OPINI: Literasi Keluarga ala B. J. Habibie, Mungkinkah?

Ilustrasi Buku - Reuters
23 September 2019 05:17 WIB Naning Pratiwi Aspirasi Share :

Indonesia dirundung duka saat Presiden ketiga Republik Indonesia, Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, wafat pada 11 September 2019 yang lalu di usia 83 tahun. Seiring dengan adanya kabar duka, masyarakat Indonesia ramai menyampaikan belasungkawa di berbagai sosial media. Kontribusi dan kisah keteladanan bapak bangsa inipun kembali menyeruak di media, salah satunya kecintaanya pada buku.

Kebiasaan B.J Habibie membaca buku sudah tumbuh sejak kecil. Dikisahkan dalam buku biografinya, Rudi: Kisah Masa Muda Sang Visioner yang ditulis oleh Gina S.Noer pada 2015 silam, Habibie kecil adalah sosok jenius yang memiliki rasa ingin tahu tinggi. Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya hingga ia hanya tidur empat jam setiap harinya sedangkan 20 jam sisanya digunakan untuk bereksplorasi dan bertanya-tanya akan fenomena lingkungan sekitarnya.

Rasa ingin tahunya ini salah satunya disalurkan lewat rentetan pertanyaan kepada orang tuanya. Dikutip dari laman Sahabat Keluarga Kemendikbud terbitan 2017, Habibie pernah menayakan kegiatan ayahnya yang merupakan landbouwconsulent atau kepala dinas pertanian pada masanya. Saat itu, Habibie menanyakan percobaan penyetekan tanaman mangga yang dilakukan ayahnya.

Alih-alih meremehkan pertanyaan sang anak, ayah Habibie, Alwi Abdul Jalil Habibie, menjawab pertanyaan anaknya dengan serius namun sederhana. Disampaikanya eksperimenya ini dalam dunia ilmiah bernama penyetekan yang bertujuan untuk menghasilkan varian mangga yang lebih manis sehingga Habibie kecil dan teman-temanya dapat menikmati mangga yang lezat.

Rasa puas akan jawaban sang ayah menumbuhkan rasa ingin tahu Habibie tentang berbagai hal lainya sehingga ayahnya menuntun Habibie untuk menemukan jawaban atas keingintahuanya melalui buku. Kecintaan Habibie pada buku ini mengakar hingga akhir hayatnya. Hal ini tidak hanya tergambar dari rumahnya yang memiliki perpustakaan pribadi, tetapi juga tercermin dari pola pikir kritis dan sikap santunya dalam berkomunikasi.

Literasi Era Modern
Seiring perkembangan teknologi dan Internet, akses terhadap berbagai informasi semakin terbuka. Hal ini didukung dengan adanya modernisasi dalam industri perbukuan, baik melalui E-book maupun perpustakaan daring. Maraknya sosial media juga semakin memudahkan akses masyarakat terhadap informasi di berbagai belahan dunia. Bahkan media massa pun telah berevolusi menjadi portal media daring.
Akan tetapi, kemudahan memperoleh informasi tersebut tidak sebanding dengan kondisi literasi di Indonesia. Hasil riset Central Conneticut State University menempatkan Indonesia di urutan 61 dari 60 negara di dunia dalam perengkingan World’s  Most Literate Nation. Sementara itu, Peringkat Indonesia dalam laporan tiga tahunan Program for International Student Assesment (PISA) pada 2015 menempatkan Indonesia di urutan 62 dari 69 negara dalam bidang sains, matematika dan membaca.

Hasil perangkingan terpercaya tingkat dunia tersebut secara gamblang menunjukan rendahnya literasi di Indonesia. Hal ini secara tidak langsung menimbulkan permasalahan serius bagi Indonesia, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Peringkat Indonesia yang jeblok di perengkingan PISA dalam bidang sains, matematika dan membaca menjadi tolak ukur kegagalan akademis Indonesia. Terlebih lagi, maraknya hoax tentu menjadi keprihatinan dari minimnya minat literasi masyarakat Indonesia.

Fakta diatas menjadi gambaran nyata bahwa tantangan literasi di era modern ini lebih kompleks dari satu dekade lalu. Indonesia tidak hanya dihadapkan pada minimnya akses buku dan tingginya buta aksara, tetapi lebih dari itu digital literasi dan minat baca turut menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi Indonesia.

Kesuksesan Literasi
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dalam meningkatkan literasi di Indonesia, mulai dari penyaluran buku ke pelosok daerah, pengadaan perpustakaan keliling, hingga penggalakan program literasi nasional. Tentu upaya pemerintah tersebut patut diapresiasi setinggi-tingginya. Akan tetapi, pemerintah tidak dapat berjalan sendirian dalam upayanya meningkatkan literasi di Indonesia. Keterlibatan keluarga dalam literasi kelurga menjadi poin penting dalam keberhasilan literasi.

Berkaca dari literasi keluarga yang di terapkan keluarga Habibie, dapat dipahami bahwa literasi bukan hanya sekedar kegiatan membaca buku. Lebih dari itu, literasi merupakan proses mental yang memunculkan rasa senang dan rasa ingin tahu. Peran keluarga menjadi vital karena kelurga tidak hanya sekedar menjadi penyedia buku bacaan atau alaram baca bagi anak-anak, tetapi lebih jauh lagi keluarga harus turut akif menjadi penumbuh dan penyemai minat baca anak bahkan sejak usia dini.

Pada hakikatnya pondasi keberhasilan literasi keluarga adalah keluarga itu sendiri. Kebiasaan orang tua dalam membaca buku setiap harinya secara tidak langsung menjadi percontohan awal bagi anak untuk mencintai buku. Selain itu, melibatkan buku dalam menjawab rasa ingin tahu anak menjadi upaya mendekatkan anak pada buku. Oleh karenanya membaca buku tidak hanya dipahami sebagai hobi belaka, tetapi buku dijadikan sebagai jawaban dari pertanyaan dan permasalahan.

Lebih lanjut lagi, peran orang tua dalam literasi keluarga bukan hanya sebagai pendamping pasif bagi anak. Akan tetapi orang tua harus mampu menjadi penyambung lidah dari buku dan informasi yang dibaca anak. Kemampuan keluarga Habibie dalam menerjemahkan makna informasi secara sederhana dan kontekstual sesuai tahap perkembangan anak patut menjadi percontohan yang positif. Peran orang tua dalam hal ini tidak pada posisi menggurui, tetapi orang tua adalah rekan diskusi yang menyenangkan bagi anak.

Apabila keluarga mampu menciptakan literasi keluarga yang kritis dan menyenangkan, Bukan hanya peringkat literasi Indonesia yang meningkat. Namun, lebih dari itu keberhasilan ini dapat menumbuhkan pola pikir kritis dan kreatif serta mampu melindungi anak dari paparan hoaks di era digital. Bahkan kedepanya bukan tidak mungkin literasi dapat melahirkan Habibie baru penerus bangsa, Karena literasi adalah salah satu investasi terbaik bagi negeri.

*Penulis merupakan guru SDN Lempuyangwangi Jogja/pemerhati pendidikan anak