Tetap Istikamah Pasca-Ramadan

Marsudi Iman, Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam UMY
21 April 2021 06:17 WIB Marsudi Iman, Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam UMY Hikmah Ramadan Share :

Ada kisah inspiratif tentang sikap istikamah dari Abdullah bin Ummi Maktum, sahabat Rasulullah SAW yang buta. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, namun ia tetap istikamah pergi ke masjid untuk menjalankan sholat lima waktu secara berjamaah. Abdullah selalu ingat pesan Rasulullah, bahwa jika seseorang yang mendengar adzan hendaklah mendatangi masjid meskipun dengan cara merangkak. Pada saat pergi ke masjid menjelang subuh, Abdullah terjatuh. Kakinya terluka, namun ia tetap meneruskan perjalanannya. Rasa sakit ia kesampingkan demi menjalankan nasehat Rasulullah.

Pada hari berikutnya datanglah seorang pemuda menghampiri Abdullah. Ia menawarkan jasa untuk menuntunnya pergi ke masjid. Hal itu dilakukan beberapa hari setelahnya sampai suatu waktu Abdullah ingin mengetahui siapa pemuda baik hati tersebut. Sang pemuda tidak merasa perlu untuk memberitahukan jati dirinya meski dijanjikan akan didoakan oleh Abdullah.

“Jika kau tidak mau mengatakan siapa dirimu, maka kau tidak usah menuntunku lagi”, kata Abdullah. Akhirnya sang pemuda membuka jati dirinya. “Aku adalah syetan,” katanya. Abdullah bertanya, “jika engkau syetan, mengapa menuntunku menuju masjid ?”

Syetan itu menjawab,”apakah kau ingat saat pergi ke masjid menjelang subuh dan terjatuh? Saat itu, dengan sebab jatuhmu Allah mengampuni separuh dari dosamu. Aku menuntunmu ke masjid agar kau tidak terjatuh lagi sehingga dosa-dosamu seluruhnya diampuni Allah.” Mengetahui rahasia keutamaan pergi ke masjid tersebut menambah semangat Abdullah untuk selalu istikamah menjalankannya.

Istikamah adalah usaha untuk tetap tegak dan lurus di jalan Allah SWT. Seseorang yang istikamah tidak akan goyah sedikitpun dalam segala situasi dan kondisi. Orang yang istikamah melakukan sesuatu biasanya didorong oleh besarnya manfaat dan keutamaan sesuatu yang ia lakukan.

Islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk senantiasa bersikap istikamah sebagaimana nasihat Rasulullah kepada Sufyan bin Abdullah Atsaqofiy, qul amantu billah fastaqim (katakan aku beriman kepada Allah kemudian istikamahlah). Di dalam surat Al-Fatihah yang  kita baca berulang-ulangpun, kita selalu memohon ditunjukkan ke jalan istikamah.

Ramadan mendidik dan menempa kita menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa istikamah. Lihatlah betapa ringannya selama sebulan kita menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa. Cermatilah betapa kita secara kontinyu menjalankan sholat tarawih setiap malam, berdzikir dan membaca rangkaian ayat-ayat Al-Qur’an. Kita juga sangat mudah digerakkan untuk bershodaqah. Di bulan yang penuh berkah ini kita juga menjadi insan-insan yang tangguh secara psikis dan ruhani. Kita tidak mudah emosi karena orang yang sedang puasa akan berkata: inni shoimun (aku sedang puasa). Pada saat menghadapi hal-hal yang menyebabkan marah. Orang yang sedang puasa juga ringan saja meninggalkan ghibah.

Sayangnya, sikap istikamah yang sudah ditanamkan selama sebulan penuh tersebut seolah menguap begitu saja dengan berlalunya Ramadan. Sebagian besar dari umat Islam kembali kepada kebiasaan-kebiasaan tidak baik seperti sebelum Ramadan. Beberapa nasehat ulama perlu disampaikan di sini agar kita tetap istikamah, antara lain: mengetahui dan merenungkan dalil-dalil syar’i yang menunjukkan keutamaan suatu amal sehinga sayang sekali jika melewatkannya.

Menyadari bahwa hidup di akhirat adalah selamanya sehingga membutuhkan bekal yang sangat banyak. Senantiasa mengingat kaidah “al-jazaa’ min jinsil ‘amal” (balasan itu akan setimpal dengan perbuatan). Bersahabat baik dengan teman-teman yang sudah terbukti istikamah dan memohon pertolongan kepada Allah ta’ala agar dimudahkan untuk selalu istikamah.