OPINI: Asa Investasi di Tengah Pandemi

Suasana instalasi panel surya dari ketinggian di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (27/8/2020). Penggunaan pembangkit listrik tenaga surya ini sebagai upaya mendukung penggunaan energi yang ramah lingkungan, efektif dan efisien. Bisnis - Himawan L Nugraha
14 September 2020 05:07 WIB Iwan Ungsi, Direktur Indonesia Investment Promotion Center Abu Dhabi Aspirasi Share :

Presiden Joko Widodo serius mengingatkan semua pihak terhadap ancaman resesi. Realisasi investasi kuartal II/2020 juga terkoreksi di angka 4,3% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pandemi Covid-19 sukses meluluhlantakkan perekonomian global.

Indonesia tidak sendiri. Bahkan negara-negara dengan perekonomian maju seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa serta negara-negara tetangga seperti Singapura mengalami resesi yang ditandai dengan dua kali pertumbuhan ekonominya minus. Kondisi di Timur Tengah juga tidak imun terhadap hal ini.

IMF memperkirakan perekonomian di kawasan Timur Tengah akan terkoreksi 3,1% dengan beberapa negara akan mengalami pertumbuhan menurun 4% dari periode sebelumnya (IMF, April 2020). Persatuan Emirat Arab (PEA) sebagai salah satu negara yang menopang pertumbuhan kawasan, bank Sentralnya telah mengumumkan pertumbuhan di kuartal I/2020 minus 1%.

Di tengah ketidakpastian global akibat pandemi, banyak pihak yang terperangkap dalam kondisi meratapi berbagai dampak negatif wabah terhadap ekonomi. Eleanor Roosevelt (1884-1962) pernah menyampaikan bahwa lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.

Salah satu investor yang dapat menyalakan lilin dalam ‘kegelapan’ ini adalah Chairman Lulu Group International Yusuf Ali. Di saat berbagai perusahaan melakukan konsolidasi dan membatalkan rencana investasinya, Lulu di akhir Juli membuka tiga hypermarket baru. Satu di Abu Dhabi bagian Barat, satu di Kairo, Mesir dan satu lagi di Vivo Mall, Sentul, Jawa Barat. (Gulfnews, 31 Juli 2020)

Dalam pernyataannya, Yusuf menyampaikan bahwa tidak ada rencana investasi yang dibatalkan. Memang ada beberapa jadwal yang mundur seperti pembukaan gerai di Sentul yang sebelumnya Maret kemudian bergeser ke akhir Juli. Pada 3 September lalu Lulu kembali membuka cabang ke-192 di dunia yang juga cabang ke-4 mereka di Indonesia di The Park Mall, Sawangan, Depok. Satu lagi akan menyusul di Bellevue Park, Cinere, akhir tahun ini.

Dari sisi nilai investasi di Indonesia, Lulu belum dapat dikategorikan investor besar. Masuknya juga perlahan sejak Mei 2016 di Cakung, Bekasi, yang peresmiannya istimewa karena dihadiri Presiden Jokowi dan Dubes RI untuk PEA Husin Bagis.

Lulu terus beroperasi, survive di tengah kondisi ritel yang justru banyak berguguran. Bila dicermati investasi Lulu menarik karena mencerminkan kolaborasi yang nyata dengan pengusaha swasta nasional, sesuatu hal yang sedang didorong oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) saat ini.

Apabila kita masuk ke Mushrif Mall, gerai Lulu terbesar di Abu Dhabi, ada 600 item produk Indonesia yang dijual di hypermarket tersebut. Produknya beragam, mulai mi instan, pakaian anak, kosmetik, makanan ringan, permen, hingga ikan Tenggiri yang dijual segar dan beku.

Produk-produk Indonesia tersebut bersaing dengan negara-negara lain di etalase, lengkap dengan bendera masing-masing negara. Peritel dengan omzet tahunan mencapai US$ 7,4 miliar ini jeli memanfaatkan wilayah operasinya yang berada di 22 negara, termasuk Indonesia.

Selain Lulu, di bidang garmen ada Landmark Group yang semasa pandemi ini juga membuka dua gerai babyshop di Tanah Air. Mirip dengan Lulu, Landmark Group yang bermarkas di Dubai, PEA juga menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis untuk memasok gerai mereka yang tersebar di 19 negara. Asa investasi lainnya datang dari salah satu 11 kesepakatan bisnis yang dipertukarkan di depan Presiden Jokowi dan Putra Mahkota Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan di Abu Dhabi, PEA, pada Januari lalu.

Salah satunya adalah konsorsium Abu Dhabi Future Energy Company atau Masdar dengan cucu perusahaan PT PLN (Persero), yakni PT PJB Investasi. Konsorsium Masdar-PT PJB Investasi terus berupaya untuk merealisasikan investasinya di Indonesia.

Di tengah situasi pandemi, kedua entitas usaha berhasil mendirikan usaha patungan di bawah bendera PT PJB Solar Masdar Energi pada 7 Juli 2020 yang akan menjadi kendaraan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung di Cirata, Jawa Barat.

Masdar jelas bukan investor ‘recehan’, karena merupakan salah satu pemain global dalam energi terbarukan dengan jejak rekam global yang jelas di pembangkit tenaga surya dan tenaga bayu (angin). Di Cirata, perusahaan energi berbasis di Abu Dhabi ini akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung dengan kapasitas 145 MW dengan investasi US$129 juta.

Melihat prospek lebih jauh, Masdar sudah menyatakan Indonesia akan dijadikan hub bagi penetrasi mereka di Asia Tenggara. Proyek floating solar panel tersebut akan menjadi yang terbesar di kawasan ini.

Pembangkit yang dibangun konsorsium Masdar dan PT PJB Investasi akan menyaingi pembangkit listrik tenaga surya terapung di Anhui, China dengan kapasitas 150 MW yang sudah beroperasi dan merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Usai pendirian entitas usaha, langkah selanjutnya jelas membutuhkan dukungan segala pihak.

BKPM yang akan memfasilitasi end to end mulai di tingkat pusat seperti Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan dan Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Sementara hingga izin lokasi dan izin lingkungan serta persyaratan lainnya sebelum diterbitkan izin lingkungan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi minus dan ancaman resesi yang di depan mata ini, sinergi untuk merealisasikan investasi menjadi krusial. Jangan sampai ada kabar bahwa daerah justru bermain-main dengan menarik retribusi yang tidak seharusnya kepada investor asing. Adalah tugas bersama untuk mengawal investasi berkualitas yang masuk ke Indonesia seperti Lulu, Landmark, Masdar, DP World dan perusahaan-perusahaan global lainnya.

Para pemain dunia tersebut sebisa mungkin didorong bermitra dengan perusahaan-perusahaan di Indonesia. Dalam kondisi pandemi yang penuh kegelapan ini, perlu keberpihakan yang jelas pada energi positif dan keyakinan bahwa kondisi dengan segala keterbatasan ini akan segera berakhir.

Sumber : Bisnis Indonesia