Menata Kembali Denyut Kehidupan Kota

Petugas Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta melakukan dekontaminasi usai menyemprotkan cairan disinfektan di Kompleks Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (1/12/2020). Proses disinfeksi tersebut dilakukan menyusul terkonfirmasi positif Covid-19 Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Ahmad Riza Patria. - Antara
14 Desember 2020 06:07 WIB Nirwono Joga, Pusat Studi Kesehatan Aspirasi Share :

Penularan Covid-19 belum bisa dikendalikan. Jumlah kasus baru terus bertambah setiap hari. Kedatangan paket vaksin Sinovac, menyusul beragam jenis vaksin Covid-19, memberikan asa pengentasan pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 telah menyadarkan semua pihak untuk bergerak kembali ke alam (kota alami). World Economic Forum 2020 menyebutkan pandemi Covid-19 merupakan peringatan kepada manusia agar berhenti melampaui batas mengekploitasi alam.

Panel Antar-Pemerintah tentang Perubahan Iklim telah mengingatkan bahwa pemanasan global mungkin akan mempercepat munculnya virus baru. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menambahkan bahwa pemanasan global dan perubahan iklim telah memunculkan penyakit lingkungan baru.

Pandemi Covid-19 terbukti mengubah kehidupan kota dan kita di seluruh dunia. Kota-kota terlihat mencekam, bak kota hantu. Wajah bermasker, menjaga jarak fisik, rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta menghindari kerumunan, sudah menjadi kebiasaan baru hidup di kota.

Kesehatan kota berkontribusi penting dalam menjaga kesehatan masyarakat dan kegiatan perekonomian kota. Dalam World Cities Report 2020: The Value of Sustainable Urbanization (UN Habitat, 2020), PBB mendorong peran kota untuk menggerakkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk komunitas lokal, untuk memulihkan kehidupan kota secara bertahap. Sekretaris Jenderal PBB melihat peran kota sehat sebagai garis depan penanggulangan pandemi Covid-19.

Para pengambil kebijakan dan pemerintah kota/kabupaten harus memperkuat komunitas secara strategis dan sistematis dalam merencanakan kota yang sehat, menerapkan dan mengawasi co-creation kota ke depan.

Pengembangan kota sehat berperan mendukung paket kebijakan stimulus pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja (baru), memperlancar layanan dasar kesehatan dan pendidikan, menjamin transformasi ekonomi hijau, menyediakan tempat tinggal yang lebih layak huni dan sehat (terutama permukiman padat kumuh), mengembangkan ruang terbuka hijau lebih banyak, serta membangun kembali rantai nilai kearifan lokal yang menyehatkan dalam kenormalan baru.

Kota sehat harus mampu menciptakan kota layak huni dan tangguh melewati berbagai risiko bencana alam dan nonalam. Penataan ulang kesehatan kota membutuhkan dukungan komunitas. Pandemi menegaskan bahwa perencanaan kota sehat bukan hanya tentang aspek fisik sebuah kota tetapi juga tentang dukungan keterlibatan komunitas dan lebih peka memahami aspirasi warga.

Masyarakat menengah bawah yang berada di permukiman padat kumuh termasuk kelompok masyarakat paling terdampak (zona merah) kluster penyebaran Covid-19. Kesehatan kota diwujudkan dengan peremajaan pemukiman padat, memperbaiki kondisi lingkungan menjadi lebih bersih, saluran air lancar, sanitasi higienis, ketersediaan layanan air bersih, gas, dan listrik, hunian (vertikal) dengan layak huni dan sehat, tempat pengolahan sampah dan limbah terpadu ramah lingkungan. Kawasan pemukiman menerapkan protokol kesehatan dengan ketat.

Arsitektur kota sehat dirancang dapat beradaptasi pasca pandemi dengan meningkatkan infrastruktur kesehatan masyarakat. Rencana kota sehat yang komprehensif mencakup strategi pengembangan, dan visi komunitas dalam merancang (ulang) tingkat kepadatan kawasan (dari tinggi ke rendah), ketersediaan ruang terbuka hijau yang tersebar merata, infrastruktur trotoar dan jalur sepeda, serta fasilitas publik yang bersifat individual.

Pandemi Covid-19 mendorong perencana kota untuk berkolaborasi lintas profesi seperti ahli kesehatan masyarakat, rekayasa sosial, teknik lingkungan, arsitek, arsitek lanskap, dan berpikir lebih luas interdisiplin ilmu. Mereka berkolaborasi untuk menyediakan infrastruktur kesehatan masyarakat (aksesibilitas dan layanan fasilitas kesehatan) yang layak bagi semua.

Kota sehat harus mampu membentuk komunitas yang sehat jiwa raga. Disparitas perumahan dan kebutuhan akan rumah layak huni sudah harus memasukan kebutuhan ruang yang cukup untuk bekerja, belajar, berniaga, dan beribadah di rumah, serta ruang isolasi mandiri (jika dibutuhkan), setidaknya ketika pembatasan sosial berskala besar diterapkan.

Saat karantina wilayah, ketersediaan balkon-balkon pada bangunan hunian vertikal (rusun, flat, apartemen) sangat penting sebagai tempat untuk menghirup udara segar dari luar (terutama di pagi hari). Balkon menjadi tempat penting untuk saling melihat/menyapa/memberi semangat antartetangga yang saat ini mulai terlupakan dalam desain hunian bertingkat.

Kota sehat menciptakan peluang untuk lebih dekat dengan alam. Di tengah pandemi, warga kota membutuhkan taman di lingkungan perumahan untuk melepaskan kepenatan selama berdiam diri di rumah maupun hunian vertikal (rusun, flat, apartemen) yang sebagian besar tidak berukuran luas. Ketersediaan taman yang tersebar merata ke seluruh permukiman akan memudahkan warga ke taman dengan berjalan kaki atau bersepeda.

Aktivitas olahraga rutin di taman secara mandiri dengan tetap menjaga jarak dan menjauhi kerumunan bertujuan membuat komunitas warga tetap sehat bugar agar efektif menolak Covid-19. Komunitas kota sehat menyakini di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Perubahan perilaku warga terhadap adaptasi pola hidup bersih dan sehat di kala pandemi Covid-19 merupakan kunci keberhasilan memasuki kenormalan baru. Kebiasaan baru hidup sehat telah mempercepat langkah menerapkan prinsip pembangunan kota yang selaras alam. Kota yang mengedepankan kebersihan, kesehatan, kesejahteraan, keamanan, dan ramah lingkungan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia