Advertisement

OPINI: Geostrategi Pelabuhan

Thomas Nugroho, Dosen Departemen Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan, FPIK IPB University
Selasa, 18 Januari 2022 - 06:07 WIB
Maya Herawati
OPINI: Geostrategi Pelabuhan Suasana Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (12/1/2021). ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja

Advertisement

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan berada di jalur perlintasan antara dua benua dan samudera, Indonesia diharapkan dapat mengambil manfaat ekonomi yang besar dalam percaturan kerja sama global. Berbagai peluang ekonomi terbuka luas seperti dalam dunia pelayaran internasional tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal untuk keuntungan nasional.

Salah satu sektor ekonomi kelautan yang memberikan harapan besar untuk dapat menjadi pundi penerimaan negara yang potensial adalah jasa transportasi laut. Diperkirakan sekitar 80% dari total volume perdagangan barang dunia didistribusikan melalui laut.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Pembangunan pelabuhan dan pengembangan infrastruktur pelabuhan peti kemas yang berkualitas dan dikelola secara efisien dapat mendorong peningkatan ekspor dan pertumbuhan ekonomi. Diharapkan pula dapat memfasilitasi investasi dalam sistem produksi dan distribusi, mendukung perluasan manufaktur dan logistik, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan penerimaan negara.

Ambisi Indonesia menjadi poros maritim dunia yang dicanangkan dengan Peraturan Presiden Nomor 16/2017 berupa kebijakan kelautan dan rencana aksi pembangunan kelautan belum berjalan efektif dan mengubah kondisi pelabuhan.

Pelabuhan sebagai pusat pelayanan bisnis jasa transportasi laut masih menghadapi berbagai hambatan yang mengakibatkan ketidaklancaran arus perdagangan barang, sehingga memicu inefisiensi dalam sistem logistik nasional.

Ketidakmampuan dalam meningkatkan kualitas infrastruktur dan perbaikan kebijakan, termasuk kelembagaan mengakibatkan Indonesia menderita sebagai negara dengan biaya logistik yang mahal.

Biaya logistik di Indonesia meliputi transportasi, pergudangan, dan inventori sebesar 25% dari penjualan produk manufaktur. Biaya ini lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga di Asia Tenggara seperti Thailand 15% dan Malaysia 13%. Indonesia belum bisa masuk menjadi 25 top negara berkinerja baik dalam penanganan kargo di pelabuhan.

Malaysia dengan dua pelabuhannya yaitu Tanjung Pelepas dan Port Klang mampu menempati urutan 13 dan 14 dunia menggeser Singapura yang berada diurutan 15 (UNCTAD, 2021). Meskipun telah dilakukan berbagai perbaikan dan pembenahan, pengelolaan pelabuhan di Indonesia masih dibawah Malaysia.

Advertisement

Jumlah kedatangan di pelabuhan Indonesia mencapai 15.019 kapal dengan kapasitas angkut peti kemas rata-rata 1,509 TEU per kapal dan waktu tunggu 0,99 hari dengan waktu perpindahan per kontainer rata-rata 1,69 menit.

Di pelabuhan Malaysia, jumlah kedatangannya mencapai 15.875 kapal dengan kapasitas angkut rata-rata 3.706 TEU per kapal, waktu tunggu 0,80 hari, dan perpindahan per kontainer rata-rata 1,23 menit.

Arus globalisasi dan kompetisi perdagangan antar negara yang semakin kuat memberikan peluang bagi Indonesia untuk dapat meningkatkan perolehan manfaat dari perkembangan industri pelayaran. Kebutuhan pelaut untuk bekerja pada pelayaran internasional meningkat dari 1,65 juta pada 2015 menjadi 1,89 juta orang pada 2020. Indonesia berada diurutan ketiga setelah Filipina dan Rusia sebagai negara pemasok pelaut di industri pelayaran dunia.

Advertisement

Saat ini Filipina masih berada di atas serta meraih devisa US$6,5 miliar dari pelautnya atau 21,4% dari total devisa dari pekerja migrannya tahun 2020 (UNCTAD 2021). Ke depannya Indonesia diharapkan mampu unggul dalam hal ini. Nilai komersial yang diperoleh Indonesia dari kegiatan pelayaran atau transportasi antar pulau rata-rata US$3,6 juta per kapal sekaligus terendah di Asia.

Kapal-kapal kargo yang dimiliki oleh Indonesia jumlahnya kecil dengan usia tua. Ini mencerminkan kurangnya kemampuan Indonesia dalam meremajakan armada kapal-kapal pelayaran. Thailand dan Vietnam mendapat manfaat yang lebih besar dengan perolehan nilai komersial pelayaran per kapal masing-masing sebesar US$5 juta dan US$4,4 juta.

Kemajuan pembangunan pelabuhan yang dicapai oleh negara-negara di Asia seperti China, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura karena memiliki strategi pembangunan dengan peran negara yang kuat serta penguasaan teknologi dan inovasi untuk memenangkan kompetisi di lingkungan global.

Pelabuhan seperti Shanghai, Hong Kong, Kaohsiung, Yokohama, Busan, dan Singapura termasuk dalam 20 teratas pelabuhan di dunia dan mendominasi sistem distribusi dan transportasi barang dalam perdagangan global. Di dalamnya termasuk pelabuhan di Asia Tenggara yaitu Klang dan Tanjung Pelepas (Malaysia), dan Laem Chabang (Thailand).

Advertisement

Adapun Tanjung Priok dan Tanjung Perak belum mampu bangkit mengejar ketertinggalannya dalam persaingan merebut pasar jasa pelayanan dari industri pelayaran internasional. Alhasil, pengembangan pelabuhan perlu difokuskan dengan memperbaiki kualitas infrastruktur dan pelayanan melalui penerapan teknologi dan inovasi, memperkuat pengawasan, dan penegakan hukum.

Digitalisasi dalam pengembangan pelabuhan dan aktivitas kepelabuhanan juga sangat penting untuk menjamin tranparansi dan akuntabilitas pelayanan dalam interaksi perdagangan dan kerja sama ekonomi global yang semakin ketat.

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Piala Dunia 2022

Advertisement

alt

Perempuan Bangsa DIY Tolak Politik Uang dan SARA di Pemilu 2024

Bantul
| Rabu, 07 Desember 2022, 03:27 WIB

Advertisement

alt

Kabar Gembira! Tiket Tambahan Konser Westlife di Jakarta Tahun Depan Sudah Tersedia

Hiburan
| Selasa, 06 Desember 2022, 14:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement