OPINI: Sandwich Generation di Balik Angka Sensus Penduduk

Th. Agung M. Harsiwi, Dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Sejak beberapa minggu yang lalu, Biro Pusat Statistik (BPS) telah mengeluarkan hasil Sensus Penduduk 2020 (SP2020). Sensus penduduk yang berlangsung pada masa pandemi dari Februari sampai September 2020 dilakukan secara online dan wawancara telah menyajikan informasi menarik untuk dicermati. Satu di antaranya penambahan 32,56 juta jiwa penduduk Indonesia dibandingkan hasil SP2010, sehingga total penduduk Indonesia saat ini mencapai 270,20 juta jiwa. Apakah ini potensi baru ataukah permasalahan baru bagi masyarakat?  

Potensi versus Masalah

Selain menunjukkan kenaikan jumlah penduduk, SP2020 juga memotret struktur penduduk Indonesia yang dikelompokkan menurut usia. Mengacu pada  Frey (2020), penduduk Indonesia dikelompokkan menjadi enam generasi, pre-boomer berusia 75 tahun ke atas (1,87%), baby boomer berusia 56-74 tahun (11,56%), dan generasi X berusia 40-55 tahun (21,88%) sebagai generasi tua. Generasi muda ditandai oleh generasi milenial berusia 24-39 tahun (25,87%), generasi Z berusia 8-23 tahun (27,94%), dan generasi post gen Z berusia di bawah 8 tahun (10,88%). Data ini menegaskan lebih dari separuh penduduk Indonesia atau 64,69% adalah generasi milenial, generasi Z, dan generasi post Z yang menjadi tumpuan masa depan Indonesia.

Namun di sisi lain, sungguhkah struktur penduduk Indonesia ini potensi atau jangan-jangan justru masalah? Jika dicermati lebih lanjut, kelompok produktif yang sekarang bekerja didominasi generasi X dan generasi milenial, berbanding dengan kelompok tidak produktif seperti generasi orang tua (pre baby boomer, baby boomer) dan generasi anak-anak yang masih studi (generasi Z, generasi post gen Z). Perbandingan  47,75% dengan 52,25%, artinya kelompok produktif harus menopang 4 generasi lain yang sudah tidak produktif dan belum produktif, yang tentu menjadi beban tersendiri.

Komposisi kelompok produktif dan tidak produktif ini mempertegas munculnya sandwich generation dalam masyarakat kita. Sebagaimana pertama kali Dorothy A. Miller di tahun 1981 memunculkan istilah sandwich generation sebagai orang dewasa yang menanggung hidup anak-anak mereka, juga menanggung hidup orang tua mereka. Dengan kata lain, sekelompok orang yang harus mencukupi kebutuhan ekonomi banyak orang yaitu keluarga inti dan orang tuanya dalam waktu bersamaan.

Sandwich generation banyak dijumpai pada negara-negara berkembang seperti Indonesia yang dikenal mempunyai nilai-nilai kekerabatan dan kekeluargaan yang sangat kuat. Salah satunya, seorang anak setelah dibesarkan orang tuanya sudah selayaknya berbakti kepada orang tuanya. Tanda bakti sering dimaknai sebagai membantu, bahkan menopang kehidupan ekonomi orang tuanya. Sementara angka harapan hidup penduduk Indonesia cukup tinggi, bahkan tertinggi di DIY mencapai 74,95 tahun. Kondisi menjadi tidak ideal ketika tidak ada kesiapan finansial kelompok usia tua untuk masa pensiunnya, terutama ketika sakit berkepanjangan.

Beruntunglah sandwich generation yang cukup mapan secara finansial, sehingga mempunyai kelonggaran dana untuk membantu orang tuanya. Bagaimana jika belum cukup mapan untuk membantu orang tuanya karena pada saat bersamaan juga harus menghidupi keluarga intinya, termasuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Di sinilah sandwich generation dituntut memiliki literasi keuangan yang baik untuk mengatur keuangan keluarganya, baik untuk kepentingan keluarga inti maupun orang tua. Ada banyak alternatif bagi sandwich generation untuk membantu orang tuanya, seperti mengikutsertakan orang tua dalam asuransi kesehatan atau membantu keuangan orang tua tanpa mengorbankan keperluan dari anak-anaknya.

Namun demikian, ada hal yang jauh lebih penting dilakukan sandwich generation, yaitu ‘memutus mata rantai sandwich generation’ atau ketergantungan finansial pada saat tidak produktif lagi. Hal ini dilakukan agar di kemudian hari saat sandwich generation ‘menua’ tidak merepotkan anak-anaknya, terutama secara finansial. Dengan kata lain, sandwich generation tidak melahirkan sandwich generation berikutnya.

Itulah pentingnya sandwich generation mempersiapkan tabungan hari tuanya dengan ‘tidak berlebihan’ dalam kehidupannya, termasuk dalam membiayai anak-anaknya. Kadangkala sebagai sandwich generation ingin berbuat yang terbaik bagi anaknya dengan mengeluarkan banyak uang untuk kepentingan anak sampai terlupa menyiapkan dana hari tuanya.

Dana hari tua dapat dibangun dari kesadaran berinvestasi sedini mungkin. Investasi itu sendiri berarti menempatkan sejumlah dana pada waktu tertentu dengan harapan dana itu memberikan peningkatan nilai. Investasi pada instrumen investasi yang tepat menjadi pilihan agar sandwich generation di hari tuanya tidak membebani generasi sesudahnya atau anak-anaknya. 

Catatan Penutup

Data SP2020 harus sungguh-sungguh menjadi peringatan bagi kita semua, seiring kesehatan masyarakat yang meningkat maka angka harapan hidup penduduk Indonesia semakin panjang. Diikuti juga dengan semakin mahalnya biaya hidup menuntut setiap orang mengelola kehidupannya dengan baik, termasuk untuk masa tidak produktifnya.

Sebagai upaya memutus mata rantai sandwich generation, perlu dibangun literasi keuangan, termasuk kesadaran berinvestasi untuk dana hari tua. Berbekal hidup yang “tidak berlebihan”, kesadaran berinvestasi, dan pengetahuan investasi yang memadai akan membuat sandwich generation di masa tuanya mempunyai hidup layak dan mandiri, serta tidak menjadikan anak-anaknya sebagai sandwich generation baru.