Advertisement

OPINI: Jebakan Rekognisi Akademik

St. Tri Guntur Narwaya, Direktur Mindset Institute dan Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Mercu Buana Yogyakarta
Jum'at, 20 Mei 2022, 01:38 WIB
Maya Herawati
OPINI: Jebakan Rekognisi Akademik St. Tri Guntur Narwaya, Direktur Mindset Institute dan Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Advertisement

Di bulan-bulan periode proses akreditasi atau reakreditasi Perguruan Tinggi, biasanya merupakan momen paling menyibukkan kampus. Kewajiban yang memaksa kampus sibuk mempersolek diri sepenuhnya agar bisa memperoleh status capaian unggul. Pencapaian akreditasi diburu untuk mengejar ‘pengakuan’ atas standar kampus yang dianggap berkualitas. Kriteria penilaian mencakup sejumlah aspek, tak terkecuali faktor ketercukupan kapasitas sumber daya dosen. Keunggulan kualitas dosen tentu aspek wajib untuk memenuhi status kualitas kampus. Syarat pokok ini memberi efek luar biasa pada beban tuntutan yang harus dipenuhi dosen. Jika kampus mau bisa terberi label unggul, wajib kiranya kualifikasi kapasitas dosen dipenuhi syarat kelengkapannya.

Beban tuntutan kualitas ini bisa saja dipahami sebagai keniscayaan yang sepantasnya wajib dipenuhi, namun tanpa disadari ia juga bisa membentuk jebakan sistematis dalam iklim dan kultur akademis. Syarat peningkatan kualifikasi dosen semula diandaikan menjadi aspek penopang pencapaian visi pendidikan kampus, namun tuntutan syarat justru bisa menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Kecenderungan instrumentalis ini akan menjadi kultur yang semakin menguat, manakala ia menjadi orientasi dominan daripada substansi pendidikan itu sendiri. Tidak jarang, banyak kampus dan juga dosen lebih disibukkan dengan segala cara upaya demi pemenuhan atas syarat-syarat birokrasi dan kriteria-kriteria administrasi tersebut. Formalitas lalu dianggap lebih menjadi penting daripada isi. Apalagi prasyarat-prasyarat birokrasi dan administratif kian waktu justru semakin lebih rumit dan kompleks.

Advertisement

Kompetisi kampus untuk bisa memiliki pamor daya tarik dan bisa memikat banyak mahasiswa masuk mendorong pencapaian akreditasi unggul menjadi sangat penting. Sebuah kampus yang bisa mencapai label unggul tentu menjadi modal besar untuk percaya diri bertarung dalam kompetisi pasar pendidikan.

Semua kampus baik negeri maupun swasta pada akhirnya seolah tidak bisa menolak logika semacam ini. Rekognisi menjadi sangat penting. Setiap kampus harus berburu untuk memenuhi syarat-syarat rekognisi yang diperlukan, bahkan jika pun harus melakukan trik-trik siasat yang kadang kala sangat pragmatis demi jalur cepat yang jauh dari etik akademik yang ideal.

Mentalitas Instrumentalis

Kewajiban syarat publikasi ilmiah yang ketat dan berat dalam jurnal-jurnal internasional bereputasi membuat problem hambatan yang cukup serius. Tidak semua dosen bisa mencapai pemenuhan ini. Jika gagal dalam proses, seorang dosen bisa akan terhambat kualifikasi statusnya, semisal pada tuntutan jabatan fungsional. Untuk memburu kewajiban ini, lalu jalan pintas pun bisa saja dilakukan. Ketatnya kualifikasi atas tuntutan publikasi ilmiah juga mendorong berbagai penyakit kejahatan akademis yang juga semakin berkembang. Praktik-praktik curang plagiarisme, fenomena-fenomena jurnal predator, jurnal abal-abal dan cerita-cerita lainnya merupakan efek tak terhindarkan dari situasi ini. Orang bisa saja akan melakukan apapun karena berbagai tekanan dan tuntutan yang terasa sangat memberatkan.

Tentu tidak semua kampus ataupun dosen memilih modus jalan pintas ini. Namun demikian, arah kecenderungan yang bisa dirasakan adalah makin suburnya kultur dan mentalitas instrumentalis, di mana orientasi yang menjadi prioritas dipentingkan justru bukan pada usaha menggeluti kedalaman pengetahuan namun justru sibuk mengejar pemenuhan status dan atribut-atribut yang lebih banyak bersifat administratif dan prosedural. Atribut-atribut seperti jabatan fungsional dosen, sertifikasi dosen, dan atribut-atribut wajib lainnya membuat kosentrasi utamanya akan semakin bergeser untuk memikirkan hal-hal yang birokratis dan administratif daripada hal yang lebih substantif.

