lokal oleh perusahaan teknologi asing. Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa dunia ini dicemaskan akan menelan semuanya. Diperkirakan, lebih dari 500 perusahaan telah mereka akui-sisi dalam 10 tahun terakhir. Dalam banyak contoh perusahaan baru (unikorn) membelanjakan suntikan investasi kepada perusahaan mereka dengan tujuan untuk mengubah kebiasaan konsumen. Seperti aplikasi pembayaran yang saat ini masif digunakan masih perlu menalangi sebagian pembayaran customer kepada merchant, agar bersedia menggunakan fasilitas pembayaran mereka.

Perusahaan-perusahaan raksasa dunia di bidang teknologi tidak hanya mendominasi pangsa pasar, tetapi juga memiliki kekuatan untuk menelan kompetitor atau calon pesaingnya.

Ada kecenderungan mereka senantiasa berusaha mendominasi pasar dengan konsep “winner takes all’ yang menjurus pada perilaku monopoli. Dengan kekuatan inovasi berbasis teknologi, mereka berusaha meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan penguasaan pangsa pasar yang dominan.

Besarnya dominasi dan kekuatan mereka juga membuat regulator atau pemerintah dalam posisi yang sulit. Kita sering melihat mereka kesulitan mengatur keberadaan perusahaan-perusahaan teknologi kelas dunia ini. Bukan hanya karena perusahaan-perusahaan teknologi ini merupakan perusahaan dunia berskala besar, tetapi juga karena kehadiran mereka telah telanjur masuk ke dalam kehidupan masyarakat sehari-sehari. Pada saat sekarang produk dan layanan mereka telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dengan mata uang mandiri yang dibuat secara digital, seperti yang dibuat Facebook melalui Libra, membuat perusahaan teknologi menjadi semakin digdaya. Alhasil, kontrol atau pengawasan negara terhadap perusahaan-perusahaan teknologi raksasa dunia ini tampak terbatas. Peran otoritas dikhawatirkan akan makin melemah ke depan karena mereka telah merasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat berkat penguasaan miliaran data konsumen.

Bayangkan, transaksi yang terjadi hanya diketahui orang per orang dan tak ada campur tangan pemerintah atasnya. Karena itu, pemerintah perlu memberikan perhatian serius agar potensi penerimaan negara melalui pajak yang mungkin dapat diterima tidak akan menguap begitu saja.

*Penulis merupakan Wakil Ketua Umum Bidang Investasi Kadin Kalimantan Timur

Sumber : Bisnis Indonesia