OPINI: Wayang Pembentuk Karakter Anak Bangsa

Suasana pergelaran wayang kulit Gagrag Jogja di Dalem Notoyudan, Kecamatan Gedongtengen, Minggu (27/10/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
05 November 2019 05:02 WIB Catur Kurnia Aspirasi Share :

Krisis moral terus terjadi di negeri ini, terutama terjadi pada generasi yang masih muda terpelajar. Dapat dikatakan krisis moral yang multidimensi dengan cenderung meningkatnya berbagai kekerasan yang dilakukan oleh generasi muda dan masuk ke ranah pelanggaran hukum. Tidak hanya itu, generasi muda saat ini sudah semakin menjauhkan diri dari budayanya sendiri dan lebih menyenangi budaya asing. Salah satunya karya khas bangsa sendiri yaitu wayang. Generasi tua masih mengemarinya, tetapi generasi muda dapat dikatakan tidak mengemarinya. Padahal wayang telah diakui oleh dunia internasional sebagai media pembentuk karakter generasi bangsa. Pemerintah pun telah menetapkan 7 November sebagai Hari Wayang Nasional.

Wayang merupakan seni budaya Indonesia yang kaya akan nilai falsafah kehidupan dalam setiap pertunjukannya. Meskipun waktu terus berganti dan zaman selalu mengalami perubahan, wayang tetap eksis tidak hanya dijadikan sebagai media hiburan tetapi pula dakwah maupun pendidikan serta pembentuk karakter terutama generasi muda saat ini. Kita bisa melihat sendiri dari tokoh-tokoh wayang yang ditampilkan ataupun yang diceritakan serta cerita yang dijalankan terdapat nilai-nilai kebaikan di dalamnya, namun ada pula perilaku keburukan. Ada ketidakadilan ataupun kesewenang-wenangan tetapi ada pula keadilan yang ditegakkan ataupun kesewenang – wenangan tersebut dihapuskan.

Melalui penokohan tokoh-tokoh wayang yang ada yang ada memiliki berbagai kepribadian, ada yang tamak dan mudah emosi tetapi ada pula yang selalu berbagi kepada sesamanya dan bijaksana. Seperti contoh cerita Sri Rama dan Arjuna. Kedua wayang tersebut selalu diceritakan dan mengedepankan sebuah kebenaran dan keadilan, bertutur kata halus diimbangi dengan tingkah laku yang tertata dengan baik. Tidak salah bila ada yang mengartikan bahwa wayang sebagai sebuah gambaran perwatakan/karakter manusia yang dapat diartikan pula sebagai gambaran kehidupan manusia.

Hanya saja saat ini patut disayangkan generasi penerus justru terbawa arus akibat perubahan zaman yang terus berkembang. Mereka lebih bergaya dan bertingkah laku tidak sesuai dengan budaya Indonesia karena belum mampu mampu menyaring budaya asing yang kurang sesuai tersebut. Kaitannya dengan wayang, generasi penerus lebih menganggap wayang hanya sebagai seni pajang bahkan dianggap sudah tidak trend karena sejak awal tidak suka terhadap wayang apalagi pertunjukannya. Padahal jika generasi penerus mau mengenal, menghayati maupun mempelajarinya generasi dapat lebih berkarakter bahkan sebagai pedoman bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari dari cerita wayang yang ditontonnya tersebut.

Saat ini bukan waktunya kita menyalahkan generasi penerus mengapa mereka tidak menyukai wayang bahkan enggan melihat pertunjukan wayang. Bukan berarti pula terlambat untuk mengenalkan wayang (disertai wataknya) dan ceritanya kepada generasi penerus. Jika orangtua dapat menyadari wayang lewat pertunjukannya dapat dijadikan sebagai media tambahan pembentukan karakter anak, tentunya orangtua dapat lebih terbantu untuk menanamkan nilai-nilai pekerti tersebut.

Tinggal bagaimana upaya orang tua menanamkan kecintaan kepada wayang dan karakternya kepada anak beserta nilai pembelajaran yang bisa didapat dari pertunjukan wayang tersebut. Cara yang paling efektif yaitu dengan bercerita dan mengenalkannya melalui bahasa sesuai usia dimana wayang tersebut dikenalkan. Baik melalui buku cerita pewayangan ataupun melalui pengenalan tokoh wayang secara langsung.

Misalkan anak usia TK dan SD dikenalkan tokoh yan paling sederhana seperti tokoh pandawa dengan tokoh-tokohnya yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Disandingkan dengan tokoh punakawan yang lucu sesuai karakternya. Dua kelompok wayang tersebut sudah bisa digunakan untuk mengenalkan kejujuran, kebaikan serta bagaimana perilaku dan bertingkah laku yang baik. Ketika anak sudah bisa berpikir lebih kritis (usia SMP dan SMA), anak dikenalkan lebih banyak tokoh-tokoh wayang yang ada beserta karakter di dalamnya.

Baik dari cerita Mahabarata maupun cerita Ramawijaya. Dari tokoh-tokoh yang ada tersebut, generasi penerus akan lebih banyak mengenal dan mendapatkan nilai-nilai karakter yang ada bagi kehidupannya. Mengajak melihat pertunjukan wayang dapat pula dilakukan orangtua, kemudian orangtua menerangkan karakter tokoh wayang yang ada dengan bahasa sesuai usia anak.

Jangan sampai wayang dengan nilai-nilai kehidupan yang khas di dalamnya dan sangat berguna bagi generasi penerus hanya sekedar cerita dan semakin ditinggalkan oleh penerusnya. Mengenalkan kembali wayang menjadikan generasi penerus akan kembali mencintai budayanya sendiri dan mampu menjaganya agar warisan budaya tersebut tidak punah meskipun perubahan zaman terus terjadi. Secara tidak langsung pula generasi penerus telah mendapatkan pembelajaran karakter sebagai tuntunan bagi kehidupannya.

*Penulis merupakan konselor Anak dan Remaja Sahaja Kota Jogja