OPINI: Literasi Data Era Digital

Tampilan layar menampilkan CEO Online Pajak Mulia Dewi saat acara Bisnis Indonesia Financial Outlook 2022 yang bertema "Era Ekonomi Digital: Antara Potensi Bisnis dan Keamanan Data" di Jakarta, Kamis (25/11/2021). Acara yang diselenggarakan selama dua hari pada 24- 25 November 2021 ini membahas mengenai potensi ekonomi digital di lndonesia dan strategi untuk mengoptimalkannya. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
20 Desember 2021 01:37 WIB Marizsa Herlina, Dosen Prodi Statistika Universitas Islam Bandung Aspirasi Share :

Saat ini data dapat tersedia dengan mudahnya. Akses menuju data sudah sangat terbuka jika dibandingkan dengan 10 tahun lalu. Teknologi yang kian maju membuat dunia kaya dengan data. Data pun tidak hanya lagi soal angka tapi juga dapat berbentuk gambar, video, tulisan, dan juga suara.

Berbagai data tersebut kini sudah tersedia di dunia maya secara gratis dan bisa diakses oleh siapapun. Data dalam bentuk angka atau disebut dengan data terstruktur adalah data yang kita kenal secara umum sejak lama. Dulu memang sulit untuk mendapatkan data, karena banyak prosedur yang harus dilakukan untuk pengumpulannya.

Misalnya seperti survei atau mendatangi badan pemerintah terkait yang menyediakan data. Pengumpulan data tidak bisa diakses dengan gratis, karena perlu usaha yang lebih untuk mendapatkan informasi yang akurat. Proses ini kerap memerlukan waktu yang lama.

Akan tetapi sekarang data sudah mulai terintegrasi. Semua data yang terkait dengan pemerintahan seperti data kependudukan dari BPS, data harga komoditas pertanian dari Kementerian Perdagangan dan sebagainya sudah tersedia di laman resmi dari penyedia data.

Terlebih kini Indonesia mulai mengintegrasikan semua data yang dimiliki oleh pemerintah agar tersedia di dalam satu situs internet, yaitu Satu Data Indonesia (https://data.go.id). Situs tersebut dapat diakses oleh siapapun secara gratis dan legal.

Dengan tersedianya data pemerintahan yang faktual, harapannya ini akan mengakselerasi dan memperbanyak publikasi hasil analisis yang memanfaatkan data pemerintah yang telah tersedia, baik berupa sebuah rekomendasi kebijakan atau melandasi pembuatan sebuah produk inovasi dari masyarakat.

Selain data terstruktur, ada juga yang dinamakan unstructured data atau data tidak terstruktur yaitu data berbentuk gambar, video, tulisan, dan suara. Jenis data ini bisa diambil secara gratis dan tersedia di berbagai platform media sosial, blog, berita dan lain sebagainya.

Namun tidak bisa diintegrasikan seperti data angka karena memang sifatnya tidak terstruktur dan sangat luas cakupannya. Di sisi lain, data tidak terstruktur punya kelebihan tersendiri, karena misalnya dapat digunakan untuk pengembangan sebuah artificial intelligent (AI) atau kecerdasan buatan.

AI adalah mesin yang diprogram untuk bisa mempunyai salah satu karakteristik dari empat konsep, yaitu thinking humanly, thinking rationally, acting humanly, dan acting rationally. Mesin diharapkan dapat berpikir dan berlaku seperti manusia dan dasar dari kemampuan berpikirnya dibentuk dari data-data yang diberikan oleh manusia pembuat programnya.

Salah satu jenis data yang banyak digunakan untuk AI adalah data tidak terstruktur dalam jumlah sangat besar, sehingga bisa disebut sebagai big data.

Berbagai macam data ternyata tersedia secara terbuka di depan mata kita saat ini. Persoalannya, jika hanya tersedia saja dan tidak dimanfaatkan, hal itu sebuah kemunduran. Kondisinya ibarat ada tambang emas di depan mata tapi alih-alih menyadari manfaatnya, kita tidak menggali emasnya dan dibiarkan begitu saja di bawah gundukan tanah. Data yang tidak dimanfaatkan tentunya akan sama nasibnya, tidak bermanfaat dan tidak akan berharga.

Oleh karena itu, para pelaku yang mampu mengolah data seperti data scientist dapat dibayar mahal karena kemampuannya yang mampu memoles data menjadi informasi berharga. Data science memang berkaitan erat dengan big data dan segala macam teknologi canggih untuk mengekstraknya.

Namun tidak semua bidang harus memiliki big data untuk memanfaatkannya. Umumnya malah data yang sederhana bisa kita manfaatkan sebagai landasan untuk membuat sebuah keputusan yang baik.

Contohnya adalah data setruk di supermarket. Data setruk ini bisa dimanfaatkan oleh supermarket untuk melihat barang-barang apa saja yang biasanya dibeli bersamaan oleh konsumen. Barang yang biasa dibeli bersamaan bisa ditaruh berdekatan atau bisa dibuat sebuah promosi bundling agar ada lebih banyak barang yang bisa terjual.

Contoh lain yang lebih sederhana yaitu seorang guru ingin mengevaluasi efektivitas metode pembelajaran online. Guru mempunyai metode pembelajaran A dan B maka nilai siswa dari hasil pengajaran metode A dan metode B bisa dibandingkan. Jika berbeda, guru bisa menganalisis lebih lanjut lagi sampai ke faktor apa yang harus ditingkatkan atau dikurangi.

Alhasil, segala jenis data sangat berguna untuk mengambil keputusan berdasarkan keadaan yang sebenarnya agar tidak salah dalam menerapkan strategi. Kehidupan sehari-hari kita kini sangat lekat dengan data, sehingga literasi data merupakan salah satu kunci penting dalam mengawal proses mencerdaskan bangsa.

Sayangnya, belum ada yang mengukur berapa persisnya literasi data di Indonesia. Menurut UNESCO (2020), kurang dari 50% guru di Indonesia hanya mampu menguasai literasi digital level 1, yaitu terkait dengan browsing, mengatur, menyimpan data secara digital dan sisanya malah tidak lulus di level 1.

Hal ini menggambarkan betapa literasi digital, apalagi literasi data pada guru saja masih minim. Sebuah tantangan besar untuk meningkatkan literasi ini supaya bangsa ini semakin memiliki kemampuan dalam menemukan solusi jitu atas masalah yang dihadapinya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia