Beramal Jariyah di masa Pandemi Covid-19

Faaris Mujaahid, Dosen Prodi Teknik Elektro UMY, Mahasiswa S3 di Electrical Engineering, NCKU Taiwan

Untuk kedua kalinya, kita umat muslim melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan dalam kondisi pandemi. Bagi sebagian ummat, pandemi masih menjadi momok yang mengkhawatirkan dalam melaksanakan berbagai aktivitas, termasuk dalam hal ibadah. Kondisi ini muncul salah satunya karena timbulnya perasaan tidak aman. Pandemi seharusnya tidak menyurutkan langkah kita untuk mendapatkan pahala yang berlipat-lipat di bulan suci Ramadan.

Salah satu perbuatan baik yang pahalanya akan terus mengalir adalah beramal jariyah. Ada tiga jenis amal jariyah, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang senantiasa mendoakan orang tuanya. Pada keadaan sebelum pandemi, kegiatan seperti bersedekah di masjid dan mengadakan kajian di masjid adalah hal yang lumrah. Pada kondisi New Normal, hal-hal tersebut menjadi terbatas atau sulit untuk dilakukan. Mau tidak mau, kita harus beradaptasi dan berinovasi dalam menjalankan amalan-amalan jariyah tersebut.

Sedekah bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Termasuk kepada tetangga sekitar yang membutuhkan. Pandemi yang terjadi sekarang telah membuat golongan masyarakat miskin semakin terpukul ekonominya. Tidak jarang kita mendengar di media, beberapa keluarga harus rela kelaparan dikarenakan tidak adanya bantuan pangan kepada mereka, bahkan sampai ada yang meninggal. Membantu golongan masyarakat tersebut bukan hanya tanggung jawab pemerintah maupun desa, namun ini juga menjadi tanggung jawab warga yang tinggal di sekitarnya. Pun begitu dengan infaq masjid, akan lebih bermanfaat dan berkah bila infaq tersebut lebih luas penggunaannya dan dapat diperuntukan bagi warga sekitar masjid yang membutuhkan, dalam bentuk apapun. Mengingat aktivitas masjid yang terbatas saat ini, biaya operasional masjid pun bisa ditekan. Di situlah fungsi masjid bisa diperluas, sebagai tempat pelayanan sosial dan menumbuhkan ekonomi rakyat.

Kajian dan tausyiah, terutama di bulan Ramadan, mulai banyak dilakukan melalui platform webinar seperti Zoom, MS Teams, Google Meet, dan lain sebagainya. Kita sudah bertransformasi menjadi masyarakat digital dalam dua dekade terakhir, dengan semakin pentingnya gawai bagi kebutuhan setiap orang. Dan ini sangat membantu bagi ulama/guru untuk berinovasi dalam mengajarkan ilmunya.

Pandemi saat ini juga mengajarkan banyak keluarga tentang arti pentingnya mendidik anak-anak. Kita menjadi lebih sering berinteraksi dengan anak-anak dan mengetahui langsung pertumbuhan mereka. Apalagi bertepatan dengan bulan suci Ramadan dan anjuran untuk beribadah di rumah di masa pandemi. Intensitas waktu untuk beribadah bersama suami/istri dan anak-anak semakin sering. Tentunya, kita juga harus mengasah ilmu agama dan bacaan Qur’an agar menjadi role model yang dibanggakan oleh anak-anak kita.

Pandemi sejatinya tidak menyurutkan semangat kita dalam beramal jariyah, terutama di bulan Ramadan. Pahala yang didapatkan akan tetap sama dan berlipat-lipat. Hanya saja, metode dan pelaksanaannya saja yang perlu diadaptasikan agar sesuai dengan kondisi new normal.