OPINI: Agility di Tengah Pandemi

Th. Agung M. Harsiwi/Ist
17 Juni 2020 20:47 WIB Media Digital Aspirasi Share :

Masyarakat Jogja telah berkali-kali mengalami berbagai macam bencana, mulai dari bencana alam seperti gempa bumi dan gunung meletus sampai bencana nonalam seperti pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini. Setiap bencana tentu mengagetkan semua orang karena pada umumnya terjadi secara mendadak.

Tidak ada seorang pun yang siap manakala terjadi bencana, apalagi bencana yang seumur hidup belum pernah dialami seperti pandemi Covid-19 ini, yang konon pandemi sejenis ini terjadi 100 tahun yang lalu.

 Apakah masyarakat Jogja menyerah dengan keadaan? Pasrah tanpa berbuat apa-apa? Ataukah berani melakukan sesuatu untuk menghadapi bencana apapun yang menimpanya? Ada pepatah change or die,  berubah atau mati, memilih antara beradaptasi atau terpuruk dengan keadaan tanpa berbuat sesuatu.

 Bukan yang terkuat

Charles Darwin melalui teori survival of the fittest yang dibangunnya mengatakan “Bukan yang terkuat yang mampu bertahan, bukan pula yang lebih cerdas, melainkan yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan lah yang mampu bertahan”.

 Begitulah kehidupan, apakah ada pilihan lain selain beradaptasi dengan perubahan, termasuk ancaman pandemi Covid-19 yang melanda masyarakat?

Pada awal terjadinya pandemi Covid-19, masyarakat sempat dibuat panik dengan ketiadaan masker kesehatan yang dapat dibeli masyarakat, kalau pun ada tetapi dijual dengan harga yang tidak wajar.

Tidak berselang lama bermunculan tutorital di dunia maya cara-cara membuat masker kain, diikuti usaha-usaha masyarakat yang membuat masker kain dengan mengerahkan keterampilan menjahit yang dimilikinya, sehingga tidak berapa lama pasokan masker terpenuhi, bahkan berlebih sampai dibagi-bagikan kepada para pengendara motor di jalan.

Demikian juga dengan sabun untuk cuci tangan dan hand sanitizer, masyarakat Jogja beramai-ramai menyediakan di depan rumahnya atau tempat usahanya yang dapat digunakan oleh siapapun yang membutuhkan. 

Masyarakat Jogja, khususnya yang tinggal di perkampungan pun beramai-ramai me-lockdown kampungnya dengan menutup akses masuk gang dengan menyisakan satu gang untuk keluar masuk warganya, diikuti pula dengan dipasangnya berbagai spanduk imbauan untuk di rumah saja.

Tindakan masyarakat menutup akses kampungnya sangat bisa dimengerti karena sekaligus menunjukkan kesadaran masyarakat yang meningkat tajam seiring dengan gencarnya berita-berita Covid-19 di media massa, termasuk di media sosial.

Apakah masyarakat Jogja berhenti sampai di sini dengan berkurung di rumah? Bagaimana dengan sumber penghasilan yang terdampak karena Covid-19? Ternyata masyarakat Jogja tetap menggeliat. Usaha-usaha kuliner masyarakat bermunculan secara masif dengan berbagai macam bentuk. Tumbuhnya komunitas-komunitas kuliner di media sosial yang mempertemukan orang yang menjual produk dengan orang yang membutuhkan produk, lengkap dengan kemudahan pemesanan dan pembayaran seperti   metode cash on delivery (COD) di mana konsumen membayar manakala pesanannya diterima. Inovasi pun tidak hanya terjadi pada cara memasarkan produk kuliner, tetapi produk itu sendiri mengalami perkembangan bentuk seperti munculnya makanan tradisional Jogja gudeg dan jadah tempe berbentuk frozzen.

