OPINI: Desa sebagai Alternatif Wisata

Agus Rochiyardi MM, Direktur Pemasaran, Badan Otorita Borobudur (BOB). (ist - Kementerian Pariwisata)

Rural area terdiri dari desa-desa, yang merupakan sumber rantai pasok dan ekosistem pariwisata, sehingga desa perlu penguatan kualitas, kapasitas dan pemberdayaannya agar lebih berkembang dan memiliki daya saing. Selain sebagai produsen logistik, beberapa diantaranya dapat dijadikan Desa Wisata, karena memiliki keunikan dari sisi lanskap, budaya, tradisi, dan lain-lain, yang dapat ditawarkan untuk tujuan wisata.

Kehadiran Desa Wisata memberikan angin segar, menjanjikan penghidupan baru buat masyarakat desa yang memberikan dampak positif terhadap lingkungan alam, budaya dan masyarakat sekitar,  namun datangnya wisatawan dengan membawa budaya yang berbeda  dapat mempengaruhi budaya lokal yang ada.

Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No.PM.26/UM.001/MKP/2010 mengatur tentang Pedoman Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat melalui Desa Wisata, yang intinya menanggulangi kemiskinan melalui sektor pariwisata, yaitu dengan strategi mengembangkan usaha-usaha terkait jasa kepariwisataan, dan pembangunan sarana-prasarana pendukung yang berbentuk fisik, serta pelestarian kearifan lokal, tradisi budaya, kekhasan daerah dan pelatihan manajemen pariwisata yang berbentuk nonfisik.

Berdasarkan buku Pedoman Desa Wisata Edisi I (Kemenparekraf, 2019), tahapan pengembangan Desa Wisata yaitu Desa Rintisan, Desa Berkembang, Desa Maju dan Desa Mandiri, yang mana standarnya mengacu pada Asean Community Based Tourism Standard yang meliputi kepemilikan dan manajemen; kontribusi terhadap kesejahteraan sosial; konservasi dan pengembangan lingkungan; mendorong interaksi komunitas lokal dan tamu; kualitas pelayanan pemanduan wisata; kualitas pelayanan makanan dan minuman; kualitas akomodasi; dan kinerja pemandu wisata.

Community Based Tourism merupakan pariwisata yang dimiliki dan dikelola oleh masyarakat, untuk melindungi nilai-nilai sosial budaya, warisan alam dan budaya, yang dikoordinasikan di tingkat komunitas guna mendukung keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Isu kritis Desa Wisata yaitu rentan terhadap duplikasi karena pembedanya mudah ditiru, kurang mampu mengeksplorasi local wisdom sebagai penguat, eksploitasi sumber daya berlebih yang kurang memperhatikan berkelanjutan, dan potensi masuknya  investor yang dapat membuat masyarakat menjadi objek. Sedangkan tantangan utama Desa Wisata ada dua, pertama pandemi Covid-19, kedua kesiapan masyarakat terkait kepemimpinan dan soliditas serta produk wisatanya yang inovatif dan kemitraan.

Adanya pandemi Covid-19, diseluruh dunia menghadapi hal yang sama, masyarakat tertekan dan terbatasi dengan aturan-aturan protokol kesehatan, dari Work From Home, PPKM, dll., yang memaksa mereka mengurangi aktifitasnya, membuat energi mereka berlebih, sehingga  banyak bermunculan komunitas olah raga untuk mendapatkan imune dan sosialisasi diantara mereka. Biasanya mereka berkeinginan untuk berwisata yang bersifat outdoor, ini merupakan peluang untuk Desa Wisata.

Untuk itu perlu disiapkan protokol kesehatan terkait dengan cleanliness, health, safety, environment sustainability (CHSE), dan pelaksanaan protokol kesehatan itu sendiri, agar dapat melindungi wisatawan, pelaku pariwisata dan masyarakat setempat.

Desa Wisata dalam tataran konsep, harus mampu mengenali potensi yang ada, mengeksplorasi kekhasan untuk dijadikan kekuatan, dan membuat produk orisinil yang tidak mudah diduplikasi ditempat lain. Selain itu, dijadikan tempat learning space bagi wisatawan, khususnya terkait belajar tentang kearifan lokal, aktifitas masyarakat desa dan lingkungan alam. Spot-spot untuk interaksi perlu diciptakan untuk memberikan experience, selama mereka berada di Desa Wisata.

Pengelolaan

Dalam operasionalisasi Desa Wisata, harus dikelola secara efektif, efisien, dan transparan terkait dengan pemilihan pengurus, peran dan tanggung jawab yang terstruktur, pengoperasian sesuai perundang-undangan, mengacu persamaan gender, berprinsip social inclusif, bermartabat, dan aspek finansialnya dilakukan secara wajar.

Agar konsistensi terjaga didalam implementasinya, perlu dibuat standard operating procedure (SOP), terkait dengan pemeliharaan budaya, nilai-nilai tradisi,  lingkungan, dan lain-lain. 

Sumber daya Manusia sebagai pelaku usaha, harus dapat memberikan pelayanan prima kepada  wisatawan, agar mereka merasa betah serta nyaman untuk tinggal. Dalam hal ini, kapasitas dan kualitas produk-produk wisata harus disesuaikan dengan standar internasional, untuk itu perlu dilakukan pelatihan SDM terkait dengan hospitality, penguatan produk dan kemasan, pendidikan, seminar, workshop, benchmark, dll.

Pemasaran dilakukan melalui media digital, yaitu: website, sosial media, ataupun marketplace, yang mana dalam situasi sekarang lebih mengutamakan pangsa pasar wisatawan nusantara, termasuk kelas menengah dan atas yang terbiasa berwisata keluar negeri, mereka  merupakan potensial market yang luar biasa.

Perlu dikembangkan story telling sesuai konsep Desa Wisata, ini akan menjadi penguat, karena cerita akan lebih mudah diingat oleh wisatawan. Pembuatan paket-paket yang melibatkan homestay, kegiatan budaya seperti latihan menari, aktivitas lokal bercocok tanam, pembuatan souvenir, dan berbagai aktivitas lainnya, akan meningkatkan length of stay wisatawan. Materi promosi, diutamakan tentang keindahan alam desa, kearifan lokal, spot-spot interaksi, dan interest lainnya.

Adanya Desa Wisata, dapat dijadikan alternatif nilai tambah, variasi dan penyebaran wisatawan,  serta menggeliatkan ekonomi masyarakat desa, sesuai dengan harapan pemerintah. Pada akhirnya Desa Wisata tidak hanya sebagai rantai pasok saja, namun mampu mendukung, menambah length of stay wisatawan, serta menggeliatkan industri pariwisata.