OPINI: Surut, Pola Pikir Kritis Mahasiswa

Demo mahasiswa di Gedung DPR. - Suara.com/Fakhri
11 Desember 2019 06:07 WIB Hanafiah Hamid Suara Mahasiswa Share :

Persoalan di kalangan mahasiswa dewasa ini cenderung kurang baik, utamanya pada karakteristik kepribadian dan psikologis mahasiswa makin hari makin memburuk. Dimulai saat sering mengerjakan deadline yang kian hari kian menumpuk. Hal ini sudah biasa dilakukan mahasiswa mengingat jam-jam tersebut adalah waktu untuk beristirahat.

Pada saat dosen mulai menerangkan materi, tak jarang masih ada mahasiswa yang kurang memperhatikan seperti berbicara dengan mahasiswa lain, bermain gadget, membaca novel dan lain lain. Cuplikan cerita tersebut telah menggambarkan ada yang salah dari cara pola pikir mahasiswa tentang arti penting pendidikan.

Mahasiswa merupakan sebuah nama panggilan bagi orang yang sedang menjalani pendidikan tinggi di perguruan tinggi. Pemikiran kritis, konstruktif dan demokratis selalu lahir dari pola pikir mahasiswa. Suara-suara mahasiswa yang kerap kali mempresentasikan dan mengangkat realita sosial yang terjadi di lingkungan mahasiswa maupun masyarakat sekitar. Sikap idealisme mendorong para mahasiswa untuk memperjuangkan banyak aspirasi pada penguasa dengan cara mereka sendiri.

Bukti empiris dan rill di lapangan telah menunjukan sikap mahasiswa saat ini cenderung lebih hedonis, apatis dan selalu mengikuti perkembangan zaman dengan segenap perubahan global, lebih banyak daripada mahasiswa yang mau berdiskusi dan senantiasa menyuarakan hak. Memang, dilematika gerak dan langkah mahasiswa tersebut tak dapat kita salahkan sepenuhnya kepada mahasiswa itu sendiri, tetapi banyak elemen penting terkait mengapa hal tersebut dapat terjadi. Kecenderungan seperti itu tidak dapat kita elakkan karena tuntutan zaman dengan segenap modernitasnya yang menyebabkan mahasiswa dan kaum terpelajar lainnya bertindak seperti layaknya orang yang berglamor ria dan cenderung bersikap hedon.

Mahasiswa juga lebih dituntut untuk unggul dalam hal akademik, sehingga ada sedikit mahasiswa yang lebih mengedepankan aspek ilmu akademik dibandingkan mengedepankan aspek kreativitas bakatnya. Hal itu mengakibatkan sikap apatis hingga pada akhirnya merajalela di lingkungan kampus. Definisi kampus yang sebenarnya adalah tempat mendidik manusia menjadi dewa dan menjadi orang bijaksana. Bukan sebagai tempat industri pencetak robot bagi kebutuhan pasar.

Kondisi ini kemudian telah mengubah kampus menjadi pabrik-pabrik yang dihuni oleh para robot, dan dari sana pula saat ini memproduksi robot-robot baru yang siap diatur dan didikte oleh sistem kaku dan sedikit menjajah. Bahkan lebih tragis, berpikir kritis di kampus berarti dianggap oposisi. Perihal matinya pola pikir kritis di dunia akademik telah banyak bukti.

Karena itu, mahasiswa perlu berusaha untuk mengubah pola pikir dan tingkah laku mereka. Mahasiswa harusnya mencoba melihat realitas bangsa yang acap kali mengalami degradasi nilai dalam segala bidang. Jangan sampai kita larut akan kehidupan globalisasi yang takkan ada hentinya ini, tetapi perlu sebuah upaya yang berkesinambungan dan memahami kembali peran awal kaum terpelajar dalam dinamika kehidupan bangsa maupun dunia kampus.

Jadi mahasiswa adalah pemuda yang mempunyai pola pikir kritis yang masih bersemangat dan peka terhadap hal yang ada disekitar dan keinginan untuk merubah sangat tinggi. Tapi sekali lagi perubahan baik ini tergantung mahasiswa sendiri bagaimana mengaplikasikannya. Mahasiswa harus berperan aktif dalam persoalan sosial.

*Penulis merupakan Mahasiswa Program Studi Teknik Geofisika UPN Veteran Yogyakarta