OPINI: Pendidikan Karakter Atasi Perundungan

Ilustrasi. - Espos/M. Ferri Setiawan
09 Oktober 2019 06:02 WIB Firyalina Yulma Annisa Suara Mahasiswa Share :

Pendidikan pada dasarnya adalah proses yang dilakukan untuk membantu manusia dalam meningkatkan kecerdasan dan mendorong manusia untuk menjadi yang lebih baik lagi. Namun, pendidikan di Indonesia saat ini banyak sekali diwarnai oleh tindak-tindak kekerasan. Tentunya, masyarakat sudah tidak asing lagi dengan perundungan.

Perundungan adalah perilaku seseorang atau sekelompok orang yang dilakukan terus menerus terhadap seseorang atau kelompok yang lebih lemah untuk menyakiti secara fisik, verbal, ataupun psikis. Dalam beberapa kasus di Indonesia, perundung tidak memandang usia ataupun jenis kelamin. Bahkan, perundungan ini banyak sekali dilakukan oleh anak-anak pada usia sekolah.

Ada sebab mengapa peserta didik merundung teman mereka sendiri. Hal ini kebanyakan disebabkan keinginan peserta didik dalam menunjukkan siapa dirinya. Dengan merasa dirinya kuat, maka pelaku bully akan dengan mudah melakukan tindakan fisik, verbal, ataupun psikis terhadap teman-temannya yang lebih lemah.

Tindakan perundungan itu pasti menimbulkan trauma terhadap korban berupa rasa cemas, rasa takut, sehingga enggan untuk pergi ke sekolah. Bahkan seperti kejadian pada September lalu ketika tindakan perundungan yang dilakukan sampai menewaskan seorang anak sekolah dasar. Hal ini menjadi keprihatinan dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Di tengah maraknya tindakan perundungan, penanaman pendidikan karakter bisa diterapkan untuk mengatasi tindakan perundungan. Pendidikan karakter menjadi bahan utama dalam kurikulum pendidikan saat ini. Pendidikan karakter merupakan sebuah cara yang dilakukan oleh pendidik untuk mempengaruhi sikap, pola pikir peserta didik sehingga menjadi yang lebih baik lagi. Dengan pendidikan karakter diharapkan mampu membentuk dan membangun kepribadian peserta didik yang positif dan bertanggung jawab serta mampu mengatasi perilaku menyimpang.

Pendidikan karakter dapat dilakukan guru sebagai pendidik di sekolah ataupun oleh orang tua peserta didik. Penanaman pendidikan karakter yang diterapkan mulai dari dasar yaitu dengan bantuan orang tua. Yang dapat dilakukan orang tua untuk membentuk karakter peserta didik adalah dengan memberikan contoh yang baik kepada peserta didik. Dari hal kecil itu, peserta didik diharapkan mampu untuk menirukan hal positif yang telah dicontohkan oleh orang tua peserta didik.

Pendidik
Selain dilakukan orang tua, pendidikan karakter ini akan berbuah baik apabila dilakukan dengan bantuan guru. Guru sebagai pendidik di sekolah dapat menanamkan pendidikan karakter dengan memberikan pengertian mengenai perdamaian.

Guru bisa memberikan gambaran-gambaran mengenai indahnya perdamaian sehingga membuat peserta didik menjadi enggan dalam merusak kedamaian itu. Selain itu, guru juga dapat meningkatkan kualitas komunikasi antar peserta didik maupun dengan guru itu sendiri. Hal ini dilakukan agar setiap permasalahan yang sedang terjadi, bisa teratasi dan peserta didik tidak mengambil tindakan untuk main hakim sendiri.

Upaya lain yang dilakukan untuk penanaman pendidikan karakter dengan cara penerapan budaya saling memaafkan dan meminta maaf. Apabila budaya itu telah sering dilakukan, maka setiap kesalahan, tidak akan sampai menimbulkan dampak besar yang bisa saja terjadi. Namun, yang terpenting dilakukan oleh guru dalam mengatasi perundungan adalah dengan menguasai emosi peserta didik.

Karena setelah mampu menguasai emosi peserta didik, guru bisa dengan mudah untuk memasukkan segala informasi positif mengenai pendidikan, perdamaian dan sikap-sikap positif lainnya sehingga infomasi itu akan menetap dalam diri peserta dan bisa memberikan dampak positif untuk pribadi peserta didik ke depannya.

Untuk itu dengan upaya-upaya di atas, guru sebagai pendidik di sekolah dan orang tua diharapkan mampu berkolaborasi dalam membentuk karakter peserta didik melalui penanaman pendidikan karakter. Dengan penanaman pendidikan karakter itu diharapkan dapat mengubah pola perilaku, sikap, peserta didik menjadi lebih baik dan tidak akan ada lagi tindakan perundungan antar peserta didik di sekolah.

*Penulis merupakan mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta