OPINI: Perekonomian Indonesia Melewati Celah Sempit

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi keynote speaker dalam The 14th Gaikindo International Automotive Conference di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (24/7). - BISNIS.COM/Felix Jody Kinarwan
14 Agustus 2019 05:02 WIB Fithra Faisal Hastiadi Aspirasi Share :

Ketika sekolah di Jepang, saya pernah diingatkan senior saya orang Jepang untuk taat kepada peraturan kampus dan tidak pernah terlambat dalam mengumpulkan berkas. Jika telat, maka celaka duabelas.

Senior tersebut mengisahkan cerita legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi bahwa pernah ada suatu ketika seorang mahasiswa yang telat mengumpulkan berkas sidangnya, sehingga dia harus mengulang sidang di semester berikutnya. Telatnya tidak tanggung-tanggung, cuma 5 detik!

Namun karena berhadapan dengan sistem administrasi yang kaku, maka telat ya telat, tidak ada negosiasi. Meskipun berlari terengah-engah berkejaran dengan waktu, jendela kantor administrasi yang dijalankan mesin otomatis tertutup pada pukul 17.00. Bak adegan dalam film Indiana Jones yang berkejaran dengan dinding gua yang hampir tertutup, senior tersebut berusaha menyelipkan berkasnya diantara celah sempit dari jendela otomatis tersebut. Sayangnya dia bukan Indiana, usahanya gagal!

Saya terbayang wejangan tersebut ketika banyak orang bertanya mengenai perekonomian Indonesia kedepan. Kita berkejaran dengan waktu untuk keluar dari celah yang sempit.

Dalam bab 3 buku kami yang berjudul Globalization, Productivity and Production Networks in Asean yang akan terbit pada September nanti, saya dan kolega menulis mengenai jebakan pendapatan menengah (middle income trap). Kami melihat bahwa Indonesia memiliki potensi cukup besar untuk terjebak selamanya di level pendapatan menengah.

Celah yang dilewati pun cukup sempit, karena kita berkejaran dengan potensi bonus demografi yang akan hilang di tahun 2030. Menurut perhitungan kami (Hardiana dan Hastiadi, 2019), jika ingin melewati celah tersebut setidak-tidaknya ekonomi harus tumbuh 6,5% secara rata hingga tahun 2030 nanti. Bila tidak maka celaka duabelas.

Sebagai perbandingan dengan Jepang dan China, kedua negara ini mengalami periode pertumbuhan ekonomi dua digit dalam periode bonus demografi, sementara Indonesia terjebak dalam pertumbuhan 5% dalam lima tahun terakhir. Bahkan menurut proyeksi saya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini dan tahun 2020 nanti dengan sangat mudahnya terjerembab dibawah 5% jika tidak mampu mengatasi masalah turunnya kinerja industri.

Hal ini menjadi penting karena penghela nafas perekonomian adalah kinerja ekspor dan juga investasi, dua hal yang perkembangannya sangat ditentukan oleh pertumbuhan dari sektor industri. Sayangnya, industri mandeg, jalan di tempat. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) kini tinggal 19%, konsisten turun hampir lekat tanah.

Bagaimana dengan situasi global, apakah pengaruhnya besar? Merujuk pada hasil perhitungan tim riset kami, tekanan idiosinkratik dari perang dagang memang memberikan efek buruk pada perekonomian meskipun pada akhirnya faktor goncangan tersebut akan meluruh dalam kurun waktu dua bulan kedepan. Efeknya tidak akan bertahan lama. Apalagi kaitan antara Indonesia dan rantai produksi China dan Amerika Serikat terhitung sangat minimal.

Kalaupun terjadi konstraksi tidak akan terlalu besar. Perhitungan saya, perang dagang hanya akan membuat perekonomian terkontraksi 0,1% hingga 0,2%. Jadi, cuitan Presiden Trump di dunia maya bisa kita abaikan, apalagi gaya rambut jadulnya.

Adalah tekanan dari sisi neraca akun semasa (current account balance) yang memiliki dampak guncangan lebih lama dan lebih besar. Tekanan ini muncul akibat kinerja neraca akun berjalan yang tertekan. Bagaimana bisa? Ini isu produktivitas, ini isu industri.

Untuk tidak menambah masalah, dari 7 juta pengangguran yang tercatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS), kurang lebih 4 juta di antaranya berada pada usia 15 tahun sampai 24 tahun. Hal ini tentu sangat ironis ditengah besarnya ceruk usia produktif Indonesia saat ini. Untungnya Presiden Jokowi sudah sangat sadar.

Beliau, dalam pidato dihadapan para pendukungnya, telah menyampaikan betapa pentingnya negara untuk berinvestasi lebih ke sumber daya manusia, membuat industri, kampus, dan lembaga pendidikan saling terhubung untuk bisa mengaitkan yang sebelumnya tidak tersambung: Industri dan kurikulum vokasi.

Inilah biang kerok melempemnya sum berdaya manusia kita. Dalam penelitian kami, kualitas sumber daya manusia merupakan elemen penting yang dapat menggenjot produktivitas dan inovasi, dua hal yang menjadi faktor pendorong industri yang pada gilirannya bisa menjadi booster melewati celah sempit.

Masalahnya, kita berkejaran dengan waktu, siapa yang tahan menunggu lama. Dalam angka panjang, kita semua mati, kata Keynes. Mendidik manusia tidak sembarangan, begitu juga membangkitkan industri. Namun ada yang bisa dilakukan di jangka pendek, yaitu deregulasi dan debirokrastisasi. Intinya adalah efisiensi birokrasi.

Secara umum kinerja kementerian ekonomi sudah cukup baik. Menteri Keuangan, Bappenas dan juga Menteri Koordinator Perekonomian, semua senior saya di kampus. Jadi, harus saya puji supaya dapat poin. Hanya saja kinerja kementerian sektoral yang cukup amburadul. Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, Menteri Pertanian dan Menteri Ketenagakerjaan adalah yang paling penting dalam menjalankan misi ini.

Celakanya, kebanyakan mereka politisi. Selain itu, meskipun kebijakan di pusat sudah cukup baik, kerap permasalahannya adalah di level pemerintah daerah. Kebanyakan tidak memiliki visi dan hanya terjebak gelombang populisme. Hal ini yang kemudian membuat peraturan dan birokrasi tumpang tindih. Terkait masalah ini, saya sepakat dengan Presiden. Hajar! Investasi tidak akan masuk bila tidak ada kepastian dan konsistensi. Sekarang Presiden harus lebih tegas.

Jika merujuk pada prinsip Schumpeterian, perubahan menuju kebaikan bersifat disruptif. Ia akan menimbulkan ekses negatif di jangka pendek. Hal ini juga diamini oleh Clayton Christensen, profesor dari Harvard Business School dalam ceramahnya di Oxford, merujuk pada bukunya yang fenomenal The Innovators Dilemma.

Namun semua harus dilakukan sekarang, karena alarm sudah kedap-kedip. Jika senior saya itu punya kesempatan di semester berikutnya, Indonesia hanya punya satu kesempatan. Manfaatkan jendela kesempatan itu atau kita akan menjadi tua sebelum kaya.

*Penulis merupakan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

Sumber : Bisnis Indonesia