OPINI: Harapan Untuk Menkes Baru

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto
29 Oktober 2019 05:02 WIB Ari Fahrial Syam Aspirasi Share :

Tugas pemerintahan Presiden Jokowi-Ma’ruf Amin sangat berat ke depan. Sektor kesehatan sangat berperan besar untuk berkontribusi sebagai sumber masalah buat bangsa ini. Oleh karena itu, Menteri Kesehatan harus segera mengidentifikasi dan melakukan langkah-langkah yang konkret dalam beberapa bulan ke depan.

Tugas pemerintahan Presiden Jokowi-Ma’ruf Amin sangat berat ke depan. Sektor kesehatan sangat berperan besar untuk berkontribusi sebagai sumber masalah buat bangsa ini. Oleh karena itu, Menteri Kesehatan harus segera mengidentifikasi dan melakukan langkah-langkah yang konkret dalam beberapa bulan ke depan.

Hal utama yang menjadi perhatian kementerian kesehatan adalah pembiayaan kesehatan, distribusi tenaga kesehatan, penelitian kesehatan inovatif yang bertujuan untuk efisiensi pembiayaan kesehatan serta upaya-upaya pencegahan penyakit.

Saat ini Indonesia sudah memasuki Universal Health Coverage (UHC), di mana sebagian besar masyarakat Indonesia sudah ter-cover pembiayaan kesehatannya. Sistem ini bertujuan memastikan setiap orang memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, tanpa mengalami kesulitan keuangan.

Masalah yang muncul kemudian adalah pembiayaan pasien menjadi meningkat dan sangat menyedot uang negara. Sampai saat ini kita tahu bahwa Asuransi sosial Jaminan Kesehatan Nasional diselenggarakan BPJS Kesehatan. BPJS sudah menjadi harapan sebagian besar rakyat Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga Agustus 2019, asuransi negara ini telah digunakan sebanyak 277,9 juta kali oleh pesertanya.

Di satu sisi, sebagai satu-satunya asuransi kesehatan sosial yang menjadi tulang punggung pembiayaan kesehatan masyarakat, BPJS dari tahun ke tahun selalu mengalami defisit. Diperlukan efisiensi dalam pembiayaan kesehatan karena masalahnya terjadi dari hulu sampai hilir. Salah satu upaya yang dapat dikerjakan adalah menekan pembiayaan kesehatan dengan menggunakan bahan habis pakai produksi dalam negeri.

Riset kesehatan inovatif harus didukung terutama yang dilakukan oleh institusi pendidikan agar bisa menghasilkan produk yang murah untuk dapat digunakan masyarakat kita. Secara nasional harus segera ditingkatkan upaya-upaya kemandirian untuk pembuatan obat, vaksin dan alat kesehatan yang memang dapat di produksi dalam negeri. Beberapa perusahaan farmasi dalam negeri bahkan produknya sudah diterima di negara tetangga. Disatu sisi, pembiayaan BPJS tidak terbatas juga harus dibatasi. Rekomendasi dari penilaian teknologi kesehatan atau health technology assessment harus dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan karena rekomendasi yang diberikan untuk menekan pembiayaan kesehatan.

BPJS terus defisit dan makin lama defisitnya semakin buruk. Berbagai upaya akan dilakukan untuk mengatasi masalah defisit ini, salah satunya menaikkan tarif iuran BPJS.

PRIORITASKAN PENCEGAHAN

Konsep dasar kesehatan adalah mencegah lebih baik dari pada mengobati. Pencegahan meliputi gaya hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan rutin, agar deteksi dini penyakit dapat dilakukan dan untuk pasien yang mempunyai penyakit kronis, penyakitnya dapat terkontrol. Saat bekerja di Puskesmas 27 tahun yang lalu, kami sebagai kepala Puskesmas Kecamatan bertanggung jawab untuk membina Posyandu dengan melibatkan para kader untuk menjaga kesehatan bayi, balita dan ibu hamil. Upaya inipun dilakukan dalam rangka pencegahan penyakit.

Saat inipun, upaya menekan pembiayaan kesehatan yang terbaik adalah dengan melakukan pencegahan khususnya pencegahan penyakit tidak menular. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pembentukan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) Penyakit Tidak Menular. Ke depan keberadaan Posbindu oleh menteri kesehatan yang akan datang dan sosialisasi dan pembentukan Posbindu ini harus dilakukan secara masif.

Melalui Posbindu, upaya pencegahan penyakit dapat dilakukan secara optimal agar jumlah pasien yang sakit bisa diturunkan dan deteksi dini penyakit dapat dilakukan. Semakin dini penyakit dapat ditemukan biaya pendidikan yang akan dikeluarkan juga tidak besar. Apalagi kita tahu penyakit dominan yang cukup menyedot pembiayaan kesehatan adalah penyakit tidak menular dan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Saat ini pasien yang yang dating dengan kanker dating sudah terlambat, semakin datang dalam kondisi lanjut, biaya yang harus dikeluarkan juga semakin besar baik untuk pemeriksaan maupun pengobatan di satu sisi keberhasilan pengobatan pasien dengan kanker stadium lanjut untuk mencapai kesembuhan peluangnya semakin kecil.

Saat ini memang kita harus segera mengejar ketertinggalan kita di bidang kesehatan, antara lain menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, menurunkan angka kesakitan HIV AIDS, Malaria, TBC dan infeksi lainnya. Selain menekan penyakit tidak menular yang kasusnya makin hari makin meningkat.

Kesenjangan pelayanan kesehatan khususnya untuk wilayah Timur harus bisa diminimalisasi. Menteri kesehatan adalah orang yang paling bertanggung jawab agar bangsa ini tidak terpuruk dalam mengatasi berbagai permasalahan kesehatan. Angka kematian anak dan ibu masih tinggi. Begitu juga angka stunting yang juga masih tinggi. Dengan prevalensi penyakit infeksi antara lain HIV dan TBC, kita masih termasuk dalam kelompok negara-negara dengan jumlah kasus yang tertinggi di dunia ini. Bahkan, angka kekebalan terhadap obat TBC juga sudah banyak terjadi. (Multiple Drug Resistence/MDR TB)

Upaya yang harus dilakukan harus sistematis mulai dari pusat dan daerah. Menteri Kesehatan diharapkan segera terjun langsung mengidentifikasi permasalahan kesehatan yang ada dan segera melakukan langkah-langkah strategis. Harapan untuk Indonesia yang lebih sehat selalu ada dan rasanya profesi kedokteran serta institusi pendidikan kedokteran dan kesehatan harus menyambut kedatangan Menkes baru, dan siap mendukung untuk mengejar ketertinggalan kita selama ini dalam hal pembangunan kesehatan.

*Penulis merupakan Guru Besar Universitas Indonesia

Sumber : Bisnis Indonesia