OPINI: YIA dan Prospek Gelangprojo

Kondisi terminal kargo di Yogyakarta Internasional Airport (YIA), Kecamatan Temon, Kulonprogo, Selasa (9/7/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
02 Desember 2019 05:02 WIB Satwika Ganendra Aspirasi Share :

Menjelang akhir tahun, pemerintah menjanjikan sejumlah fasilitas penunjang keberadaan Yogyakarta International Airport (YIA) diupayakan penyelesaiannya. Dengan begitu, proses boyongan sebagian kantor dan manajemen ke wilayah Kulonprogo juga dapat dilaksanakan di awal tahun depan.

Masyarakat Yogyakarta berpengharapan besar dengan kehadiran bandara YIA secara pragmatis berdampak menurunkan tingkat kepadatan lalu lintas dan hiruk-pikuk Kota Jogja, sekaligus mengikuti sumbu filosofis sebagaimana dicanangkan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, yang semula mengarah ke utara yaitu Among Tani, kemudian berkembang ke arah selatan menjadi Dagang Layar.

Pada sisi lain, warga daerah sekitar YIA menyambut gembira lantaran terbuka peluang dan kesempatan membangun wilayah sekaligus meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Wilayah sekitar YIA yang potensial pengembangannya meliputi kawasan Mangkupurwo atau istilah yang dipopulerkan Manajemen Badan Otorita Borobudur (BOB) adalah Gelangprojo, yaitu singkatan dari Magelang, Kulonprogo dan Purworejo.

Daya Tarik
Proses pembangunan berkelanjutan YIA yang diampu perusahaan BUMN sesungguhnya merupakan daya tarik bagi investor untuk menanamkan modalnya. Berbagai kajian patut dilakukan, meliputi politik, hukum, sumber daya alam, ketenagakerjaan. Begitu pula aspek sosiologis, psikologis, ekonomi serta budayanya.

Kepala Badan Kerja Sama dan Penanaman Modal (BKPM) DIY sejak awal tahun ini berharap besar investasi segera masuk untuk mendukung operasional bandara. Meliputi bisnis pergudangan dan prasarana kebutuhan karyawan seperti property, akses transportasi, akomodasi dan katering. Bahkan rencana pembangunan Aerotropolis serta Aircity juga telah diprogramkan.

Beberapa kajian terus dilakukan, yakni skema pembebasan tanah beserta ganti rugi kepada warga terdampak. Sekadar bahan pertimbangan, secara makro asumsi kebutuhan lahan kawasan industri di Indonesia 12,5 hektare untuk investasi adalah Rp1 triliun. Pertumbuhan sektor industri diproyeksikan naik 10% per tahun sedangkan investasi di kawasan industri 60% dan diperkirakan terus meningkat persentasenya setiap tahun. Maka pada 2020 proyeksi kebutuhan lahan industri mencapai 3,567 hektare.

Sejauh ini investasi masih menyasar di sekitar Kulonprogo tetapi ke depannya masyarakat berharap, bisa merambah ke sejumlah daerah kota di Jawa Tengah. Mengiringi kehadiran YIA. Secara filosofis, kemajuan daerah serta kesejahteran warga tidak boleh terfokus di satu wilayah, melainkan ada pemerataan di seantero DIY dan Jawa Tengah

Perspektif Ketenagakerjaan
Besarnya investasi untuk penunjang bandara NYIA, meliputi pembangunan jalan, pembangkit tenaga listrik, taman parkir, pergudangan, perhotelan, perkantoran, sampai souvenir shop serta rumah makan, tentu akan berdampak terhadap serapan tenaga kerja.

Tentu saja, dalam organisasi apapun membutuhkan tenaga kerja yang kompeten dan profesional, sehingga warga dan masyarakat perlu disiapkan sejak diri. Lantas sudah siapkah seluruh tenaga kerja di Bandara YIA dan warga Kulonprogo bekerja secara profesional?

Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia pendidikan, serta dunia industri, dengan dana corporate social responsibility BUMN, sepatutnya proses penciptaan tenaga kerja andal dapat dipercepat. Termasuk karyawan BUMN beserta subsidiary company-nya yang cukup banyak.

Persiapan tenaga kerja, sesungguhnya telah lama menjadi isu utama sejak Presiden menjelaskan prioritas pertama sesudah pembangunan infrastruktur fisik, adalah penciptaan SDM yang berkualitas.. Meskipun berbagai pihak harus mengakui sejauh ini kegiatan unit Human Capital di seantero perusahaan masih terjebak pada pekerjaan clerical, lantaran pada umumnya, organisasi SDM secara struktural menempel pada unit lain yang dianggap lebih penting.

Entrepreneurship Gelangprojo
Permasalahan kualitas tenagakerja selalu menjadi topik di setiap organisasi maupun korporasi. Apabila perusahaan swasta maupun BUMN telah memiliki standar nilai peningkatan integritas, kompetensi dan profesionalitas, maka bagi warga terdampak di sekitar proyek pembangunan patut dikembangkan entrepreneurship.

Keindahan obyek pariwisata di seputar bandara YIA tentu tak bisa diabaikan. Semuanya bertali temali dengan kelengkapan prasarana serta sikap dan tata nilai warga stempat. Hal tersebut dalam perspektif manajemen disebut comparative advantage yang perlu diubah menjadi competitive advantage melalui kewirausahaan.

Beberapa perusahaan, termasuk BUMN yang terlibat pembangunan proyek bandara YIA, punya tanggung jawab dalam memajukan dan mengembangkan ketrampilan masyarakat melalui kajian sosial budaya, pendididikan dan pelatihan kewirausahaan, termasuki penciptaan industri kreatif dan jasa.
Dalam konteks ini, korporasi atau BUMN terkait perlu memperkuat struktur Unit Human Capital agar memiliki kemandirian dalam melakukan riset pengembangan SDM, Assessment Center, pusat pelatihan, laboratorium produktivitas sekaligus pengembangan entrepreneurship, kreativitas dan ketrampilan berinovasi bagi warga sekitar proyek pembangunan.

Dengan lain perkataan, apabila keberadaan Bandara YIA di Temon,Kulonprogo beserta sarana dan prasarananya telah memenuhi persyaratan, maka tidak mustahil multiplier effect bagi kesejahteraan warganya akan merambah ke daerah sekitarnya, termasuk Kawasan Gelangprojo serta Joglosemar (Jogjakarta, Solo, Semarang)

Di berbagai negara maju, keterlibatan para pakar di Unit Human Capital dalam mengembangkan kompetensi sekaligus profesionalitas karyawan beserta warga disekitarnya sudah sangat intens. Dengan demikian, tidak terjadi trial and error dalam mengawal proses growth and sustainability perusahaan sekaligus pengembangan wilayah serta kesejahteraan warganya. Semoga.

*Penulis merupakan Staf Perusahaan BUMN