OPINI: Berharap dari Muktamar NU Ke-34

H.M. Maryono, Mantan Pengurus PCNU Kulonprogo
04 Desember 2021 06:17 WIB H.M. Maryono, Mantan Pengurus PCNU Kulonprogo Aspirasi Share :

Nahdatul Ulama (NU) organisasi keagamaan terbesar di Indonesia dengan lambang jagat bintang sembilan, sebentar lagi akan mengadakan perhelatan akbar, yakni Muktamar ke-34. Muktamar yang semula diagendakan 23 Desember 2021 ini rencanakan akan dimajukan menjadi 17 Desember 2021 mengingat jika dilakukan sesuai jadwal akan terhambat seiring diberlakukannya PPKM oleh pemerintah akhir bulan ini.

Panitia muktamar sudah lama mempersiapkan dengan memoles dan mempercantik tempat pelaksanaan muktamar, yakni di Pondok Pesantren Darrussa’dah, Lampung Tengah. Meskipun semua sempat terjadi kesimpangsiuran tentang jadwal pelaksanaan mengingat pandemi Covid-19 belum berakhir, apalagi akan diterapkan PPKM di akhir bulan ini. Namun kemungkinan besar akan dimajukan tanggal 17 Desember 2021 ini.

Keputusan Strategis

Diakui atau tidak, di era peradaban baru sekarang ini, NU memiliki peranan yang sangat penting dan strategis. Dari 273,5 juta jiwa penduduk negeri ini, 93 juta jiwa di antaranya adalah warga NU. Yang artinya, warna NU akan mewarnai sepertiga penduduk negeri ini.

Sebagaimana diketahui bersama, corak pemikiran NU adalah realistik dengan tujuan terwujudnya Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin. Dan untuk mencapai tujuan itu, NU mendasar pada kaidah Al Ghoyyah Wal Wasail (tujuan utama dan cara mencapai tujuan)

Di era kekinian, untuk konteks Indonesia, di mana mulai dirasakan adanya gesekan-gesekan yang berpotensi memecah belah kesatuan bangsa dan Negara, maka keputusan Muktamar NU ke-34 menjadi hal yang sangat ditunggu-tunggu.

Fase kepemimpinan organisasi Islam yang terkenal bijak mengikuti perkembangan jaman ini tentu akan sangat menentukan masa depan NU yang  sesuai kithah sebagaimana waktu kelahirannya. Yakni, NU telah menempatkan kemaslahatan manusia sebagai tujuan syari’ah sebagaimana kaidah fikih yang dipegang selama ini: tasharruf al imam ‘ala ro’iyyah manuthun bil maslahah (keabsahan pemimpin terletak pada kemampuannya untuk menyejahterakan rakyatnya).

Pola pemikiran seperti ini menggambarkan keteguhan warga NU memegang prinsip Islam namun tetap bisa menerima tradisi baru, atau berwatak kosmopolitan. Watak kosmopolitan ini telah dicontohkan oleh Ulama Salafus Sholih seperti Imam Syafii (ahli  fiqih yang juga seorang kritikus sastra), Imam Abu Hanifah (ahli fiqih yang juga seorang arsitek). Dengan demikian, Islam akan terus memberi kemanfaatan di zamannya.

Perkembangan teknologi Internet yang melahirkan Revolusi Industri 4.0 dengan berbagai konsekuensinya, menjadi peluang sekaligus ancaman bagi kemajuan bangsa dan negara. Dampak yang mulai terasa adalah terjadinya degradasi moral generasi kita. Mudahnya akses pornografi dan meluasnya ujaran kebencian yang menjurus pada masalah sensitif seperti SARA melalui media sosial atau alat komunikasi lainnya akan membuat generasi kita terlena dengan perilaku negatif yang bertentangan dengan perilaku seorang muslim. Hal ini jika tidak segera diantisipasi, dan NU sebagai pelopornya, akan sangat negeri ini.

Sebuah Harapan

Muktamar NU tentu akan menelurkan sebuah keputusan dan sikap. Bagaimana organisasi ini akan berperan menghambat bahkan menghadang dampak negatif hadirnya Revolusi Industri 4.0 yang tidak mungkin ditolak di tengah-tengah kehidupan kita. Hal ini tentu menjadi sebuah harapan baru untuk dapat meminimalkan dampak negatif Revolusi Industri 4.0 dan mengoptimalkan dampak positifnya.

NU yang bercirikan Islam ahlussunah wal jamaah dan selalu memegang nilai-nilai keislaman tentu akan menjadi benteng yang kuat untuk dapat menyingkirkan dampak negatif hadirnya Revolusi Industri 4.0 yang sisi positifnya telah kita rasakan bersama, di antaranya kemudahan berkomunikasi dan berinteraksi.

NU selama ini berorientasi pada pijakan Islam moderat (tawassuth), seimbang (tawazzun), menjunjung sikap toleransi (tasamuh) agar tercipta masyarakat kerkeadilan (I’tidal) tentu akan menjadi modal yang tak ternilai untuk dapat menjalankan fungsinya mengerem dampak negatif dari Revolusi Industri 4.0.

Akhirnya kita hanya bisa berharap, Muktamar NU dapat terlaksana tepat pada waktunya. Bisa  melahirkan pemimpin yang mampu membawa negeri ini adil makmur Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur.