OPINI: Sulitnya Mengubah Wajah Negeri

Muhammad Isnaini
28 Oktober 2019 22:12 WIB Muhammad Isnaini Aspirasi Share :

Drama istana atau tepatnya Drama Jokowi mungkin baru selesai sepersekian babak. Setelah 12 Wakil Menteri ditetapkan. Drama atau tepatnya Ontran-Ontran sungguh menggerus psikologis rakyat. Sejak pertarungan Kontestasi Pilpres 2019 berlanjut ke Gugatan Hasil Pilpres di MK, berlanjut ke intrik menjelang Pelantikan Jokowi – Kyai Ma’ruf Amin, berlanjut ke beauty contest pemilihan menteri sampai gong-nya, suara-suara anomali tokoh-tokoh organ relawan yang merasa ditinggalkan hingga “marah” karena keringatnya tidak dihargai Jokowi. Drama Jokowi sepersekian babak ini, mudah-mudahan tidak berlanjut setelah 12 Wamen ditetapkan Presiden Jokowi. Namun tampaknya bakal masih hangat karena belum apa-apa, Menteri BUMN yang baru sudah dilaporkan ke polisi menyangkut keikutsertaan salah satu cabang olah raga dalam Sea Games.

Yang serba berlanjut itu termasuk cara duduk Presiden Jokowi saat mengumumkan Kabinet Indonesia Maju. Jadi ramai sekali di medsos sampai dianalisa Pakar Yoga. Sementara yang punya cara bersilang kaki, malahan santai-santai saja. Yang ini berlanjut tetapi sangat menghibur dibandingkan semua yang berawal sejak Kontestasi Pilpres 2019 sampai penetapaan 12 Wamen.

Seorang Buya yang dengan celana tembelan kecil di masjid belakang kediaman beliau, selalu mengingatkan bahwa kita tidak boleh lelah untuk kebaikan. Buya yang saat itu ditemui empat orang “anaknya” sepuluh hari sebelum Pelantikan Presiden-Wakil Presiden, sangat memahami situasi amat sulit bagi Jokowi. Dan Buya sudah memperkirakan bahwa situasi itu akan berlanjut hingga penyusunan kabinet.

“Tetapi kita tidak boleh berhenti. Saya tahu…susah…susah sekali Jokowi ini. Tapi…tapi nanti…nanti…Insyaallah ada jalan...nanti ada jalan, Insyaallah. Saya sebetulnya juga sangat lelah sekali. Tapi kata orang, saya tidak boleh lelah. Kita tidak boleh lelah untuk sesuatu yang baik. Untuk bangsa ini,” ujar Buya.

 

Merasa Paling

Sebuah ironi menyentak nurani sebagai anak bangsa yang “waras”. Melihat sebuah drama elit yang tidak memberikan signifikansi edukasi politik bermanfaat. Tapi lebih menggambarkan hegemoni ego dan kepentingan sesaat. Padahal, jauh di alam pikiran Jokowi ketika memegang kendali negeri, hanya ingin membawa bangsa ini memiliki martabat dan harga diri karena kesejahteraan di semua lini dirasakan seluruh lapisan rakyat

“Semua merasa paling ! Paling berjuang, paling berkeringat. Lantas  hanya menuntut posisi dan jabatan. Kondisi yang sangat menyedihkan ! Lebih tepat, mengenaskan bagi rakyat. Pertaruhan sangat besar bagi bangsa ini karena bahaya mengerikan terus merayap di sendi kehidupan paling bawah. Tetapi di atas hanya rebutan jatah menteri. Saya tidak percaya bahwa orang-orang seperti ini yang kemudian jadi elit di negeri ini, akan utuh melihat Pasal 33 UUD 45. Kalau sudah begini, sesungguhnya rakyat itu survive karena dirinya sendiri. Tidak ada sama sekali campur tangan negara,” ungkap seorang Aktivis 98.

Seringkali kita tidak sadar bahwa Merah Putih sewaktu-waktu bisa robek. Bukan hanya jadi dua tapi bisa jadi banyak. Kalau kemudian Drama Jokowi terus berlanjut. Satu hal sederhana yang semestinya sudah tidak waktunya lagi jadi buih keributan tiada ujung. Soal bahwa salah satu menteri yang ditunjuk bukan asli satu daerah, ributnya seperti mau kiamat. Lantas menyebar menjadi info tidak berdasar melalui jaringan whatsapp. Ucapan yang kemudian disebarkan lewat WA karena kekesalan, kekecewaan dan luapan emosi, tidak disadari akan mendatangkan air bah reaksi yang amat destruktif. Bukan berhenti pada rusaknya materi, fisik atau sarana dan prasarana publik semata. Tetapi merusak moral, mental dan karakter Anak Bangsa. Lihat saja yang terjadi dengan kemarahan orang Papua karena Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya di geruduk gara-gara info hoax berantai di WA. Akibatnya sungguh sangat di luar nalar. Kerusuhan pecah begitu saja di beberapa daerah Papua Barat dan Papua sebagai dampak ikutan letupan di Surabaya.

“Ini seperti api dalam sekam. Mudah sekali muncul tindakan spontan yang merusak tanpa memikirkan akibatnya. Bangsa ini sedang sakit parah karena intoleransi. Bukan hanya di bidang agama tapi sudah masuk ke banyak hal. Ini sangat berbahaya ! Harus dihentikan dengan tindakan penegakan hukum sangat tegas ! Jangan lagi ada ketakutan terhadap kekuatan ormas tertentu. Saya jadi ingat apa yang pernah diucapkan oleh Almarhum KH Hasyim Muzadi, dalam kesempatan acara ILC TVOne beberapa waktu silam. Bahwa kalau sudah pengrusakan dianggap bagian dari ibadah. Kemudian Negara dianggap menindas ulama dan akibatnya agama menjadi memberontak kepada negara, maka akan bubar semua ! Tidak ada jalan lain kecuali harus ada tindakan sistematis dari hulunya. Mulai pendidikan, kalau tidak mempan, hukum turun tangan dan kalau masih mental juga, baru represif. Kalau saya, kalau perlu tiru Korea Utara agar negara ini tidak wasallam. Sudah keterlaluan semuanya !” ungkap Kyai Joko Parwoto, Pengasuh Pondok Pesantren I’jazul Qur’an di Sawit, Boyolali, Jawa Tengah.

 

Rumah Kosong

Ontran-Ontran yang membawa ketidaksadaran bahwa betapa susahnya mengurus Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahwa negeri kita dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa, tidak terbantahkan. Bahwa setiap pulau dan laut mampu menjadikan Indonesia akan Baldatun Toyyibatun Wa Robbun Ghofur, sangat bisa.

“Saya itu terbang dari Aceh langsung ke Papua, 9 jam. Kalau saya terbang di Eropa 9 jam, itu saya sudah melewati 7 atau 9 negara. Artinya apa…negara kita itu buuuueeesaaarrr sekali ! Kalau ada riak-riak masalah, itu ya wajar saja. Di Aceh panen, tapi di Maluku banjir. Di Banjarmasin hujan tapi di NTT kekeringan belum di wilayah lain gempa. Ya itu semua fakta demografi negara kita ini. Kita harus mampu melihat situasi ini sebagai konsekuensi negara kita yang negara kepulauan. Karena memang keragaman kita juga besar sekali. Kecuali kalau negara kita itu seperti Australia. Meskipun sangat besar tapi dalam satu hamparan daratan. Tidak terpisah luatan. Nah kalau itu, akan beda situasinya. Ini…ini yang perlu kita pahami,” kata Presiden Jokowi di depan 44 Pentholan Organ Relawan di Istana Merdeka beberapa hari sebelum dilantik.

Situasi yang sangat susah sekali seperti dikatakan Buya, memang mesti diatasi Jokowi selaku Kepala Negara, Kepala Pemerintahan dan Presiden. Apa pun resikonya, tetapi bahwa sesuai tekad Presiden Jokowi sehingga ditempelken menjadi nama kabinet yang dibentuk, Indonesa Maju. Persoalan bahwa 2045, bangsa ini baru akan keluar dari situasi under value nations, starting point-nya itu adalah sekarang sampai 5 tahun ke depan di bawah kepemimpinan Jokowi. Bahwa di tangan Presiden Jokowi-lah semua itu akan bermula. Program utama sangat priotritas yakni menciptakan SDM Unggul sungguh harus diwujudkan. Karena itu merupakan langkah besar dan satu-satunya yang dapat memberangus mental-mental pecundang. Mental-mental yang menghitung keringat berjuang dan menagih imbal jasa dalam bentuk jabatan dan kedudukan di elit pemerintahan.

“Susah setengah mati mau merubah wajah negeri ini. Jokowi itu ibarat memasuki rumah yang sudah 50 tahun kosong, tidak dihuni dan ditelantarkan. Mau membersihkan halaman, ularnya keluar. Mau menyapu teras, coro-coronya keluar. Mau mengepel lantai ruuangan dalam rumah, giliran semutnya keluar. Sampai mau membersihkan halaman belakang, tikusnya keluar. Saya sangat setuju Jokowi tegas kepada para pembantunya. Tidak becus ya copot ! Itu lebih baik daripada jabatan dipertaruhkan tetapi resikonya rakyat dan bangsa ini. Tetapi by the way, saya juga setuju bahwa saya pernah membaca tulisan teman saya yang menyebutkan bahwa Tidak Mudah Menjadi Seorang Jokowi,” ungkap Slamet Raharjo, Pemilik Resto dan Hotel Omah Sinten di Kawasan Ngarsopuro, Solo. Yang notabene “kawan lama” Presiden Jokowi di Asmindo Solo Raya.

 

*Penulis adalah Warga Peterongan, Kota Semarang