Larangan pengumpulan massa oleh pemerintah, termasuk penyelenggaraan resepsi pernikahan yang umumnya meningkat tajam sebelum puasa dan sesudah Idulfitri berdampak pula terhadap pengusaha-pengusaha katering di Jogja. Berbagai upaya ditempuh untuk menyelamatkan usaha dan mempertahankan karyawannya.

Pengusaha katering mengubah penawaran masakan untuk santapan di rumah, baik per item, harian, maupun mingguan. Cara promosinya dengan gethok tular melalui media sosial ditempuh agar  dapur katering tetap mengebul sehingga karyawan katering tetap mempunyai pekerjaan dan mendapatkan penghasilan. 

Tidak berapa waktu kemudian, pemerintah juga melarang masyarakat untuk mudik ke kampung halamannya, padahal sudah lazim terjadi saat Idulfitri Jogja dipenuhi oleh para pemudik yang berkumpul bersama keluarga di Jogja. Kekecewaan tidak dapat mudik ke Jogja ternyata membuka peluang munculnya usaha  jasa titip (jastip) yang membelanjakan makanan khas Jogja  yang umumnya disantap pada saat hari raya Idulfitri dan selalu ngangeni bagi orang-orang yang berasal dari Jogja atau pernah tinggal dan hidup di Jogja.

Konsumen atau pemesan makanan cukup memesan melalui jastip itu, sehingga menjelang Idulfitri penjualan makanan khas Jogja pun tetap tinggi.

Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat Jogja akan bahaya Covid-19, usaha-usaha masyarakat Jogja mulai menggeliat kembali dengan penerapan protokol kesehatan. Sudah lazim kita lihat, penjual makanan tradisional  menggunakan alat pelindung diri (APD), bahkan akhir-akhir ini viral di dunia maya adanya penjual gudeg yang menggunakan sarung tangan, masker, bahkan pelindung wajah (face shield)  pada saat melayani konsumen. Artinya kesadaran masyarakat sendirilah yang mampu membentengi dirinya dan membuatnya mampu bertahan dalam berbagai terpaan persoalan.

 Agility Masyarakat

Adaptasi masyarakat Jogja menyikapi pandemi Covid-19 merupakan modal sosial bagi suatu daerah untuk bertahan hidup.  Pandemi covid-19 secara tidak langsung memaksa masyarakat Jogja untuk berubah, menjadi lincah dalam menghadapi berbagai keadaan yang sulit.

 Kelincahan atau agility dari masyarakat Jogja patut diapresiasi dan dipertahankan.   Agility sering dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk mengubah diri dengan cepat dan tepat serta tidak kehilangan keseimbangan pada saat bergerak.

Masyarakat dengan agility yang tinggi akan mampu mengembangkan ide dan kreativitasnya, serta tangkas dan gesit melakukan perubahan tanpa banyak mengeluh.  Agility masyarakat Jogja di masa pandemi ini harus pula didukung oleh masyarakat pada umumnya. Saat bermunculan banyak usaha dengan segala inovasi dan kreativitasnya harus diiringi dengan respons masyarakat untuk membeli produk-produk tersebut.

Berbelanja dan membeli produk inovasi buatan masyarakat Jogja sendiri akan menjadi kekuatan suatu masyarakat untuk bertahan dari  keterpurukan ekonomi. Oleh karena itu, pandemi Covid-19 haruslah menjadi momentum saat agility menjadi gerakan bersama seluruh masyarakat Jogja.

 Tahan uji

Sehebat apapun pandemi Covid-19 menimpa masyarakat Jogja, harus dipahami jika masyarakat Jogja itu tahan uji, karena bukan sekali dua kali ini masyarakat Jogja mengalami bencana. Kecepatan masyarakat beradaptasi, dengan segala kelincahan dan daya kreativitasnya yang sangat mungkin menyelamatkan masyarakat itu sendiri.

 Bertahan dari keterpurukan ekonomi dengan tetap disiplin dan taat pada protokol kesehatan sekaligus menunjukkan adanya ketahanan dalam menghadapi suatu krisis.

*Penulis Th. Agung M. Harsiwi, Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta