HIKMAH RAMADAN: Akidah dalam Pengobatan Islam

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
15 Mei 2020 07:17 WIB Yayat Hidayat, M.A Hikmah Ramadan Share :

Sudah menjadi suratan takdir siapapun di antara kita pasti pernah mengalami dan merasakan sakit. Ada yang pernah sakit dalam kondisi ringan ada juga yang sakit dalam kondisi berat. Pada saat seseorang menderita sakit tentu beragam respons yang dijalankannya, ada yang acuh dengan sakitnya karena masih mampu berkegiatan sehari-hari, ada juga yang membiarkan begitu saja karena impitan ekonomi yang dialaminya dan ada yang panik serta kehilangan semangat hidupnya karena tahu kondisi penyakit yang dideritanya.

Sakit berkaitan dengan ruhiyah seseorang (akidah/iman). Ahli medis menegaskan kesehatan tubuh sangat dipengaruhi oleh kesehatan jiwa. Jika jiwa seseorang terserang penyakit dan cacat, maka cacat itu akan memengaruhi kesehatan tubuhnya, persoalan ini lebih disebabkan oleh tidak adanya keseimbangan antara dimensi lahiriah dan batiniah.

Jika seorang muslim salah mengambil sikap ketika berobat maka taruhannya adalah syurga atau neraka, sehingga sudah selayaknya seorang muslim mengetahui sikap yang tepat dan benar ketika berhadapan dengan sakit yang dideritanya.

Islam memerintahkan kepada kita untuk berobat dan melarang kita pasrah tanpa melakukan ikhtiar maksimal karena usaha ikhtiar berobat sama sekali tidak bertentangan dengan sikap tawakkal. Islam mengajarkan agar setiap manusia beriman kepada Allah dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah.

Islam menuntut agar mereka meyakini bahwa segala bentuk musibah salah satunya sakit merupakan ketetapan Allah yang tidak dapat dihindarkan atau dibatalkan oleh kekuatan apapun.

Agama Islam merupakan ajaran yang bersifat syumuliyah (universal), termasuk juga dalam hal berobat. Rasulullah sebagai suri tauladan kita tentu sudah banyak memberikan keteladanan sehingga sudah selayaknya umat Islam membuka dengan mata hati untuk melihat khazanah pengobatan yang disampaikan oleh manusia yang paling mulia di atas muka Bumi ini yaitu Rasulullah shalallahu alihi wasallam.

Islam memandang sakit dan penyakit beberapa aspek. Pertama, sebagai akibat gaya dan pola hidup; kedua, sebagai musibah; ketiga, sebagai cobaan atau ujian; keempat, sebagai teguran Allah.

Kelima, sebagai azab dan teguran dari Allah; keenam, sebagai penghapus dosa; ketujuh, sebagai sarana menaikkan derajat kemuliaan; serta kedelapan, sakit dan penyakit sebagai bentuk kasih sayang Allah. (Diklat Perkumpulan Bekam Indonesia (PBI), 2012: 10)

Prinsip-prinsip keyakinan seorang mukmin terhadap sehat dan sakit (PBI, 2012: 12) di antaranya, pertama, kesehatan dan penyakit merupakan milik Allah SWT. Hal tersebut merupakan refleksi keimanan kepada qadla dan qadar yang baik dan buruk. Kedua, kesehatan merupakan nikmat yang harus dioptimalkan dalam keterkaitan pengabdian terbaik hanya untuk Allah SWT. Ketiga, kesehatan merupakan pemberian mutlak Al-Kholiq (pencipta), karena itu merupakan amanah yang harus dipelihara dengan ikhtiar memelihara kesehatan sebagaimana yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Keempat, sakit dan penyakit yang diderita seorang mukmin merupakan variabel sebuah perjalanan kehidupan dengan ujian sakit dan penyakit, seorang mukmin harus memiliki kesadaran spiritual, bahwa Allah telah mengingatkan akan sangat berharganya kesehatan.

Kelima, dengan sakit dan penyakit dapat menempa kejiwaan yang pasrah dan sabar, dan merupakan rangkaian menuju anak tangga sebuah kesuksesan yang lebih besar; keenam, bahwa sakit dan penyakit merupakan metode terbaik Allah SWT dalam rangka menggugurkan dosa-dosa yang dilakukan para hamba-Nya dan sekaligus untuk menaikkan derajatnya di hadapan Allah SWT. Ketujuh, bahwa Allah telah menurunkan pada seluruh penyakit terdapat obat-obat yang dapat menyembuhkan.

Penulis adalah Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Yogyakarta