OPINI: Pemulihan Sektor Pariwisata Era Post Normal

Gerry Katon Mahendra, Dosen Universitas Aisyiyah Yogyakarta / ist
08 November 2020 23:27 WIB Gerry Katon Mahendra, Dosen Universitas Aisyiyah Yogyakarta Aspirasi Share :

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia lebih dari delapan bulan ini membuat berbagai sektor penopang ekonomi Negara mengalami kondisi yang tidak menentu dan cenderung berada pada situasi melemah yang signifikan.

Sampai saat ini industri manufaktur, keuangan, hingga pariwisata menjadi sektor paling terdampak pandemi Covid-19. Berbicara mengenai sektor pariwisata, sebelum pandemi, sektor tersebut menjadi salah satu tumpuan ekonomi Negara karena mampu menjadi penyumbang devisa Negara terbesar kedua setelah industri pengolahan kelapa sawit. Hal tersebut dibuktikan dengan realisasi devisa Negara sebesar Rp280 triliun rupiah sepanjang 2019. Tidak mengherankan apabila pada tahun 2020, pariwisata diharapkan mampu kembali menjadi tumpuan utama dalam upaya realisasi devisa Negara. Namun, merebaknya wabah virus Corona membuat harapan tersebut sangat sulit untuk diwujudkan.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Juni 2020, jumlah wisatawan, khususnya mancanegara mengalami penurunan sangat drastis. Sebagai perbandingan, hinga April 2020 wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia hanya mencapai 160.000 orang (negatif 87.44%), sedangkan pada periode yang sama tahun 2019 kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 1.3 juta orang. Berdasarkan kondisi tersebut, Bappenas memproyeksikan bahwa sektor pariwisata akan kehilangan 12 juta wisatawan (year-on-year). Sementara devisa yang hilang diperkirakan sebesar US$15 miliar (year-on-year) atau sekitar Rp219 triliun. Kondisi tersebut tentu menjadi pukulan berat bagi perekonomian Negara dan pelaku pariwisata di Indonesia. Larangan bepergian dan berkerumun pada tempat keramaian merupakan hal yang bertolak belakang dengan konsep kegiatan pariwisata yang selama ini diterapkan pada umumnya, sehigga tentu saja membuat kegiatan pariwisata saat ini seolah menjadi mati suri.

***

Namun, memasuki kwartal ketiga tahun 2020, harapan untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata di Indonesia kembali muncul. Harapan ini tidak terlepas dari kebijakan new normal dalam berbagai sektor (termasuk pariwisata) yang telah dikeluarkan oleh pemerintah, meskipun sempat diperdebatkan/dikaji ulang karena kasus positif Covid-19 yang kembali meningkat pasca penerapan new normal. Namun, new normal atau saat ini dirasa lebih tepat jika disebut dengan istilah post normal seperti menjadi sesuatu hal yang sulit untuk ditolak, termasuk dalam sektor pariwisata. Tingginya tingkat kejenuhan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional yang terus memburuk menjadi landasan kuat untuk kemudian memulai upaya pemulihan kondisi pariwisata. Bak gayung bersambut, pemulihan kondisi pariwisata di Indonesia saat ini nyatanya sudah didukung oleh kondisi lain yang berkaitan, misalnya dari sektor penerbangan yang mulai mencatatkan tren positif.

Sektor penerbangan tetap membuka penerbangan internasional dari dan ke Bandara Soekarno Hatta. Setidaknya hingga Oktober 2020, terdapat 21 rute penerbangan internasional yang masih tetap dibuka. Data lain menyebutkan bahwa pada periode Oktober 2020, jumlah penumpang Bandara Soekarno Hatta mencapai 2.14 juta orang atau melonjak sekitar 19% dibandingkan pada September 2020 sebanyak 1.79 juta orang. Harapan pemulihan juga muncul dari keberpihakan pemerintah melalui stimulus pariwisata yang gencar dibahas dan mulai direalisasikan oleh pemerintah dengan nilai mencapai triliunan rupiah. Momentum dan indikator pendukung ini tentu harus dimanfaatkan dan disinergikan bersama para pelaku pariwisata dengan terus berbenah, bangkit dan menyesuaikan standar baru era post normal.

Menurut pendapat Goeldner dan Ritchie (2006) mendefinisikan bahwa kebijakan pariwisata sebagai regulasi, aturan, pedoman, arah dan sasaran pembangunan, promosi serta strategi yang memberikan kerangka dalam pengambilan keputusan individu maupun kolektif yang secara langsung memengaruhi pengembangan pariwisata dalam jangka panjang dan sekaligus kegiatan sehari-hari yang berlangsung di suatu destinasi wisata.

***

Berdasarkan pendapat tersebut, maka konsep, strategi dan inovasi menjadi kebutuhan pokok dalam mengelola wisata secara komperhensif pada era post normal. Pertama, konsep dan standar baru pengelolaan destinasi wisata menjadi hal paling mendasar pada era post normal. Standar kelayakan protokol kesehatan dan rasionalisasi jumlah pengunjung harus diterapkan secara konsisten sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Satu upaya tambahan yang dirasa wajib untuk dimiliki dan konsisten diterapkan para pelaku wisata adalah dengan menyediakan dan menerapkan crisis management melalui penyediaan akses terhadap fasilitas kesehatan lanjutan bekerjasama dengan pengelola fasilitas kesehatan setempat. Upaya ini bisa diimplementasikan dengan menyediakan ambulans siaga maupun tenaga medis yang siaga di lokasi wisata selama jam operasional.

Dampak positif yang dirasakan bagi wisatawan dalam maupun luar negeri, tentu saja akan meningkat rasa aman, nyaman, dan rasa kepercayaan selama melakukan kegiatan wisata. Usaha ini tentu akan sangat relevan dan bermanfaat jika diterapkan secara konsisten, terlebih dukungan dan keberpihakan juga akan terus diberikan pemerintah melalui stimulus yang ada.

Kedua, strategi pemulihan dan penguatan sektor wisata era post normal secara umum dapat ditempuh dengan terus menerus membangun kepercayaan pasar terhadap pariwisata Indonesia melalui media promosi yang efektif, seperti melalui inluencer media sosial dalam dan luar negeri, iklan dengan jangkauan global, dan terus mengenalkan program Visit Indonesia melalui berbagai kegiatan dan acara yang relevan.

Ketiga, terkait dengan inovasi. Inovasi yang harus dilakukan adalah dengan terus melihat situasi kondisi terkini, riset kebutuhan pasar, dan menangkap tren pasar serta jangan segan untuk melakukan perubahan (reorientasi) produk destinasi wisata sebagai upaya untuk tetap bertahan dan tetap dilirik oleh para wisatawan.

***

Sekali lagi, pandemi Covid-19 memang belum berakhir, namun dalam konteks Indonesia memang ada banyak pertimbangan untuk kemudian perlahan-lahan memulai dan memulihkan kembali sektor vital penopang ekonomi Negara. Terlebih sektor pariwisata, mengingat didalamnya terdapat banyak sekali aktor, komponen, dan juga sumbangsih besar yang harus tetap dijaga guna mendukung stabilitas perekonomian negara.

Perkembangan ketersediaan vaksin Covid-19 yang digadang-gadang akan siap pada tahun 2021 juga harus mampu dijadikan dasar penguat bahwa sektor pariwisata sudah saatnya bangkit dan segera “siap-siap” untuk siap menyambut era baru agar semakin produktif memutar lagi roda perekonomian dan memberikan sumbangsih besar pada perekonomian Negara dengan tetap menyandingkannya dengan standar era post normal.