OPINI: Jalan Pintas UMKM Go Digital

Pekerja memotret produk sepatu Prospero yang akan dipasarkan melalui platform digital di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (3/7/2020). Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika, sebanyak 9,4 juta UMKM sudah menggunakan atau memasarkan produknya melalui pasar e-commerce dan mendapatkan manfaat penggunaan teknologi digital untuk transaksi lintas batas. - ANTARA FOTO/Adeng Bustomi
20 Oktober 2020 05:02 WIB Bhima Yudhistira Adhinegara, Peneliti Indef Aspirasi Share :

Pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksi mengalami kontraksi hingga tumbuh negatif pada kuartal ke III/2020. Artinya Indonesia akan masuk dalam resesi. Kabar baiknya, masih ada peluang untuk menahan laju resesi agar tidak berlanjut hingga kuartal ke IV, bahkan ekonomi bisa rebound pada kuartal awal 2021.

Kunci dari pemulihan ekonomi adalah melakukan digital leap forward atau lompatan besar digital. Indikasi transformasi digital yang cukup cepat dibuktikan dari perubahan pola konsumsi masyarakat sepanjang semester I/2020. Ketika masyarakat melakukan karantina secara mandiri, order makanan secara daring meningkat pesat. Pembelajaran pun dilakukan secara daring.

Secara otomatis sektor penunjang aktivitas digital yakni jasa penyedia internet juga ikut meraup untung. Hal ini membuat pertumbuhan jasa informasi komunikasi tumbuh cukup tinggi yakni 10,8% di saat sektor usaha lainnya minus.

Demam digital ini harus dimanfaatkan untuk menambah aktivitas ekonomi yang melandai, karena aktivitas konvensional mati suri (paralisis). Tantangannya dalam setiap krisis (1998 dan 2008), UMKM selalu menjadi roda penyelamat ekonomi. Dengan kontribusi 60% terhadap PDB, dan 97% lebih bagi serapan tenaga kerja nasional tentunya juru selamat dalam krisis atau resesi kali ini pun harusnya berasal dari UMKM.

Faktanya, menurut data dari ADB per Juni 2020, selama pandemi terdapat 60% UMKM di Indonesia yang mengurangi karyawan setiap bulan setelah wabah. Hal ini sejalan dengan besarnya jumlah UMKM yang tidak memperoleh pendapatan pada bulan kedua setelah wabah akibat penutupan usaha sementara.

Dalam riset SME Asia tidak ada jalan lain untuk mendorong rebound ekonomi tanpa melibatkan UMKM dalam transformasi digital. Modal 175 juta pengguna internet aktif di Indonesia sudah lebih dari cukup sebagai basis pasar bagi UMKM.

Pertanyaannya, dengan booming digitalisasi yang begitu cepat akibat pandemi, apakah banyak UMKM sudah masuk dalam ekosistem digital? Ternyata masih kecil. Hanya ada 13% UMKM dari 64,1 juta unit yang masuk dalam ekosistem digital, khususnya dalam transaksi jual beli. Artinya 87% UMKM masih berjualan secara konvensional dan belum mendapatkan manfaat dari adanya digital bonanza ini.

Kondisi ini juga disebabkan oleh belum terjawabnya kebutuhan UMKM akan platform digital yang ramah, terutama bagi kalangan UMKM yang umumnya baru pertama kali mengadopsi teknologi. Sebagian besar UMKM menginginkan sebuah teknologi untuk membantu mereka berinovasi dan wawasan untuk mengembangkan bisnis mereka tapi mudah diaplikasikan secara mandiri untuk kegiatan sehari-hari.

Pandemi yang mengubah tatanan dunia telah menunjukkan pentingnya digitalisasi. UMKM yang telah mengadopsi teknologi digital terbukti dapat terus beroperasi selama masa PSBB, dan dapat meminimalisasi dampak pandemi terhadap bisnis mereka.

Kemunculan aplikasi GrabMerchant dari Grab misalnya, menjawab kebutuhan ini. Pelaku usaha UMKM diuntungkan dengan adanya aplikasi tersebut, karena proses bergabung menjadi mitra sangat cepat dan dapat dilakukan secara mandiri.

Inovasi seperti inilah yang sangat dibutuhkan saat ini agar UMKM dapat segera beradaptasi dalam new normal. Sebagai platform digital, GrabMerchant juga menawarkan fitur Grosir untuk membantu pelaku usaha UMKM memperoleh bahan baku dengan harga yang cukup kompetitif.

Terdapat lebih dari 100.000 mitra merchant untuk mensuplai kebutuhan pelaku UMKM. Jadi ada semacam linkage atau jaringan yang ingin dihubungkan antara pelaku usaha UMKM dari hulu ke hilir. Jika sesama pelaku usaha UMKM saling terintegrasi dalam platform yang sama maka efisiensi dan konektivitas akan terjadi.

Kelemahan lain dari pelaku usaha UMKM untuk masuk dalam ekosistem digital adalah konten dan mekanisme pemasaran yang berbeda. Beberapa bahkan mengeluh karena kurangnya informasi dan layanan tentang kemudahan pemasaran untuk menjangkau konsumen lebih luas.

Teknologi pemasaran yang terjangkau mutlak dibutuhkan bagi pelaku usaha UMKM. Dengan biaya sekitar Rp45.000—Rp50.000 per hari untuk beriklan secara digital bagi UMKM tentu terjangkau. Apalagi sasaran konsumen bisa didetailkan melalui pemanfaatan teknologi.

Momentum ini tidak bisa ditunda lagi. Pemerintah dan pelaku usaha yang inovatif perlu gotong royong untuk keluar dari jebakan resesi berkepanjangan. Digagasnya program Bangga Buatan Indonesia oleh Pemerintah untuk mendukung UMKM yang terdampak pandemi adalah sebuah awal yang baik untuk merangkul semua pemangku kepentingan dan bergotong royong menyelamatkan tulang punggung ekonomi negeri.

Dari sisi pemerintah tentunya pendampingan bagi UMKM yang belum masuk kedalam sistem perlu mendapatkan perhatian. Aplikasi yang disebut tadi diharapkan bisa didorong untuk saling melengkapi dengan program UMKM Go Digital pemerintah.

Sinergi ini bisa terbagi ke dalam beberapa aspek, dimana pemerintah misalnya menyalurkan bantuan produktif UMKM tapi di sisi lain menggandeng aplikasi untuk mempercepat penerima bantuan untuk masuk dalam dan beradaptasi ke dalam ekosistem digital.

Semakin banyak UMKM masuk ke ekosistem digital, semakin banyak pengangguran yang bisa terserap lagi.

Sumber : Bisnis Indonesia