OPINI: Stimulus Perbankan lewat Suku Bunga Acuan

Ilustrasi Bank Indonesia. - Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah
05 Maret 2020 05:02 WIB Y. Sri Susilo Aspirasi Share :

Dengan ditetapkannya suku bunga acuan (BI Rate), Bank Indonesia (BI) dapat memberikan stimulus kepada institusi perbankan (bank-bank umum) untuk mengikuti skenario yang ditetapkan BI. Sebagai contoh, dengan menurunkan suku bunga acuan, BI berharap perbankan akan menurunkan suku bunga deposito dan kredit. Demikian pula sebaliknya, jika BI menaikkan suku bunga acuan, institusi perbankan diharapkan juga menaikkan suku bunga deposito dan kredit.

Dalam prakteknya, setelah suku bunga acuan turun ternyata uang milik perbankan yang disimpan di BI tidak bisa langsung diambil. Perbankan harus menunggu terlebih dahulu selama setahun untuk bisa menarik uangnya. Dengan kondisi demikian, peredaran uang (JUB) tidak seketika langsung meningkat. Sebaliknya jika BI menaikkan suku bunga acuan, maka inflasi tidak langsung menurun.

Tarik Uang
Kendala waktu tersebut membuat BI berinisiatif untuk memberlakukan BI 7-Day (Reverse) Repo Rate. Perbankan tidak perlu lagi menunggu setahun untuk menarik kembali uangnya. Perbankan bisa menarik uangnya setelah menyimpan selama tujuh hari di BI. Pengembalian tersebut disertai dengan bunga yang besarnya seperti yang telah ditentukan sebelumnya.

Dengan jangka waktu yang lebih pendek, otomatis BI 7-Day Rate memiliki suku bunga (rate) yang lebih rendah daripada BI Rate. Sejak diberlakukan 19 Agustus 2016, BI berharap dapat mengontrol dengan lebih efektif tingkat suku bunga. Adanya efektivitas termaksud penyaluran kredit dari perbankan ke masyarakat menjadi lebih cepat dan lancar. Di samping itu, risiko kredit macet karena perubahan suku bunga yang mendadak dapat lebih diminimal.

Dengan penggunaan instrumen BI 7-day (Reverse) Repo Rate sebagai instrumen suku bunga, setidaknya ada tiga dampak utama yang diharapkan (www.bi.go.id). Pertama, menguatnya sinyal kebijakan moneter dengan suku bunga BI 7-day (Reverse) Repo Rate sebagai acuan utama di pasar keuangan. Kedua, meningkatnya efektivitas transmisi kebijakan moneter melalui pengaruhnya pada pergerakan suku bunga pasar uang dan suku bunga perbankan. Ketiga, terbentuknya pasar keuangan yang lebih dalam, khususnya transaksi dan pembentukan struktur suku bunga di pasar uang antarbank (PUAB) untuk tenor 3-12 bulan.

Dengan BI 7-Day (Reverse) Repo Rate mekanisme transmisi penurunan suku bunga khususnya deposito dan kredit lebih cepat. Kondisi ini menjadikan penyaluran kredit perbankan untuk keperluan investasi langsung di sektor riil dapat meningkat. Pada gilirannya peningkatan investasi tersebut dapat menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi pengangguran. Ujung dari proses efek pengganda investasi adalah meningkatnya pertumbuhan ekonomi.

Suku bunga kredit bukan satu-satunya faktor penentu meningkatnya investasi. Ada beberapa faktor lain, seperti misalnya (Sri Susilo, 2019): (i) insentif fiskal dan fasilitas kemudahan berusaha. (ii) Kecepatan dan kemudahan dalam proses perizinan. (iii) Ketersediaan infrastruktur di lokasi investasi (jalan, komunikasi, listrik, dan air minum). (iv) Ketersediaan tenaga kerja dan bahan baku . (v) Potensi pasar domestik. Faktor suku bunga menjadi variabel penting dan diperlukan namun tidak hal itu tidak cukup dan harus di dukung oleh faktor-faktor yang lain.

Isu Terkini
Penyebaran virus Corona (Covid-19) dipredikasi menjadi penyebab utama melambatnya perekonomian Indonesia. Dampak virus terhadap perekonomian setidaknya melalui tiga jalur (channel), yaitu (Sri Susilo, 2020): (i) jalur investasi langsung, khususnya realisasi PMA dari China/Tiongkok yang melambat. (ii) Jalur pedagangan khususnya ekspor dan impor dari Indonesia ke China dan sebaliknya tentu mengalami penurunan. (iii) Jalur pariwisata khususnya wisatawan China yang datang ke Indonesia (Bali, Sulawesi Utara, dan Batam) sementara berhenti.

BI bahkan telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2020 menjadi 5,0-5,4% dari perkiraan semula 5,1-5,5%. Meski demikian, BI tetap optimistis Indonesia mampu mencapai target pertumbuhan sebesar 5,4%.

Salah satu cara untuk mencapai target tersebut, BI sudah menyiapkan strategi khusus salah satunya menurunkan suku bunga acuan atau BI 7 days reverse repo rate. Sejak tanggal 20 Februari 2020, BI telah memangkas suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin (bps) menjadi 4,75%. Harus diakui dampak ekonomi dari kebijakan ini tidak bisa dirasakan dalam waktu singkat, namun diyakini dalam jangka meengah kebijakan tersebut mampu membantu Indonesia mencapai angka pertumbuhan 5,4% tersebut.

Kebijakan menurunkan BI 7-Days( reverse) Repo Rate tersebut bukan satu-satunya variabel untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi termaksud. Kebijakan tersebut harus disunergikan dengan kebijakan lain yang diterapkan oleh pemerintah. Kebijakan termaksud antara lain adalah pembangunan infrastruktur ekonomi (jalan tol, pelabuhan, bendungan, pembangkit listrik dan sebainya) dan upaya peningkatan investasi langsung, baik PMA dan PMDN, seperti misalnya perbaikan implementasi online single submission (OSS), pemberian insentif fiskal serta kemudahan berusaha baik di tingkat pusat dan daerah, serta reformasi birokrasi dan perizinan melalui Omnibus Law.

Di balik dampak negatif penyebaran virus Corona terhadap perekonomian Indonesia, tentu ada dampak positif yang dapat dimanfaatkan secara optimal. Dampak positif termaksud adalah momentum untuk mengembangkan pasar ekspor selain China atau pasar non-tradisional misalnya ke Afrika Utara, Timur Tengah dan Amerika Latin.

Momentum bagi industri manufaktur untuk melakukan inovasi dan bertahan agar tidak terlalu bergantung bahan baku dari China. Terakhir, momentum bagi pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) untuk untuk meningkatkan potensi tujuan wisata domestik dengan melakukan promosi serta mengoptimalkan insentif yang telah diberikan pemerintah pusat (diskon tiket pesawat, hotel dan sebagainya).

*Penulis merupakan dosen Prodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta