HIKMAH RAMADAN: Mendidik Anak demi Masa Depan Orang Tua di Akhirat

Ilustrasi orang tua dan anak. - Ist/Hmpaudi DIY
13 Mei 2020 23:17 WIB Suswanta Hikmah Ramadan Share :

Ramadan tahun ini terasa istimewa karena berada di tengah pandemi Covid-19. Virus Corona adalah ayat Allah. Cara kita menyikapinya tergantung bagaimana kita membacanya. Apakah akan kita jadikan momentum untuk mengutuk keadaan, menebar ketakutan atau mengambil hikmah positifnya.

Salah satu hikmah dari kondisi ini adalah orang tua dapat melaksanakan ibadah Ramadan di rumah berkumpul bersama anak-anak tercinta. Ramadan kali ini menjadi kesempatan berharga bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai tauhid, akhlak, mengajarkan bacaan Al Qur’an, menjelaskan perbuatan yang wajib, sunah, mubah, makruh dan haram dilakukan kepada anak sekaligus memberi contoh bagaimana beragama yang santun dan tegas sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Anak adalah titipan Allah yang diamanatkan kepada orang tuanya. Pada saatnya nanti mereka akan pergi bertebaran di bumi Allah untuk menjalankan tugas kehidupan. Sebagian ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal dekat dengan orang tuanya.

Mereka ingin berkhidmat untuk berbakti kepada orang yang telah mendidik dan membesarkannya. Mereka menjadi permata hati bagi orang tuanya. Akan tetapi pada saatnya nanti, orang tua juga akan berpisah dan meninggalkan anak-anaknya.

Orang tua akan pergi dan tidak pernah kembali lagi ke dunia. Sebagian di antara kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya. Orang tua dan anak tidak berkumpul lagi dalam kemesraan dan kecerian dengan penuh kasih sayang sebagaimana di dunia, karena mereka berjumpa di hadapan Mahkamah Allah dalam kondisi saling menghujat dan menjadi musuh satu sama lain.

Anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka tidak mau menerima begitu saja sehingga menuntut tanggung jawab orang tua yang telah lalai dalam mengajarkan agama.

Alangkah besar kerugian di hari itu, jika orang tua dan anak saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala. Inilah hari di mana tidak bisa menyewa pengacara karena pengacara juga tidak bisa membela dirinya sendiri.

Menyiapkan Masa Depan

Masih terngiang tausiah kiai sejuta umat, almarhum KH. Zainudin MZ, tentang kisah orang tua yang akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah namun akhirnya batal? Sebuah kisah inspiratif tentang sepasang suami istri yang sudah hampir melangkah menuju surga karena mereka orang yang sangat baik dan taat beribadah, namun dicegat oleh anaknya yang akan dimasukkan ke neraka karena si anak adalah ahli maksiat dan dosa.

Dalam kisah tersebut disebutkan, bahwa si anak protes pada malaikat. “Mereka memang baik dan taat beribadah. Tapi mereka tidak pernah mengajari saya agama. Mereka tak pernah mengajari saya berbuat baik. Saya masuk neraka gara-gara mereka. Karena itu, saya minta keadilan. Tolong agar mereka dimasukkan ke neraka juga.”

Akhirnya sepasang suami istri ini tak jadi masuk surga. Mereka pun dijebloskan ke dalam neraka. Patut menjadi renungan, apakah kita juga berlaku sama untuk menyiapkan masa depan sesungguhnya di akhirat?

Kita tentu juga tidak rela jika kulit mereka nanti melepuh terkena jilatan api neraka. Kita juga tentu tidak menginginkan mereka menghujat orang tuanya di hadapan Allah. Ramadhan di tengah pandemi Covid-19 ini kali ini menyadarkan kita betapa pentingnya keluarga. Betapa berharganya anak buah hati kita.

Marilah kita cintai anak-anak kita dengan pengharapan agar tidak sekedar bersama di dunia tetapi juga bisa berkumpul di akhirat. Cintai mereka dengan memenuhi hak-haknya, terutama mengajarkan agama dan memberi keteladanan sejak dini agar mereka nanti tidak menuntut kita para orang tua.

*Penulis adalah Dosen Ilmu Pemerintahan Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta