OPINI: Milenial & Tren Kepemilikan Rumah

Ilustrasi rumah mewah - Vancouver/realestates.com
29 November 2019 05:07 WIB Ike Noorhayati Hamdan Aspirasi Share :

Masyarakat, khususnya kaum milenial masih merasa kesulitan untuk membeli rumah. Bila tidak segera dilakukan, harga rumah akan terus meninggi sehingga semakin sulit terbeli. Padahal banyak metode pembelian yang menawarkan kemudahan.

Pembelian properti dengan cara mencicil ke bank merupakan metode pembiayaan favorit. Hal ini misalnya, diungkapkan oleh lebih dari sepertiga responden survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H2 2019.

Metode pembayaran favorit kedua adalah cicilan langsung ke pengembang, disusul cicilan ke pengembang, tunai, cicilan ke nonbank, kemudian baru metode pembayaran lainnya.

Menarik untuk dibedah dengan melihat berdasarkan ketegori penghasilan. Dengan mengelompokkan penghasilan per bulan menjadi tiga kategori, yaitu rendah (di bawah Rp 7 juta), menengah (Rp7 juta-Rp15 juta), dan tinggi (di atas Rp15 juta), preferensi terbesar menggunakan cicilan ke bank datang dari kelompok berpenghasilan menengah, yaitu sebanyak 42%.

Adapun kelompok berpenghasilan rendah menempatkan pilihan sama besarnya antara cicil langsung ke bank dan ke pengembang. Secara khusus, terjadi peningkatan minat untuk mencicil langsung ke pengembang, yaitu 34% dibandingkan dengan periode selumnya 29%.

Kelompok bawah bahkan memiliki preferensi paling tinggi untuk membayar secara tunai. Hal ini selaras dengan respons atas pertanyaan lainnya di mana 80% responden lebih memilih bayar uang muka lebih besar daripada cicilannya yang besar. Angka psikologis uang muka yang bersedia dibayarkan adalah Rp10 juta hingga Rp100 juta.

Untuk cicilan, mayoritas responden menyatakan bahwa Rp10 juta adalah ambang atas nilai yang mau mereka bayarkan per bulan. Hal lain yang menarik untuk dicermati adalah peminatan terhadap KPR Syariah yang semakin diminati. Dari survei itu, secara total 48% meminati KPR Syariah dengan peminatan terbesar datang dari kelompok berpenghasilan rendah, yaitu sebesar 59%. Dari sisi usia, kelompok usia muda 39 tahun ke bawah juga yang paling meminati KPR Syariah daripada kelompok usia lainnya.

Adapun untuk bayar uang muka, 65% responden di kelompok berpenghasilan rendah menyampaikan bahwa mereka sebenarnya terkendala uang muka meski uang muka sebenarnya saat ini sudah sedemikian rendah.

Kebijakan Bank Indonesia terbaru memungkinkan uang muka rumah pertama bisa serendah 5%. Namun, tetap saja, pembeli rumah merasa berat. Saat memperoleh bonus sekali pun, kelompok terbanyak adalah mereka yang menyisihkan hanya 10%-25% saja untuk kebutuhan properti. Sisanya? Anda bisa cek sendiri ke mana larinya bonus yang diterima. Nonton konser? Jalan-jalan atau beli gawai terbaru?

Milenial adalah generasi pertama yang bersentuhan secara penuh dengan internet. Generasi ini mengalami keterdedahan sangat tinggi terhadap informasi dunia maya. Prioritas pengelolaan keuangan akan sedikit banyak dipengaruhi oleh informasi yang diperoleh. Jadi, bijaklah mengonsumsi informasi.

Bagi yang ingin memiliki rumah, ada sejumlah kiat yang bisa dilakukan. Misalnya saja mencicil ke pengembang memiliki keunggulan, karena pembayaran biaya tambahan diluar pokok lebih rendah daripada mencicil ke bank. Namun, cicilan ke pengembang tidak seketat perlindungan dan asuransi bila menyicil ke bank. Karenanya, cicilan ke pengembang hanya kepada mereka yang bereputasi baik dan tepercaya.

Laju pertumbuhan harga properti selalu lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan penghasilan secara umum. Sebagai ilustrasi, harga properti bisa naik 10%-20% dalam satu tahun. Karenanya, jika memang sudah berniat untuk membeli rumah, berani ambil action. Segera beri tanda jadi agar harga bisa dikunci pada angka yang disepakati saat ini, sehingga terhindar dari risiko kenaikan harga properti.

Ada baiknya dipastikan keuangan calon pembeli sehat terlebih dahulu sebelum telanjur mengajukan ke bank agar bisa lolos dari BI Checking. Caranya tak terlalu sulit. Ambil rumus sederhana bahwa cicilan semua utang maksimum adalah sepertiga dari penghasilan bulanan. Bila merasa khawatir dengan beban cicilan lainnya atau kartu kredit, ambil langkah seperti di atas, yaitu kunci harga dan mulai menyicil uang muka. Dengan demikian, penghasilan sudah terpotong dari awal gajian, sehingga konsumen harus menyesuaikan dengan uang yang tersisa.

Anggap saja latihan menyesuaikan gaya hidup saat cicilan sebenarnya nanti berlangsung. Sambil berproses, tutup utang-utang konsumtif yang tak perlu hingga ketika saatnya tiba, kondisi keuangan konsumen sudah sehat dan siap mengikat komitmen KPR jangka panjang.

Ingat bahwa uang muka saat ini sangat rendah, mulai 5% saja. Bandingkan dengan generasi sebelumnya yang membeli rumah 10 tahun lalu dengan besaran uang muka 30%.

Apabila dapat penghasilan lebih, dapat bisa membeli tanah di lokasi yang bagus, karena akan lebih hemat jika membangun sendiri, bahkan sesuai kemampuan dan keinginan. Bisa juga menerapkan konsep rumah tumbuh: bangun secara bertahap. Kuncinya adalah lokasi tanah dekat dengan lingkungan yang baik (dekat akses transportasi publik, pusat perbelanjaan, sekolah, rumah sakit, dan lainnya) sehingga bisa ‘menumpang’ fasilitas tersebut.

Pertimbangkan beli rumah seken (bukan baru). Biasanya lokasi rumah seken lebih ke tengah karena sudah terbangun lebih dulu, tidak mulai dari awal di kawasan yang terlalu pinggir. Rumah seken pun bisa dibeli dengan KPR sepanjang syarat-syaratnya terpenuhi. Sediakan saja uang muka 20%-30% dari harga rumah.

Selain nonbank, kini hadir sumber pembiayaan alternatif seperti finansial teknologi (fintek) properti meski hal ini belum terlalu populer di kalangan pembeli rumah. Perlu ada benefit lebih yang bisa dinikmati oleh nasabah agar pembiayaan ini memiliki diferensiasi dibandingkan dengan skema KPR yang telah ada.

Kemudahan syarat dan alternatif penilaian kolateral dapat menjadi opsi untuk ditelaah lebih jauh dengan tetap mempertahankan pengelolaan yang prudent.

Beli rumah memang tidak sederhana. Bagi banyak orang bisa jadi harus dihadapi. Kecuali memang mau selamanya menyewa atau numpang.

*Penulis merupakan Head of Marketing Rumah.com Indonesia

Sumber : Bisnis Indonesia