HIKMAH RAMADAN: Ramadan Era Pandemi dan Kejujuran Transedental

Foto ilustrasi. - JIBI/Nicolous Irawan
18 Mei 2020 12:07 WIB Sugeng Riyanto Hikmah Ramadan Share :

Ramadhan 1441Hijriah adalah salah satu momen spesial bagi kaum muslim, terutama saat ini tengah terjadi pandemi Covid-19 di seluruh dunia. Setidaknya ada tiga perspektif dalam menanggapi isu ini, yakni jabariyah, qodariyah dan ahlussunnah wal jama’ah. Akan tetapi dalam menghadapi pandemi ini sebagian besar umat Islam mendasarkan pada hadis nabi yang menyuruh umatnya untuk tidak mendatangi suatu daerah yang terkena pandemik, atau juga tidak meninggalkan daerah jika dia berada dalam pandemik itu.

Ada juga hadis yang menyuruh umat untuk lari dari penyakit menular seperti larinya dari singa. Oleh karenanya Ramadan di rumah menjadi hastag yang mengiringi tagar work from home bagi para pegawai dan pekerja kantor atau lainnya. Artinya ritual ibadah dari salat wajib, salat tarawih, salat witir, tadarus, dan lain sebagainya, harus dilakukan di rumah. Padahal biasanya itu semua diselenggarakan di masjid secara berjemaah.

Ramadhan di rumah (beribadah di rumah saja) sebenarnya akan dapat menjadi ujian berat bagi kualitas hubungan transedental manusia dengan Allah. Mengapa demikian? Dalam perspektif dan pengamatan pribadi, berbagai ibadah keagamaan memang sulit dipisahkan dari ritual sosial. Dengan kata lain, ritual agama juga menjadi bagian dari ritual sosial.

Artinya, ketika seseorang sedang menjalankan ritual agama, yang semestinya itu adalah urusan seseorang dengan Allah, ada pengaruh sosial yang masuk ke dalamnya, sehingga ritual ibadah juga dipengaruhi oleh konteks sosialnya. Intervensi ritual sosial ini justru kadang yang memberikan energi bagi seseorang untuk melakukan peribadatan, sehingga beribadah terasa ringan untuk dilaksanakan. Ada kalanya, ritual ibadah agama tidak murni berdiri sendiri tanpa pengaruh nilai sosial.

Ketika Ramadan tiba, maka sambutan sosial masyarakat sangat luar biasa, seperti nampak dalam berbagai “status” masyarakat muslim di media sosial. Euforia kegembiraan juga nampak dalam euforia Salat Tarawih sehingga masjid menjadi penuh.

Tadarus berjamaah pun rutin digelar, tentu saja di masjid. Dalam ritual-ritual ibadah ini, nampak ada kehadiran orang lain, yang turut memberikan warna atas kehadiran kita di depan sang Khaliq, Allah SWT.

Uji Kejujuran

Dengan situasi pandemi, di mana ritual ibadah itu tidak lagi menghadirkan kehadiran dan kesaksian orang lain, maka ini adalah ujian yang berat, terutama pada kejujuran kita kepada sang Khaliq. Kita benar benar sedang diuji apakah ibadah kita yang merupakan refleksi ketundukan kita kepada dzat yang disembah dan dipuja ini murni atau sudah terkontaminasi oleh sifat riya kita di depan publik. 

Ketika ritual ibadah Ramadan harus di rumah, kita benar benar diuji kejujuran transedental kita (terhadap Allah) untuk senantiasa menyembah dan taat kepada Allah sekalipun tidak ada mata sosial yang menyaksikan ibadah kita, tidak adalagi kebersamaan yang menggerakkan kita. Ibadah sholat, sedekah, tarawih, tadarus kita hampir benar-benar menyerupai ibadah puasa, tak ada yang menyaksikan, kecuali kita dan Allah, atau sekedar bersama keluarga.

Sebagai Muslim sejati, semestinya Ramadan di rumah tidak menjadi kendala, karena ini di luar kehendak manusia. Kejujuran transedental kita kepada Allah senantiasa menjadi energi bahwa dimanapun, kapanpun tunduk kepada Allah adalah sebuah kewajiban sekaligus sebuah kebutuhan. Kita yang membutuhkan Allah, bukan sebaliknya.

Kalau kita benar benar jujur kepada Allah tentu saja dalam ritual ibadah Ramadhan seperti ini, kita tidak membutuhkan kehadiran dan kesaksian masyarakat sekitar, cukup kita sendiri dan Allah.

Penulis adalah Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta