OPINI: Menuju Kemerdekaan Ekonomi

Piter Abdullah - infografik Bisnis
18 Agustus 2021 05:57 WIB Piter Abdullah Redjalam,Direktur Riset CORE Indonesia Aspirasi Share :

Kemerdekaan adalah modal besar yang diwariskan oleh para pendiri bangsa ini. Kemerdekaan merupakan jembatan emas kita menuju bangsa yang sejahtera.

Tidak hanya bebas dari penjajahan tetapi juga bebas dari kemiskinan. Tidak hanya bebas untuk bicara tetapi juga bebas dari rasa lapar.

Sekarang, setelah 76 tahun merdeka, sebagian dari anak bangsa sudah merasakan kesejahteraan itu. Mereka adalah kelompok berpendapatan menengah (middle income) yang konon jumlahnya mencapai 52 juta penduduk.

Sebagian kecil dari anak bangsa ini bahkan lebih beruntung. Mereka bukan saja tidak pernah merasakan kemiskinan dan rasa lapar. Mereka juga tidak sekadar kaya dan sejahtera. Lebih dari itu, mereka menjadi bagian dari sedikit warga dunia yang paling kaya. Jumlah mereka ini, menurut Credit Suisse, hanya 417 orang.

Lalu bagaimana dengan nasib anak bangsa yang lainnya? Sebagian besar memang tidak lagi disebut miskin. Mereka sudah keluar dari jurang kemiskinan tetapi mereka juga belum bisa masuk ke kelompok sejahtera. Mereka masih rentan terhadap gejolak ekonomi dan setiap saat bisa jatuh kembali ke jurang kemiskinan.

Anak bangsa yang benar-benar belum beruntung di alam kemerdekaan ini adalah mereka yang dikategorikan sebagai penduduk miskin dan sangat miskin.

Berdasarkan data BPS, jumlah mereka per Maret 2021 mencapai 27,54 juta orang. Sungguh bukan angka yang kecil. Apalagi bila ditambahkan yang rentan dan hampir miskin di atas.

Memerdekakan mereka yang saat ini masih terbelenggu oleh kemiskinan tidak hanya menjadi tugas para pemimpin tetapi juga tugas kita semua. Ini adalah amanah dari para pendiri bangsa ini.

Digagas oleh Presiden Jokowi, pemerintah sejak 2016 sudah memiliki Visi 2045. Indonesia dicanangkan mencapai kejayaan di usianya yang ke-100. Saat itu, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu dari lima besar ekonomi dunia dengan pendapatan per kapita US$30.000 per tahun. Jumlah penduduk kelas menengah pada 2045 diproyeksikan mencapai 82% dari total penduduk. Pada saat itu sudah tidak ada lagi penduduk miskin di Indonesia. Seluruh penduduk yang diperkirakan mencapai 300 juta jiwa sudah merdeka secara ekonomi.

Visi 2045 bukan mimpi di siang bolong. Visi 2045 adalah sebuah rencana besar yang disusun lengkap dengan roadmap mewujudkannya. Sasaran antara sebelum mencapai Indonesia maju pada 2045 adalah bagaimana mengeluarkan Indonesia dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Strategi pemerintah untuk keluar dari jebakan negara berpendapa-tan menengah pada 2036, untuk selanjutnya mewujudkan Indonesia maju pada 2045, adalah dengan terus melakukan reformasi struktural, memanfaatkan bonus demografi dan kemajuan teknologi, serta meningkatkan daya saing ekonomi.

Visi 2045 yang berisikan tekad mewujudkan kejayaan Indonesia, termasuk memerdekakan seluruh penduduk dari kemiskinan, ternyata miskin dukungan. Visi 2045 makin ditinggalkan ketika banyak proyeksi yang jauh dari kenyataannya.

Untuk mewujudkan Visi 2045, ekonomi Indonesia selama periode 2016—2045 harus mampu tumbuh rata-rata 5,7%. Sementara seperti kita ketahui selama periode 2016—2020 ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh rata-rata 3,65% per tahun. Rendahnya rata-rata pertumbuhan ekonomi ini disebabkan pandemi Covid-19 yang membawa ekonomi Indonesia terkontraksi 2,07% pada 2020.

Dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata selama 2016—2021 hanya 3,65% per tahun maka pada periode 2021—2045 pemerintah harus mampu memacu pertumbuhan ekonomi rata-rata hingga 7,75% per tahun. Dengan masih tingginya kasus Covid-19 saat ini dan perekonomian masih terkendala oleh pembatasan mobilitas, rasanya mustahil untuk bisa mengejar pertumbuhan ekonomi 7,75% pada 2021. Peluang pertumbuhan ekonomi rata-rata 7,75% hingga 2045 kian jauh dari harapan.

Alasan untuk skeptis makin kuat ketika rencana-rencana strategis yang dicanangkan dalam Visi 2045 semakin banyak yang belum bisa diwujudkan. Reformasi struktural masih terus jadi wacana. Pemanfaatan bonus demografi hanya muncul dalam seminar-seminar. Adapun penciptaan lapangan kerja justru makin rendah di tengah kian tingginya pertumbuhan angkatan kerja. Daya saing industri seperti berjalan di tempat karena minimnya kebijakan-kebijakan terobosan dari kementerian terkait.

Pasang surut kehidupan sebagai bangsa yang merdeka telah kita lalui selama 76 tahun. Cita-cita kemerdekaan, yaitu kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia terasa masih jauh di depan. Tapi kita tidak akan pernah berhenti melangkah.

Visi 2045 yang disusun pemerintah pada 2016 jelas sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini. Kita mungkin tidak harus menjadi negara yang masuk lima besar ekonomi dunia pada 2045. Tetapi visi memerdekakan seluruh rakyat Indonesia dari kemiskinan pada 2045 harus tetap dipertahankan.

Artinya, yang harus dilakukan bukan membuang dan melupakan Visi 2045 tetapi justru harus diperkuat dan dijadikan tekad baru. Yang sudah tidak relevan diperbaharui, strategi yang terlalu menendang langit dibumikan. Yang harus diutamakan dalam Visi 2045 adalah bagaimana mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kita masih punya waktu menyusun strategi yang paling tepat memerdekakan Indonesia secara ekonomi. Apapun strategi yang nanti kita rumuskan, harus berjiwakan kesatuan dan persatuan Indonesia. Visi 2045 harus dicapai bersama-sama. Mari kita akhiri perbedaan. Kita satukan langkah menuju kemerdekaan ekonomi Indonesia.

Sumber : Bisnis Indonesia