HIKMAH RAMADAN: Menjaga Denyut Ramadan saat Pandemi di Taiwan

Warga melaksanakan salat ashar berjamaah dengan memberlakukan jarak sosial (social distancing), di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, Rabu (1/4/2020). - Antarafoto/Irwansyah Putra
22 Mei 2020 18:07 WIB Faaris Mujaahid Aspirasi Share :

Tidak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 memberikan dampak yang luar biasa di setiap sektor kehidupan. Mau tidak mau, kita dipaksa untuk beradaptasi dengan kebiasan yang serba online dan social distancing. Pun begitu dengan kaum muslimin yang mulai akhir April lalu telah memasuki periode yang selalu dinanti setiap tahunnya, yaitu bulan Ramadan.

Ramadan tahun ini memang terasa sangat berbeda. Kegiatan-kegiatan seperti Salat Tarawih berjemaah, tadarus Al-Quran di masjid, jual beli takjil di jalanan, buka bersama, dan ngabuburit dipastikan hampir tidak ada. Akan tetapi, bukan berarti atmosfer Ramadan lantas hilang tanpa kegiatan-kegiatan tersebut.

Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam Muslim Student Association (MSA) di National Cheng Kung University (NCKU), Taiwan. Meskipun Taiwan termasuk salah satu negara yang berhasil meredam perkembangan Covid-19, bukan berarti seluruh kegiatan sudah berjalan dengan normal.

Kegiatan yang menyangkut berkumpulnya orang banyak masih sangat dibatasi, termasuk untuk Salat Jumat dan Tarawih berjamaah yang statusnya masih dilarang. Tetapi keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat mahasiswa-mahasiswa muslim NCKU.

Program-program Ramadan yang tahun-tahun sebelumnya digelar secara luring, untuk tahun ini dilaksanakan seluruhnya secara daring dan mengikuti aturan social distancing. Tercatat ada empat program Ramadan yang ditawarkan oleh MSA NCKU untuk mahasiswa-mahasiswa muslim di kampus NCKU, yaitu iftar take-away menjelang maghrib, weekly da’wah melalui channel YouTube setiap Jumat malam, kultum Ramadhan dan tadarus Al-Quran online yang terlaksana setiap malam.

Iftar take-away atau paket berbuka puasa yang dibagikan setiap hari menjelang maghrib bagi yang berpuasa. Walaupun buka bersama ditiadakan, tetapi pembagian paket berbuka tetap diadakan dengan isi paket menyesuaikan pemberian dari para donatur. Biasanya berisikan kurma, snack/biskuit, minuman kemasan teh susu, atau nasi kotak.

Tidak kurang dari 40 paket terdistribusi setiap harinya. Dan tentunya pembagian paket berbuka ini telah mengikuti aturan protokol social distancing. Tak hanya itu, ada pula program weekly da’wah yang disiarkan secara online di channel YouTube MSA NCKU setiap Jumat malam selama Ramadan. Program mingguan weekly da’wah dipandu oleh seorang moderator dan admin yang membahas berbagai topik kajian ke-Islaman dengan latar belakang narasumber yang beragam.

Selain itu, ada dua program lagi yang dilaksanakan secara bersamaan, yaitu kultum dan tadarus online. Harapan dari adanya kedua kegiatan ini adalah, setelah mahasiswa selesai Salat Tarawih di kamarnya masing-masing, mereka bisa mendengarkan kotbah singkat yang biasa dilakukan saat Salat Tarawih berjemaah di masjid. Lalu, dilanjutkan dengan membaca Al-Quran secara bergantian dengan target satu juz setiap harinya melalui platform messenger Line. Setiap peserta tadarus tetap bisa membaca Al-Quran sesuai gilirannya dan menyimak bacaan peserta lainnya dengan baik.

Selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. Meskipun pandemi ini belum berakhir, hal ini tidak mengkerdilkan semangat sejumlah muslimin untuk tetap menghidupkan suasana Ramadan. Bahkan, esensi Ramadan tetap dapat dinikmati dengan cara yang berbeda dan lebih khusyuk, tanpa mengurangi nilai pahala selama bulan Ramadan.

*Penulis merupakan Dosen Prodi Teknik Elektro UMY, Ph.D sekaligus mahasiswa Aeronautics and Astronautics Engineering NCKU Taiwan