OPINI: Kabinet Baru dan Inovasi Frugal

Presiden Joko Widodo didampingi Wapres Ma'ruf Amin berfoto bersama jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju yang baru dilantik di tangga beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10/2019). - Antara
06 November 2019 05:02 WIB Solikin M. Juhro Aspirasi Share :

Sumber daya modal terbatas, konteks ekonomi global tidak kondusif, sementara Presiden bervisi besar tentang pembangunan. Masalah itu menjadi kian kompleks karena dunia hari ini berputar jauh lebih cepat, sehingga keputusan hari ini sudah kuno dalam beberapa tahun atau bahkan beberapa bulan mendatang. Itulah tantangan yang dihadapi oleh hampir seluruh pengelola negeri ini, tak terkecuali dan terutama kabinet yang baru dibentuk dan dilantik.

Mari kita lihat sisi anggaran pemerintah. Meski dengan tren meningkat, dalam 4 tahun terakhir penerimaan pajak sebagai tulang punggung anggaran, selalu berada di bawah target. Dari 2015 sampai 2018 realisasi penerimaan pajak selalu di bawah target, sehingga pemerintah harus menambal anggaran dengan utang. Dalam kurun waktu itu penerbitan Surat Berharga Negara selalu berada di kisaran Rp300 triliun per tahun.

Di luar ruang anggaran yang sempit, kita juga menghadapi tantangan global yang tidak mudah. Perang dagang China–AS berimbas buruk pada perekonomian global, termasuk lesunya ekspor dari Indonesia. Belum lagi munculnya sejumlah anomali global, seperti sulitnya menciptakan pertumbuhan, terutama di negara maju, bahkan ketika mereka menerapkan suku bunga negatif.

Kondisi makro di dalam negeri sejauh ini masih baik. Pertumbuhan stabil di angka 5% plus, sementara inflasi juga terkendali di sekitar 3%. Namun kita ingin naik kelas, dari posisi pendapatan menengah bawah (lower-middle income) saat ini. Artinya pertumbuhan 5% saja tak cukup.

Sejalan dengan tulisan saya sebelumnya di harian ini, mengenai sumber ekonomi baru berbasis inovasi, jika Indonesia ingin tumbuh, katakan saja 7%, kita tak bisa memakai cara yang biasa. Harus dicari berbagai hal baru, mulai dari kebijakan baru sampai dengan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru. Artinya, harus ada inovasi menyeluruh, di berbagai bidang, di berbagai lapisan. Tantangannya, bagaimana melakukan inovasi di tengah berbagai keterbatasan tersebut?

Masyarakat India punya satu istilah kebanggaan, yakni jugaad. Istilah dalam bahasa Hindi itu kurang lebih berarti seni mengatasi hambatan, rintangan, atau persoalan dengan melakukan improvisasi teknis menggunakan sumber daya terbatas yang tersedia di sekitar. Lalu muncul berbagai ‘inovasi kerakyatan’ semisal mentransformasi sepeda motor tua menjadi ‘mobil’ untuk mengangkut 8 orang; menggunakan mesin sepeda motor untuk memompa air untuk irigasi; menggunakan mobil tua untuk membajak lahan; memanfaatkan gir dan pedal sepeda tua untuk menggerakkan mesin cuci, dan lainnya.

Tradisi jugaad tumbuh dari kenyataan bahwa sebagian (cukup besar) masyarakat hidup dalam kemiskinan absolut dengan seluruh ciri dan efeknya. Tidak memiliki akses terhadap modal dan perbankan. Efeknya, tidak memiliki akses memadai terhadap pendidikan dan kesehatan.

Situasi serba minus itulah, yang mana ini juga banyak ditemui di negara-negara berkembang, yang memunculkan kreativitas dan semangat inovasi yang murah meriah (frugal). Semangat seperti ini menjadi semangat bersama. Tak mau menyerah terhadap persoalan yang mereka hadapi. Mereka seperti punya semangat atau etos bersama bahwa hidup yang susah harus disiasati agar menjadi lebih mudah.

Inovasi frugal (frugal innovation) seperti itu sebenarnya juga hidup di Indonesia, terutama di antara masyarakat yang masih harus membanting tulang untuk hidup. Di daerah perdesaan Indonesia banyak inovasi di sektor pertanian seperti membuat mesin pipil jagung, pemeras kelapa, pencacah rumput atau pemecah cangkang mede.

Kita perlu belajar dari prinsip jugaad, terutama di sisi kulturnya. Di India frugal innovation pada akhirnya bukan semata sarana survival tetapi menjadi budaya yang menyeluruh. Semangat jugaad itulah yang melatari Tata Motor untuk membuat mobil murah meriah, atau Bajaj yang membuat ‘mobil roda tiga’ dengan mesin skuter atau Selco yang menyediakan energi surya secara murah, atau dr. Mohan yang melayani pasien diabetes dari berbagai pelosok dengan metode semacam conference call.

Itu sebabnya sekitar tujuh tahun terakhir jugaad dan frugal innovation menjadi bahan diskusi seru di kalangan para praktisi dan pengajar manajemen dan kepemimpinan, terutama ketika banyak negara maju mengalami perlambatan pertumbuhan, sementara India dan China memiliki tingkat pertumbuhan yang kokoh. Ternyata salah satu kunci bagi keduanya adalah frugal innovation.

Semangat frugal innovation di China melalui zizhu chuangxin berkobar karena dukungan pemerintah. Di India semangat itu berkobar karena memang sudah menjadi budaya bangsa. Inovasi frugal dijagokan untuk tampil sebagai sarana unggulan dalam menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru dan mendorong pembangunan berkelanjutan, karena beberapa karakteristiknya.

Pertama, ini bukan inovasi yang menuntut banyak syarat. Para inovator frugal menantang diri dengan pertanyaan apa yang bisa dilakukan dengan segala keterbatasan ini. Mereka tunduk pada prinsip inovasi, don’t reinvent the wheel. Drone murah buatan China sejatinya ‘hanya’ menggabungkan sejumlah teknologi yang sudah tersedia di pasar.

Kedua, inovasi frugal tidak harus muncul dari model riset yang linier tetapi dari fleksibilitas sang inovator dalam interaksinya dengan persoalan riil yang hendak diselesaikan. Bajaj dan Go-Jek misalnya, muncul lebih karena interaksi dengan persoalan ketimbang karena riset laboratorium. Bahkan, beberapa pemimpin daerah di Indonesia juga telah mewujudkan karya-karya ‘sederhana’ yang tergolong inovasi frugal. Ketiga, inovasi frugal selalu berpikir inklusif. Di luar cerita soal Bajaj dan Selco di atas, ada inovator jugaad yang membuat inkubator bayi portabel, terbuat dari kain dan plastik, sehingga jauh lebih murah.

Kembali pada konteks, dengan potensi SDM usia produktif yang melimpah (demographic bonus) serta semangat kewirausahaan yang cukup berkembang, terlalu riskan bila dalam bekerja para pemimpin selalu dan hanya bersandar pada anggaran. Kita tidak akan kemana-mana. Kita harus mulai membiasakan diri untuk berbuat lebih di tengah keterbatasan, doing more with less.

Dasar berpikirnya harus membuat Indonesia menjadi jauh lebih baik dengan sumber daya yang ada, dengan memperhitungkan seluruh penumpang secara inklusif dalam gerbong Indonesia. Itulah mindset dan inovasi frugal untuk naik kelas dan memperkokoh fondasi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

* Penulis merupakan Kepala Bank Indonesia Institute, Bank Indonesia  

Sumber : Bisnis Indonesia