OPINI: Salah Arah Rencana Pengembangan Kridosono

Logo Pemkot Jogja (Harian Jogja)
03 Januari 2020 05:02 WIB Gilang Jiwana Adikara Aspirasi Share :

Rencana Pemerintah Kota Jogja untuk membangun pusat perbelanjaan bawah tanah di kawasan Kridosono semakin menunjukkan pengelola kota ini lebih peduli pada bisnis ketimbang memperhatikan kebutuhan warganya akan ruang terbuka yang dapat diakses oleh masyarakat. Padahal sejauh ini kota yang identik dengan kebudayaannya ini masih kekurangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai penunjang kehidupan masyarakat perkotaan.

Wakil Walikota Jogja Heroe Poerwadi seperti dikutip Harian Jogja beberapa waktu lalu menyebutkan rencana ini sebagai bagian dari upaya menyambut rencana PT Kereta Api Indonesia yang akan mengubah Stasiun Lempuyangan sebagai pusat bisnis. Pengembangan kawasan Stadion Kridosono pun ditargetkan untuk membenahi stadion yang sudah menjadi ikon Kotabaru itu sekaligus membangun area parkir dan pusat perbelanjaan bawah tanah.

Pertanyaan pertama yang muncul setelah membaca berita ini adalah, apakah Kota Jogja dan sekitarnya sedemikian butuh akan pusat perbelanjaan baru? Jika merujuk pada peta DIY, dalam radius lima kilometer dari Kridosono setidaknya terdapat delapan mall dan belasan pusat perbelanjaan modern. Sebut saja dari yang terdekat ada Galeria Mall, Malioboro Mall, Lippo Plaza, Ambarrukmo Plaza, Hartono Lifestyle, Sahid J-Walk, Jogja City Mall, dan yang terbaru TransMart Maguwoharjo.

Memang sebagian besar berada di luar wilayah Kota Jogja, namun radius ini masih merupakan jarak yang cukup dekat dan masing-masing dapat ditempuh dengan waktu kurang dari satu jam dari Stadion Kridosono. Jumlah ini belum termasuk puluhan pasar tradisional, pusat oleh-oleh, dan ratusan minimarket.

Kepadatan jumlah pusat perbelanjaan ini sudah lama dikeluhkan oleh pengelola pusat perbelanjaan. Pasalnya, peningkatan jumlah mal di Jogja tidak sebanding dengan jumlah penduduk di Kota Jogja dan sekitarnya serta tidak sejalan dengan perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin condong ke gaya berbelanja daring. Belum lagi masalah UMR Kota Jogja yang terbilang rendah dan akan berpengaruh pada daya beli masyarakatnya.


Pedagang Dadakan
Sejumlah strategi pun sudah dilakukan pengelola pusat perbelanjaan melalui berbagai kegiatan namun toh mereka tetap kembang kempis. Dengan kondisi demikian, memaksakan membuka ruang konsumerisme baru yang belum jelas pangsa pasarnya rasanya tidak bijak. Mengincar warga lokal tentu akan bermain di segmen yang sudah jenuh. Sementara menyasar wisatawan memerlukan strategi khusus karena sifatnya yang musiman dan sulit melahirkan konsumen loyal. Salah pengelolaan maka proyek ini hanya akan menjadi proyek mangkrak seperti yang sudah-sudah.

Di sisi lain, kritik terhadap Kota Jogja saat ini adalah minimnya ketersediaan Ruang Terbuka Hijau. Jumlah RTH Kota Jogja saat ini masih kurang dari 20%. Padahal jumlah minimal RTH yang sehat untuk kawasan perkotaan adalah 30%. Pemerintah Kota Jogja mengaku sudah berusaha meningkatkan jumlah RTH ini, namun toh jumlahnya tak bisa banyak berkembang. Padahal kebutuhan RTH menjadi penting karena ruang terbuka ini bisa menjadi wadah bagi masyarakat untuk bekegiatan dan bersosialisasi. Selain itu keberadaan RTH berkaitan dengan lingkungan tempat tinggal, termasuk menjaga kualitas air dan udara.

Maka ketimbang memaksa mengembangkan Kridosono sebagai kawasan ekonomi baru, rasanya akan lebih bijak jika menjadikan Kridosono sebagai kawasan terbuka hijau yang dapat diakses publik secara bebas. Pengembangan ke arah ini tak hanya memiliki dampak yang lebih baik terhadap lingkungan, melainkan juga membuka peluang lokasi berkumpul baru bagi para warga dan wisatawan yang ingin menikmati romantisme Kota Jogja. Apalagi jika dilihat saat ini tak banyak ruang terbuka yang dapat diakses masyarakat dengan bebas di Kota Budaya ini untuk sekadar bersantai tanpa harus berkutat dengan impitan para pedagang dadakan.

Konsepnya pun dapat dikembangkan lebih lanjut jika dipadukan dengan kawasan Kotabaru yang bersejarah. Keberadaan Kridosono sebagai ruang terbuka pun berpotensi membuat kawasan ini sebagai kawasan wisata sejarah dan budaya bagi para wisatawan dan ruang untuk bercengkrama menikmati Kota Jogja antar para warga Kota Pelajar ini.