OPINI: Strawberry Generation dalam Terpaan Dunia Maya

Th. Agung M. Harsiwi Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Masih segar dalam ingatan kita, beberapa saat setelah perhelatan pernikahan sepasang selebritas yang ditayangkan di televisi swasta, muncullah pesan viral dalam tulisan berjudul Bad Influencer Antitesis Pendidikan Karakter yang menyoroti perilaku selebriti, sekaligus Youtuber dan Influencer itu. Meskipun, konon Youtuber ini menyumbang pajak cukup besar bagi negara, demikian pula Youtuber lain yang mendapatkan manfaat ekonomi dari konten yang dipertontonkannya. 

Bukan persoalan besarnya pajak yang dibayarkannya kepada negara, tetapi persoalan yang mengemuka adalah dampak tayangan Youtuber yang disinyalir memamerkan kekayaan, bergelimang kemewahan, bahkan prank yang dikawatirkan dicontoh anak-anak generasi post milenial atau generasi Z. Sungguhkah kekawatiran ini beralasan?

Manfaat dan Kerugian

Dunia maya telah berkembang begitu pesat, terlebih dengan munculnya banyak web yang bertebaran di dunia maya. Tidak terkecuali munculnya Youtube pada 2005 sebagai situs web berbagi video yang memberi ruang pengguna dapat mengunggah, menonton, dan berbagi video kepada orang lain. Tidak kurang, lembaga riset pasar Statista memprediksi jumlah pengguna Youtube akan mencapai 1,8 miliar orang di seluruh dunia pada tahun 2021 ini, hampir sepertiga dari jumlah pengguna Internet.

Dengan cepat Youtube menjadi salah satu platform online paling populer di masyarakat, terlebih di masa pandemi Covid-19 ini. Saat sebagian anak sekolah harus Belajar Dari Rumah (BDR) Youtube menjadi salah satu alternatif media yang dapat dimanfaatkan. Tidak sekedar sebagai media hiburan, tetapi juga media informasi, bahkan media pembelajaran. Popularitas Youtube telah menggeser media-media mainstream lainnya, seperti televisi, radio, bahkan surat kabar. Tidak jarang pula, tenaga pendidik memanfaatkan Youtube sebagai platform online pembelajaran bagi peserta didiknya.

Dunia maya menyediakan segalanya. Sudah lazim selebritas yang terdampak pandemi beramai-ramai menjajal platform Youtube ini. Ketika ada peluang, pasti dimanfaatkan sebaik-baiknya, terutama saat pekerjaan berkurang karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di masa pandemi Covid-19 ini.

Tidak ada yang salah ketika seseorang memanfaatkan platform Youtube sebagai media untuk mencari nafkah, baik selebritas lawas dan selebritas dadakan yang marak bermunculan di masa pandemi. Termasuk Youtuber kuliner yang malang-melintang meliput kuliner di sekitar masyarakat. Tentu ada manfaat yang bisa diperoleh pemilik  konten, juga pengguna atau penonton Youtube itu.

Jika awalnya suatu kuliner di pelosok tidak dikenal masyarakat, justru melalui Youtuber dengan mudah masyarakat mengenal kuliner-kuliner tersembunyi ini. Secara tidak langsung pengusaha kuliner yang didominasi UMKM mendapatkan promosi gratis atas produk yang dijualnya. Inilah marketing zaman now, tidak ada yang salah saat Youtuber memanfaatkan platform Youtube untuk kepentingan ekonomi, bahkan mengisi kontennya dengan prank yang dipandang tidak bermutu, juga pamer kemewahan dan kekayaan sebagai cara untuk menarik perhatian penonton. Adakah yang salah dengan mereka ketika business is business menjadi motto mereka, di sisi lain produk yang mereka tawarkan tidak melanggar hukum. 

 

Strawberry Generation

Persoalan pun muncul ketika generasi post milenial atau generasi Z menjadi salah satu penonton dari konten yang tidak sesuai nilai-nilai masyarakat dan disinyalir berbahaya dalam pembentukan perilaku generasi muda. Apa yang harus dilakukan?

Akankah anak-anak dilarang menonton influencer di Youtube menjadi solusi atas persoalan ini? Ataukah beramai-ramai mendukung gerakan unsubscribe platform Youtuber itu?

Harus diakui, generasi Z saat ini ada yang tergolong sebagai strawberry generation. Istilah ini semakin populer ketika Prof. Rhenald Kasali menulis buku dengan judul yang sama. Strawberry Generation dipahami sebagai generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati.

Munculnya strawberry generation ini tidak terlepas dari perlakuan orang tua yang acapkali terlalu melindungi (overprotective) terhadap anak-anaknya.

Setiap generasi akan menghadapi persoalan sesuai dengan zamannya, melalui zaman yang selalu berubah itu suatu generasi akan belajar tentang kehidupan, tidak terkecuali dengan strawberry generation ini. Seribu satu informasi tersaji di depan mata anak-anak, pastilah ada risiko anak-anak meniru, bahkan terpengaruh perilaku dari Youtuber itu. 

Lalu dimanakah peran orang tua bagi anak-anak generasi post milenial, yang dari lahir, remaja, dan beranjak dewasa hidup di era dunia maya. Akankah kita sebagai orang tua membiarkan adanya strawberry generation yang tidak tangguh dan tidak siap berjuang karena selalu diproteksi orang tuanya. Inilah kesempatan orang tua mengubah strawberry generation menjadi generasi yang kuat dan tahan uji. Siap menghadapi perubahan jaman dengan menyaring apa yang baik dan apa yang buruk bagi kehidupannya dengan mengedepankan dialog orang tua dan anak yang akhir-akhir ini mulai menipis. 

Ibaratnya memilih suatu produk, saat orang tua mendampingi anak dan membuka dialog terbuka berdasar pada nilai-nilai keluarga, maka anak akan mengerti produk itu layak dikonsumsi atau tidak.

Terkait dengan konten di Youtube, anak akan terlatih untuk memilah tontonan yang pantas dan tidak pantas. Dialog menjadi kunci keterbukaan yang harus dibangun dalam keluarga. Bukankah tanggung jawab pendidikan selain sekolah dan masyarakat juga terletak pada keluarga, dalam hal ini adalah orang tua. 

Orang tua harus bisa memberikan pembelajaran agar strawberry generation mempunyai daya juang untuk bertahan dalam berbagai kondisi yang terburuk sekalipun, bukan dengan bersembunyi atau menghindarkan diri dari kondisi itu.

Catatan Penutup

Saat dunia maya begitu kuat menerpa anak-anak strawberry generation, tidak pada tempatnya orang tua memproteksi anak-anak secara berlebihan. Bukannya mendidik anak menjadi dewasa dalam membedakan yang baik dan tidak baik bagi dirinya, melainkan menyingkirkan rintangan yang disinyalir mengganggu perkembangan anak.

Inilah saat yang tepat bagi orang tua untuk berkontribusi dalam mendidik anak-anak agar tidak menjadi strawberry generation yang tidak tangguh dalam menghadapi persoalan, termasuk menghadapi terpaan informasi di dunia maya.