OPINI: Generasi Milenial, Si Penggubah Suasana Baru Bisnis

Ilustrasi generasi milenial. - techcrunch.com
28 November 2019 05:07 WIB Agnes Gracia Quita Aspirasi Share :

Terlepas dari pro dan kontra mengenai prinsip, pemahaman dan kebiasaan-kebiasaan milenial, tidak dapat dipungkiri generasi ini memang menjadi penggubah pola baru dalam berbagai sisi kehidupan. Jika menilik kembali perubahaan suasana kerja, kemunculan Bisnis Daring (Dalam jaringan/online) dan Uang Elektronik (E-Money) tidak terlepas dari fenomena generasi milenial memasuki usia kerja atau dunia industri.

Alasan utama bisnis daring dan uang elektronik mulai menjamur dimana-mana adalah permintaan pasar milenial yang semakin tidak terlepaskan kesehariannya dari platform daring. Pada kemunculan internet, milenial menggunakan media daring untuk bersenang-senang seperti permainan daring dan media sosial. Namun, saat ini milenial yang usianya memasuki angka produktif menggeser peran platform daring tersebut menjadi lebih krusial dalam industri.

Generasi Milenial akan memasuki era kejayaannya dan mulai menduduki peran dalam bisnis. Generasi ini menjadi tonggak utama ekonomi. Saat ini milenial berperan sebagai angkatan kerja produkif (dengan populasi terbesar) di berbagai lini industri. Dengan kemampuan melakukan tugas ganda dan kreatif, milenial bergerak cepat menggubah tren baru dalam bisnis. Namun, dibalik gubahan milenial dalam bisnis, milenial juga memiliki beberapa karakteristik yang membuat generasi ini berbeda dari generasi pendahulu.

Ketika bekerja, milenial sangat memedulikan aspek-aspek mengenai bagaimana mereka akan mendapat jam istirahat, durasi rekreasi, waktu keluarga dalam setahun, dan stress kerja. Aspek di atas sangat dipertimbangkan oleh generasi milenial sebelum mereka memutuskan untuk masuk ataupun melanjutkan karir mereka. Kondisi ini menunjukan harapan milenial terhadap kondisi lingkungan kerja yaitu keterdukungannya nilai-nilai fleksibilitas dan keseimbangan.

Perusahaan pun mulai menggeser beberapa regulasi untuk menciptakan atmosfir yang mendukung. Perusahaan-perusahaan mulai memahami pentingnya menciptakan atmosfir kerja yang sesuai dengan ekspektasi milenial, sehingga mulai dari desain fisik kantor sampai proses relasional dalam proses bekerja diadaptasikan dengan kebutuhan generasi ini. Hal ini juga ditunjukan melalui perkembangan bisnis co-working space yang sangat melesat yang menggambarkan perubahaan pola dalam organisasi yang mulai mencoba menjawab harapan generasi milenial.

Faktor lainnya yang menunjukan milenial punya pola kerja yang berbeda dengan generasi sebelumnya adalah faktor pemotivasi milenial dalam bekerja tidak lagi melulu mengenai kompensasi dalam bentuk finansial, melainkan juga nilai tambah pada taraf kehidupan sosial mereka. Milenial dalam memutuskan bekerja atau berkarir dalam suatu industri akan sangat mempertimbangkan feedback dan keuntungan dari perspektif sosial. Pertanyaan seperti apakah mereka mendapatkan kesempatan untuk membangun relasi dengan pihak-pihak penting, apakah mereka bisa mengikuti program yang membuat dirinya dipandang dalam masyarakat dan pertimbangan lainnya yang berhubungan dengan taraf kehidupan sosial, menjadi penting.

Milenial juga mengharapkan pengembangan diri dan keseimbangan dalam karier dan pekerjaannya. Generasi ini tidak lagi berfokus hanya pada kinerja untuk organisasi, namun lebih mengutamakan bagaimana pekerjaan ini membantu dirinya untuk progresif berubah menuju kearah yang lebih baik. Walaupun perusahaan tempat mereka bekerja adalah perusahaan yang sangat terkenal dan bergaji besar, kalau saja dalam karir dengan organisasi tersebut tidak mendukung dirinya untuk terus mengembangkan kompetensi personal, maka milenial tidak segan-segan untuk meninggalkan perusahaan tersebut.

Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa pekerjaan yang lebih cocok dengan harapan milenial mengenai fleksibilitas adalah bisnis daring. Mengapa bisnis daring? Bisnis daring memberikan kesempatan kepada milenial untuk memiliki kebebasan dalam menentukan jam kerja, waktu kerja dan dengan suasana yang lebih santai. Dari segi kewirausahaan, pemahaman terhadap teknologi membuat milenial memilih memanfaatkan teknologi tersebut untuk mendukung kemudahan dalam kesehariannya termasuk untuk membangun bisnis. Hal ini sebenarnya tidak mengherankan mengingat generasi ini juga merupakan generasi melek teknologi lebih dini dibandingkan generasi sebelumnya. Pilihan untuk membuka toko daring dan berjualan secara daring melalui media sosial juga menjadi opsi yang sering digunakan oleh milenial.

Ternyata perbedaan prinsip ini tidak hanya berkaitan dengan proses menentukan karir, melainkan juga ketika melakukan aktivitas konsumsi. Sebagai angkatan kerja dengan populasi terbesar secara bersamaan generasi ini juga menjadi populasi pasar dengan daya beli terbesar. Dari segi preferensi konsumsi, milenial menuntut produk dan jasa yang digunakan memiliki nilai-nilai fleksibilitas, instant dan sesuai dengan prinsip-prinsip yang mereka anut.

Prinsip mengenai keberlanjutan dalam isu lingkungan, isu kesetaraan hak dan lain-lain juga menjadi kategori yang dipertimbangkan milenial dalam konsumsi. Misalnya, kebangkitan bisnis daring mengenai layanan sehari-hari dikarenakan milenial mengharapkan kemudahan dalam aktivitas kesehariannya. Ojek online, jasa travel online, bahkan kursus online menjadi pilihan milenial dalam kesehariannya. Tidak hanya itu milenial akan menghargai jika layanan daring tersebut ternyata perduli dengan isu-isu sosial yang mereka anggap penting. Milenial memang bukan hanya sekedar mengkonsumsi tapi juga dampak secara holistik.

Dalam aktifitas konsumsi ini pula, riset AIMIA (2012) menemukan bahwa lebih dari setengah milenial memiliki kebiasaan riset harga sebelum berbelanja. Riset harga menunjukkan bahwa milenial lebih rasional dalam menghadapi merek dagang. Aksesbilitas informasi yang semakin gampang oleh karena internet juga mempermudah milenial dalam menemukan testimoni, ulasan dan juga opsi merek dagang lain. Di satu sisi milenial sangat menyukai produk dan jasa yang bernilai unik atau sesuai dengan personalitasnya, hal ini sering disebut cool consumption. Dengan keberadaan teknologi yang mendukung, internet menjadi platform yang sangat efektif dan efisien bagi banyak local dan indie produk untuk mencapai pasar potensialnya yaitu milenial. Begitu pula sebaliknya milenial mampu menemukan banyak barang dan jasa local/indie melalui internet.

Berbicara tentang karir, bisnis daring dan konsumsi maka tidak akan terlepas dari uang elektronik. Milenial juga memilih untuk membayar segala sesuatu dalam bentuk uang elektronik. Ada berbagai hal yang menjadi alasannya. Yang pertama adalah kemudahan, kemudian keuntungan (adanya promosi, potongan maupun poin keanggotaan), dan yang terakhir adalah keamanan. Jika generasi pendahulu milenial merasa penggunaan uang elektronik lebih tidak aman karena takut kebobolan sistem, milenial malah merasa penggunaan uang elektronik lebih aman. Kemampuan milenial dalam menggunakan teknologi, seperti melakukan proteksi keamanan akun dan memverifikasi jasa yang reliabel, membuat mereka percaya diri dengan penggunaan uang elektronik.

Selain mengenai lingkungan kerja dan konsumsi, Milenial juga berbeda dari generasi orangtua mereka bahkan untuk hal-hal sederhana. Business insider menyatakan generasi ini lebih memilih memesan makanan online atau cepat saji dibandingkan dengan menyiapkan sendiri. Milenial juga memilih belajar secara online dibanding hadir pada kelas konvensional. Memiliki pemahaman mengenai generasi milenial akan menjadi tantangan untuk sektor bisnis pada dekade ini, bisnis harus cepat bergerak sebelum dekade kedepan akan kembali disibukkan lagi dengan generasi Z dengan segala serba-serbinya.

*Penulis merupakan dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta