OPINI: Nalar Panyuwunan dalam Berbela Rasa kala Pandemi

Andreas Tri Pamungkas, Pengajar Ilmu Komunikasi, Universitas Amikom Yogyakarta & Sukarelawan RT 6 Sengkan, Sleman DIY

Caring is sharing, begitu kawan saya mengartikan situasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) saat ini. Tak sedikit pula yang menuliskan situasi pandemi menimbulkan banyak empati. Bisa jadi pendapat itu benar, namun jauh di balik itu banyak keadaan yang membuat jungkir balik. PPKM berbasis kewilayahan rukun tetangga (RT) membawa pada ujian nalar baru kemanusiaan.

Saat menulis ini, seorang teman yang tengah isolasi mandiri menuliskan status kebahagiaannya di akun media sosialnya setelah mendapatkan bingkisan pembangkit imun dari teman kantornya. Namun di waktu yang bersamaan,  saya mendengar banyak cerita yang membuat sesak. Bagaimana tidak, giliran saudara, tetangga di samping rumah kita terkulai lemas tak berdaya, namun urung yang mau mendekat. Menggantungkan tenaga kesehatan saat status Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat sebuah keniscayaan. Maklum banyaknya penyintas, membuat para pahlawanan kemanusiaan kelabakan. Sementara mereka yang memilih tidak percaya virus mematikan ini pun enggan tergerak menolong. Miris.

Kisah ironi lainnya pun silih berganti. Cerita bermula ketika seorang relawan harus menolong tetangganya sendiri yang kritis, namun kesulitan mencari kendaraan roda empat untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Ada saja alasan yang disampaikan tetangga terdekat untuk rela meminjamkan kendaraannya. Saat itu, sulit untuk mencari mobil ambulan rumah sakit. Lonjakan pasien positif membuat satu sama lain harus mengantre untuk mendapatkan ambulans. Terlambat sedikit, nyawa bisa saja melayang.

Situasi ini kemudian mengajak saya mengingat serial Netflix The 100. Film itu mengisahkan seabad setelah bumi hancur karena nuklir, 100 penghuni stasiun ruang angkasa dikirim ke Bumi untuk memastikan apakah Bumi dapat dihuni manusia. Setibanya di Bumi, mereka dihadapkan pada situasi yang tidak jauh berbeda, yakni saling membunuh. Hal ini karena tidak disangka Bumi yang ditinggal lama ternyata sudah dihuni banyak kelompok penyintas. Kondisi itu membuat keberadaan satu sama lain menjadi sebuah ancaman. Di stasiun ruang angkasa, 100 penghuni stasiun ruang angkasa itu sudah terbiasa saling membunuh untuk menekan populasi karena terbatasnya oksigen. Semua itu pada ujungnya adalah  untuk bertahan hidup.

Dari situ kemudian saya bertanya-tanya, apakah iya saat ini dihadapkan pada situasi yang sama, yakni mencari keselamatan atas diri kita masing- masing dan tega melihat nyawa di samping kita melayang begitu saja?

Jika sudah begitu, runtuhlah nalar kemanusiaan. Sementara sebagai pribadi yang humanis, pengalaman- pengalaman manusia idealnya memberi sumbangan untuk keluar dari penjara esensialisme dan berprioritas pada cinta, akal budi, pikiran dan kesadaran. Sebagaimana Sutrisno, M (2010) menuliskan humanisme pada akhirnya membawa pada become human within culture atau kesadaran manusia menjadi semakin manusiawi.

Di tengah situasi kebatinan tersebut, Panyuwunan, syair warisan Almarhum Romo Kuntoro Wiryamartana ramai- ramai dinyanyikan. Syair tersebut mulanya diaransemen oleh seorang komposer, Dimawan Krisnowo Adji. Melalui Sraddha Art Project, Dimawan bersama seniman visual Samuel Indratma berkolaborasi dalam kerja seni untuk memberikan pengharapan dan mengusir kegelisahan di masa pandemi Covid-19.

Demikian syair bersastra jawa tersebut: “Gusti, kula nyuwun saras : sarasing sukma-resiking maras (Gusti, kami mohon kesembuhan: sembuhnya sukma-bersihnya hati). Gusti, kula nyuwun tamba: tambaning jiwa-segering raga. (Gusti, kami mohon obat: obatnya jiwa-segarnya raga). Gusti, kula nyuwun seneng: senenging manah - tulaking sereng (Gusti, kami mohon gembiranya hati-penangkal dengki). Gusti, kula nyuwun sabar: sabaring budi-nalar jembar (kami mohon kesabaran: sabarnya budi-luasnya wawasan).

Syair yang diaransemen dengan suasana magis itu menggema di ruang virtual dengan berbagai versi dan latar belakang, baik berbahasa Inggris atau berirama ketukan musik rebana yang identik syiar Islam. Musik dan teknologi mengubah batasan budaya. Jika kita meminjam pengertian Croteau dan Hoynes (2003), inovasi teknologi dalam hal ini internet yang melahirkan media sosial, seperti Instagram dan Youtube, memungkinkan adanya pertukaran dan pembauran budaya yang mengglobal.

Hal ini mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Romo Kuntoro yang menulis syairnya tersebut saat terbaring sakit di Rumah Sakit Panti Rapih pada 1968 silam. Syair Panyuwunan sebagai ekpresi religiusitas Jawa ini menembus sisi magi yang tidak dapat dipisahkan dalam praktik agama. Suwardi Endraswara (2015) menuliskan magi oleh orang Jawa sering dimanfaatkan untuk tujuan kemanusiaan, membantu, tepa slira, dan penuh keikhlasan, seperti mengobati orang sakit.

Kontekstual

Peneliti Abdurahman Wahid Center Universitas Indonesia, Faisal Kamandobat alias Gus Icol dalam talkshow virtualnya di channel Youtube Katolikana TV, Senin 3 Agustus 2021 menyebut bahwa Panyuwunan menjadi sangat kontekstual, karena syair tersebut mengisi kekosongan ritual keagamaan yang ditiadakan selama pandemi, padahal kekuatan magis sangat penting untuk menghadirkan positif vibes saat wabah.

Menurut Gus Icol, syair berbahasa Jawa tersebut memudahkan siapapun untuk menginterpretasikannya sesuai dengan latar belakang masing- masing, sehingga tidak ada kata sulit ketika menggerakkan para santrinya untuk turut menembangkan Panyuwunan. Pada akhirnya, agama tidak melulu menjadi ruang ritual yang acap kali mendatangkan kerumunan, namun mampu hadir untuk membangkitkan energi positif di tengah kekalutan saat ini.

Panyuwunan boleh dikatakan bak vaksin untuk tambaning jiwa dan resiking maras nalar kemanusiaan kita hari ini. Rasa ketakutan itu wajar, namun dengan menggunakan nalar jembar setidaknya mampu membangkitkan nalar kemanusiaan untuk tidak “saling membunuh”. Nalar mengajak kita untuk belajar menambah wawasan bagaimana menghadapi dan meningkatkan kewaspadaan terhadap virus mematikan ini.

Nalar ini yang kemudian juga membangkitkan semangat berbela rasa Yoseph Nugroho Tri Sumartono, Pr, Pastor Paroki Gamping, Sleman, DIY. Dalam sebuah diskusi, ia merasa gusar karena dengan tidak adanya peribadatan secara tatap muka menyiutkan jiwanya dalam berbagi berkat. Nalarnya kemudian tergerak untuk menginisiasi Relawan Bela Rasa Kevikepan Jogja Barat, Keuskupan Agung Semarang. Berbagai pelatihan penanganan pasien, kemudian digelar sebelum terjun menolong.

Sebagai bagian dari gerakan Warga Bantu Warga RT 6 Sengkan, Padukuhan Joho, Condongcatur, Sleman, DIY, saya awalnya pun merasakan ketakutan yang amat mendalam, namun nalar jembar tersebut mengingatkan betapa rapuhnya sisi manusiawi orang beragama seperti saya ini, jika tidak bergerak di saat- saat sulit seperti ini. Warga Bantu Warga akhirnya menjadi ujung dari hasil dari kontemplasi Panyuwunan, bahwa tradisi untuk membantu, tepa slira dengan penuh keikhlasan, seperti mengobati orang sakit dapat terus diwariskan dalam kondisi pagebluk saat ini.

Peristiwa yang tidak kami sangka gerakan dalam menjualkan barang dagangan warga isoman dan kemudian mengecek rutin kesehatan warga isoman menjadi perhatian media massa mainstream. Dari hal sederhana, kami hanya berharap agar kita semua dapat tergerak untuk sama- sama keluar dari pandemi yang tak berkesudahan ini. Warga yang takut dan punya nyali dapat saling berkolaborasi dalam misi kemanusiaan.

Pada akhirnya, The 100 cukuplah menjadi cerita dalam film berseri. Jika dalam di dalamnya, bercerita bahwa dengan “saling membunuh” akan tercipta kemanusiaan bentuk baru, namun saat ini kita hanya cukup hidup baru dengan nalar baru yang jembar (luas). Masih banyak penyintas di luar sana yang menjadi yatim, kehilangan orang tua dan membutuhkan uluran tangan kita.