OPINI: Menyikapi Kompleksitas Industri Keuangan

Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam
08 September 2020 05:02 WIB Hans Kwee, Direktur Anugerah Mega Investama Aspirasi Share :

Perkembangan ekonomi telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ditandai dengan naiknya kekayaan masyarakat individual. Hal ini juga terjadi di Indonesia di mana semakin banyak orang kelas menengah dan atas.

Hal ini mendorong permintaan akan produk keuangan untuk investasi dan diversifikasi semakin tinggi pula. Kita melihat telah terjadi perkembangan industri keuangan yang semakin maju dan kompleks, sehingga produk keuangan mengalami lintas sektor.

Saat ini salah satu bisnis perbankan adalah melayani high net worth individual (HNWI) melalui divisi wealth management. Orang dianggap kelompok HNWI bila memiliki kekayaan yang likuid melebihi US$1 juta. Kelompok ini dan kelas menengah mengincar investasi yang memiliki return tinggi dengan konsekuensi risiko tinggi. Saat ini bank banyak mencari pendapatan lewat fee base income dengan menjual berbagai produk pasar modal dan asuransi.

Bank memiliki tim relationship manager (RM) yang bertugas mengidentifikasi kebutuhan nasabah dan calon nasabah. Setelah itu RM akan memberikan solusi atas kebutuhan tersebut dengan produk dan layanan yang dimiliki.

Bank sering menawarkan produk reksadana kepada nasabah mereka, baik dengan memindahkan deposito atau penempatan dana baru. Selain itu produk asuransi juga banyak di tawarkan di perbankan saat ini. Saat ini telah terjadi integrasi bisnis perbankan dengan pasar modal dan asuransi.

Perusahaan asuransi saat ini banyak membuat produk unit link dimana terjadi penggabungan asuransi dan investasi untuk menarik minat nasabah. Perusahaan asuransi jiwa yang menawarkan produk gabungan investasi dan asuransi dapat memberikan manfaat lebih besar bagi nasabahnya.

Di sisi lain perusahaan asuransi umum banyak yang menempatkan dana premi dalam produk keuangan, baik di perbankan maupun investasi di pasar modal dalam bentuk saham mapun obligasi.

Ke depan kami melihat produk industri keuangan akan semakin kompleks dan menyatu antara investasi dan proteksi. Perusahan dana pensiun yang mengumpulkan dana dari pesertanya lewat iuran pasti ataupun manfaat pasti juga melakukan investasi di berbagai produk keuangan. Sebagian dana ditempatkan di perbankan, baik tabungan mapun deposito tetapi banyak juga ditempatkan di pasar modal.

Dana pensiun mengincar berbagai produk pasar modal, mulai dari surat berharga negara, surat utang negara, obligasi korporasi, hingga reksa dana. Saat ini banyak dana pensiun mulai melakukan investasi saham secara mandiri. Hal ini untuk membantu perusahaan dana pensiun mencapai target return yang diminta pendiri.

Saat ini akan sangat sulit menghindari terjadinya integrasi industri keuangan. Industri multi finance sebagian memang masih mengandalkan dana perbankan untuk mendapatkan pendanaan, lalu menyalurkan ke pelanggannya. Namun saat ini banyak juga perusahaan multi finance memakai pendanaan dari pasar modal lewat penerbitan surat utang.

Belum lagi hadir perusahaan financial technologi atau fintech yang menawarkan super market produk keuangan. Masayarakat dapat membeli berbagai produk pasar modal dan asuransi di aplikasi tersebut.

Agak sulit memisahkan produk perbankan, pasar modal atau asuransi secara murni. Produk yang ditawarkan di masa depan akan semakin kompleks akibat financial engineering yang mencampur beberapa kateristik produk. Ditambah pemasaran yang lintas sektor keuangan membuat pengawasan sektor finansial terintegrasi menjadi sangat penting. Pengawasan industri keuangan yang terintegrasi akan mampu menghindari potensi penyelewengan atau pelanggaran yang dilakukan.

Ada beberapa pelanggaran dimasa lalu terjadi karena koordinasi dan kekurang pahaman ketika pengawasan dilakukan terpisah. Namun ada juga pelanggaran terjadi karena memanfaatkan celah pengawasan ketika pengawasan dilakukan terpisah.

Pada era pengawasan terpisah oleh Bapepam dan Bank Indonesia, kita melihat ada kasus Bank Century dan PT Antaboga Delta Sekuritas. Pemanfaatan celah pengawasan membuat sebuah investasi tanpa izin resmi dapat dipasarkan ke masyarakat dan mampu menghindari pemeriksaaan yang dilakukan oleh otoritas. Hal ini membuat pemeriksaan tidak maksimal, karena sulit membedakan produk pasar modal atau perbankan. Ketika celah ini dimanfaatkan maka masyarakat atau nasabah akan menjadi korban.

Setelah pengawasan terintegrasi di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), membuat hal ini lebih sulit terjadi. Pengawasan terintegrasi didukung pengawasan secara online dan real time mampu mencegah praktek curang di industri keuangan yang sangat kompleks saat ini. Bila pengawasan dilakukan terpisah maka akan timbul masalah koordinasi antar lembaga. Hal ini ditambah pula dengan perbedaan pemahaman antar lembaga terkait produk yang diawasi.

Memecah pengawasan terintegrasi yang ada saat ini dan mengembalikan pengawasan seperti dahulu adalah sebuah kemunduran. Ke depan kompleksitas produk membuat proses pengawasan terintegrasi sangat diperlukan.

Beberapa isu yang menyebutkan pemerintah mempertimbangkan pengawasan tidak terintegrasi merupakan sesuatu yang kurang berdasar. Langkah ini bila dilakukan di tengah krisis pandemi Covid-19 bisa menimbulkan gangguan stabilitas sistem keuangan yang saat ini sangat terkendali.

Sumber : Bisnis Indonesia