OPINI: Menaksir Pergeseran Perilaku Konsumen ke Pola Belanja Pick-Up

Mahestu N Krisjanti, Dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Sudah hampir satu tahun kita hidup berdampingan dengan Covid-19. Sudah hampir setahun pula, virus ini memaksa kita untuk mengubah pola hidup, pola bersosialisasi, termasuk juga pola belanja kita.  Masyarakat memilih untuk mengurangi mobilitas sebagai upaya untuk menghindari tertular virus.

Hal ini tentu akan berdampak pada pola belanja konsumen. Pembelanjaan dengan cara konvensional yaitu pembeli datang ke penjual dan melakukan transaksi di toko menjadi turun secara signifikan. Perilaku belanja ini digantikan dengan pola baru, konsumen mengandalkan teknologi untuk berbelanja secara online. Paling tidak, ada tiga macam platform penjualan yang meningkat secara signifikan selama pandemi Covid-19 ini.

Pertama, penjualan lewat online marketplace menjadi meningkat secara signifikan, dan ini menjadi celah bisnis yang menggembung dengan cepat. Kendala yang dihadapi oleh pembeli pada platform ini adalah jarak waktu antara memesan barang dan barang di terima. Hal ini karena platform ini melibatkan beberapa pihak. Sebut saja, penyedia platform, penyedia barang (penjual), dan perusahaan jasa ekspedisi yang bertanggung jawab mengantar barang sampai di tangan konsumen.

Meskipun pemesanan barang dilakukan pada penyedia atau penjual barang di dalam kota, tetapi dalam banyak kasus dibutuhkan waktu lebih dari 24 jam untuk barang sampai di tangan konsumen. Kendala kedua adalah, biaya pengiriman yang kadang tidak murah terutama bila dibandingkan dengan harga barang yang dipesan.

Kedua, pola belanja lewat aplikasi ojek online. Pola belanja lewat aplikasi ini memungkin konsumen mendapatkan barang lebih cepat, karena pemesanan dan pengiriman dilakukan di saat yang kurang lebih bersamaan. Pembelanjaan lewat aplikasi ini meningkat tajam selama masa pandemi, terutama untuk pembelanjaan kuliner.

Platform menjadi salah satu favorit konsumen dalam berbelanja kuliner selama masa pandemi. Namun demikian, untuk pembelanjaan groseri atapun bahan masakan mentah seperti misal sayuran dan buah-buahan memang masih terbatas. Kendala yang dihadapi oleh pembeli pada platform ini adalah harga barang yang kadang sedikit lebih mahal dan juga biaya pengiriman. Permasalahan lain adalah kurangnya ketersediaan “abang ojek” di beberapa area tertentu. 

Ketiga, penggunaan teknologi yang lebih sederhana seperti misalnya Whatsapps, Line atau aplikasi sejenis lainnya. Penjual men-display barang dagangan di media sosial mereka, kemudian pembeli bisa melakukan pemesanan lewat aplikasi chatting. Setelah transaksi disepakati, maka penjual akan menggunakan fasilitas ekspedisi untuk melakukan pengiriman.

Kendala yang dihadapi waktu pengiriman yang kadang membutuhkan waktu yang lama. Kendala yang lebih besar adalah munculnya perasaan tidak aman dan tidak adanya jaminan kepastiaan. Sedikit berbeda dengan penjualan lewat marketplace, akan menjadi suatu jaminan transaksi yang aman. 

Walaupun dengan berbagai macam kendala tersebut, namun penggunaan beberapa platform tersebut tetap meningkat secara signifikan selama pandemi ini. Apakah penggunaan platform dan pola belanja ini masih akan sangat diminati oleh pembeli ketika pandemi berakhir dan mobilitas manusia menjadi tidak dibatasi lagi.

Bagaimana dengan para pedagang kecil seperti misalnya toko kelontong di tengah kampung, penjual bahan makanan mentah di perkampungan yg mengandalkan masyarakat sekitar untuk membeli produknya dalam basis harian?

Bagaimana juga dengan penjual jajanan pasar yang biasanya membuka lapak sejak jam 6 pagi, dan menyiapkan jajanan untk sarapan maupun untuk bekal sekolah anak-anak? Apakah pola belanja konvensional sebelum pandemi bisa diharapkan kembali? Ataukah, konsumen menghendaki adapatasi pada pola belanja mereka?

 

***

Para pedagang kecil perlu berpikir secara kreatif untuk menyelamatkan usahanya terutama pascapandemi. Tanpa berinovasi, bisnis mereka akan mudah dikalahkan oleh retailer skala besar. Salah satu terobosan yang perlu diambil oleh para pedangan kecil adalah beradaptasi sesuai perubahan perilaku konsumen dan meminimalkan kendala-kendala yang dihadapi konsumen terutama pada platform yang saat ini sedang naik daun.

Pola belanja Pick-Up bisa menjadi salah satu opsi cerdas bagi pedagang kecil, terutama yang mengandalkan konsumen sekitar sebagai target pasar. Pembeli diberikan peluang untuk memesan produk, lewat aplikasi chatting. Untuk kemudian, penjual menyiapkan barang yang dipesan. Di waktu yang ditentukan pembeli bisa mengambil tanpa harus berlama-lama di toko.

Strategi ini terlihat seperti strategi yang sederhana, dan seakan kuno. Tapi coba kita lihat implikasi, misalnya pada pedagang bahan makanan basah  (sayur, daging dan sebagainya). Pembeli melakukan pemesanan H-1, untuk kemudian penjual akan berbelanja di pasar sesuai pesanan. Pembeli bisa mengambil pesanan di waktu yang ditentukan, misalnya sepulang dari kantor atau sepulang dari mengantar anak ke sekolah.

Waktu yang dibutuhkan oleh pembeli untuk berbelanja menjadi pendek. Ketersediaan barang yang diinginkan akan terjamin, karena sudah melakukan pemesanan. Pembeli tidak harus menanggung biaya pengiriman, karena mereka mengambil barang dagangan sendiri.

Penjual juga diuntungkan dengan sistem pick-up ini, karena kemungkinan barang dagangan tidak laku menjadi lebih kecil, karena sebagian besar adalah barang yang sudah dipesan.

Apakah masih ragu dengan strategi sederhana ini? Kita lihat dalam skala yang lebih kecil lagi, pada pedagang jajanan pasar di pagi hari. Situasi terburu-buru karena akan mengantar sekolah anak atau akan ke kantor menjadi semakin tertekan ketika harus mampir membeli bekal di lapak jajanan pasar.

Bagaimana kalau konsep pick-up ini dikombinasikan dengan konsep drive-thru? Pembeli melakukan pemesanan sehari sebelumnya, pedagang menyiapkan barang, di pagi hari pembeli tidak perlu turun dari kendaraan untuk mengambil pesanan. Akan sangat cepat  proses transaksinya. Yang harus dilakukan oleh penjual hanyalah melakukan broadcasting tentang produk yang mereka jual di aplikasi chatting ataupun di media sosial mereka. . 

Hal yang sama bisa diterapkan pada toko kelontong di perkampungan, dan juga usaha penjualan produk-produk lainnya. Startegi sederhana ini bisa mengakomodasi keinginan konsumen untuk berbelanja secara cepat, pasti, nyaman dan hemat, dimana tidak perlu ada biaya pengiriman. Dengan strategi sederhana ini pula, pedagang kecil tidak perlu berinvestasi teknologi yang mahal. Cukuplah mereka mempunyai smartphone dan ebanking.

Usaha kecil perlu kita support karena ini bisa menjadi kekuatan perekonomian bangsa. Ingat, keberlangsungan bisnis tidak selalu mensyaratkan modal besar, cukuplah dengan berpikir kreatif dan cerdas.