OPINI: Geliat Transportasi Bus di Jogja

Penumpang bersiap memasuki bus di Terminal Giwangan, Jogja. - Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara
29 Januari 2020 05:02 WIB Hafied Achmad Wisaksono Suara Mahasiswa Share :

Layanan moda transportasi khususnya angkutan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) memasuki 2020 berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat. Bagaimana tidak, keberadaan tol Trans Jawa yang menghubungkan ujung barat sampai timur Pulau Jawa, yang diresmikan pemerintah pada akhir 2018 menjadi penyebabnya.

Adanya tol tersebut menarik gairah pengusaha transportasi bus untuk mengembangkan usahanya. Tak hanya daerah yang dilewati oleh tol saja yang mendapatkan imbasnya tetapi daerah lain yang tidak terdapat jalan tol juga terdampak imbasnya. Salah satu daerah yang terkena imbasnya adalah daerah Jogja dan sekitarnya. Diketahui di Jogja belum terhubung dengan tol Trans Jawa.

Di Jogja perkembangan jasa transportasi bus sepanjang tahun 2019 ini mempunyai tren yang cukup bagus. Perkembangan jasa transportasi ini dibuktikan dengan adanya pendatang baru yang ikut meramaikan rute Jogja ke Jakarta dan sekitarnya. Mereka bersaing dengan pemain lama untuk merebutkan pangsa pasar yang mengalami kenaikan permintaan.

Kenaikan itu disebabkan karena pengusaha bus mengubah atau menambah rute perjalanan bus mereka melalui tol trans jawa. Rute trans jawa yang dilewati ada dua yaitu dari Jogja melalui Magelang, Ambarawa kemudian masuk melalui gerbang tol Bawen ataupun dari Jogja ke timur melalui Klaten kemudian masuk gerbang tol Kartasura. Perubahan itu mengakibatkan perubahan selera penumpang dalam memilih moda transportasi untuk melakukan perjalanan. Bahkan saat akhir pekan, pengusaha bus mengalami kenaikan permintaan yang cukup signifikan.

Selain dengan mengubah rute-rute mereka melalui tol Trans Jawa, para pemilik bus juga berlomba untuk meremajakan armadanya. Penumpang sudah mulai mencari bus-bus yang sesuai dengan kebutuhan. Tidak hanya soal harga murah tetapi penumpang juga menginginkan bus yang nyaman dan baru untuk perjalanan. Permintaan pasar ini menuntut pengusaha menghadirkan bus dengan model terkini yang dibuat oleh karoseri ternama di indonesia.

Bagi pemilik bus menyesuaikan permintaan pasar adalah suatu cara agar dapat bersaing dengan pengusaha lainnya. Bagi mereka yang tidak mengikuti perubahan selera konsumen ini akan semakin ditinggalkan oleh konsumennya. Dampaknya akan terlihat dimana bus dengan model terbaru akan terisi penumpang yang banyak sedangkan bis yang belum melakukan peremajaan akan semakin berkurang penumpangnya.

Persaingan bisnis moda transportasi ini semakin kompetitif dengan banyak pilihan kelas dan fasilitas yang ditawarkan oleh masing-masing penyedia moda transportasi ini. Kelas yang ditawarkan mulai dari kelas patas biasa, bisnis, eksekutif hingga yang paling tinggi adalah supereksekutif. Selain itu mereka juga menawarkan kenyamanan, ketepatan waktu dan fleksibilitas penurunan penumpang. Penumpang dapat turun disepanjang jalur bus tersebut. Apa yang telah ditawarkan tentu menjadi alasan transportasi bus ini mulai diminati para penumpang.

Harga
Harga yang ditawarkan oleh para pengusaha sangat kompetitif dengan fasilitas yang di dapatkan oleh penumpang. Harga yang ditawarkan untuk bus kelas eksekutif berkisar antara Rp150.000 sampai dengan Rp250.000 per orang. Dengan harga segitu penumpang sudah bisa menikmati satu kali makan dan perjalanan yang cepat melalui tol Trans Jawa. Harga tersebut tentunya relatif lebih murah dibandingkan dengan moda transportasi lain. Di tengah tarif penerbangan domestik yang relatif tinggi, tarif kereta yang relatif lebih mahal dibanding dengan bus, turut mendorong masyarakat untuk kembali menggunakan transportasi bus. Apalagi waktu tempuh bus yang sudah semakin singkat hampir sama dengan waktu tempuh kereta api karena adanya tol Trans Jawa.

Namun, geliat perkembangan transportasi tersebut tidak imbangi dengan infrastruktur penunjang yang layak. Terutamanya banyaknya terminal yang terkesan kotor dan kurang ramah terhadap penumpang. Pandangan masyarakat tentang kondisi terminal yang identik dengan kotor dan banyak calo nampaknya masih melekat. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, banyak penumpang memilih membeli tiket dan naik bus melalui agen di sepanjang jalan daripada harus naik di terminal.

Pemerintah harus melihat kondisi ini sebagai sarana untuk memperbaiki fasilitas umum bagi masyarakatnya. Apalagi di era digital sekarang ini, banyak penyedia angkutan bus yang menyediakan pemesanan tiket secara daring melalui aplikasi, baik melalui aplikasi sendiri maupun melalui aplikasi yang telah beredar di masyarakat. Yang paling diuntungkan dengan pemesanan tiket secara online adalah para penumpang, pemesanan semakin dimudahkan tanpa perlu pergi ke agen atau terminal cukup dengan telepon seluler (ponsel).

*Penulis merupakan Mahasiswa D3 Akuntansi Politeknik Keuangan Negara Stan (PKN STAN).