Perkara beban itu tak hanya di situ saja, setiap dosen juga memiliki kewajiban yang harus terpenuhi seperti proses pengajaran penelitian dan juga pengabdian untuk memenuhi Beban Kerja Dosen (BKD). Kualifikasi ini tiap tahun juga cenderung berubah dan penambahan baik soal prosedur dan kewajiban isiannya, dengan perubahan. Kesibukan dosen lalu lebih banyak terserap untuk pemenuhan logika rekognisi akademik dan harus terus berusaha mengafirmasi perubahan-perubahan yang terus muncul. Masalah ini tidak sedikit menjadi beban keluhan, karena kosentrasi pada kerja-kerja administrasi dan birokrasi sering kali membekukan ruang kerja-kerja substansi pengetahuan yang lebih luas.

Segala atribut dan status kualitas akademik sebenarnya hanya bagian sarana pendukung dari pencapaian cita-cita pendidikan kampus. Hanya saja kultur dan mentalitas birokratis, administratif dan prosedural akan membangun sebuah watak instrumentalis pendidikan. Watak ini tak hanya menggerus kampus dari mandat utamanya sebagai ruang pendidikan, namun ia akan semakin mereduksi visi utama pengetahuan sendiri. Kampus akan lebih sibuk dibebani dengan upaya mengejar label dan atribut daripada bagaimana membangun kualitas isi pendidikan. Lebih jauh, watak instrumentalis ini akan merusak ekosistem pengetahuan kampus itu sendiri.

Advertisement

Bagaimana mungkin kampus akan lebih berkonsentrasi pada isi substansi kualitas pengetahuan jika apa yang lebih disibukkan adalah soal prosedural dan atribusi dalam mengejar tuntutan-tuntutan label status kampus.

Pemberhalaan Hasil

Kecenderungan iklim kampus ini sebenarnya lebih banyak dipicu oleh setidaknya oleh beberapa sebab, pertama, platform kebijakan pendidikan secara umum lebih terkosentrasi pada instrumentalisasi pendidikan yang semakin disadari telah menggerus orientasi kampus yang seharusnya sebagai ruang pengembangan epistemik pengetahuan, menjadi tak ubahnya lembaga-lembaga kerja lainnya yang bersifat birokratis dan prosedural; kedua, liberalisasi pasar pendidikan memberikan efek terus munculnya iklim kompetisi, di mana setiap kampus dengan cara upaya apapun harus mengejar keunggulan dalam kontestasi tersebut.  Rekognisi akademik justru lalu menjadi sangat dipriotitaskan baik bagi dosen, program studi hingga institusi perguruan tinggi; ketiga, tentu saja orientasi nalar kapitalisasi atas rekognisi akademik. Ketika setiap atribut kualifikasi akademik menentukan atas konversi peningkatan penghasilan dosen, maka akan makin memperkuat kecenderungan bahwa rekognisi akademik menjadi sangat penting untuk dikejar.

Banyak diketahui, ceruk-ceruk rezeki penghasilan dosen ada pada beberapa prasyarat dan prosedur tersebut. Logika pragmatis ini tidak sedikit menjadi orientasi utama dan meminggirkan mandat orientasi pengetahuan yang harus dijalankan.

Gejala watak semacam ini jelas mendistorsi mandat pengetahuan yang harus digarap kampus dengan benar. Tak berarti bahwa label atau atribut kualifikasi akademik tidak menjadi penting. Jika ia dipahami sebagai efek logis dari kerja-kerja konkrit yang sudah benar-benar dilakukan dengan baik oleh kampus sebenarnya tidak menjadi persoalan. Namun berbeda jika ia justru seolah-olah menjadi tujuan itu sendiri. Watak instrumentalis ini mendorong orang sibuk dengan nalar hasil daripada paradigma proses.

Label agar dianggap sebagai kampus yang unggul justru telah membentuk mitos dan bahkan berhala yang sewajibnya diraih.

Sebagaimana berhala, pemenuhan atas label ini akan mendorong nalar-nalar kontrol dan pemataan yang memberi beban semakin berat kepada seluruh civitas lingkungan kampus yang ada. Jika paradigma hasil ini lebih diutamakan, maka tentu saja dalam jangka panjang akan membentuk iklim pendidikan yang tidak sehat dan kondusif bagi pengembangan pengetahuan. Atribut, status dan label prestasi akademik tidak selamanya akan menjadi dimensi yang menyehatkan, namun justru akan menyumbang berbagai paradoks kultur dunia pendidikan kampus.

         

 

 

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Selter Covid-19 Dikembalikan ke Fungsi Awal

Jogja
| Kamis, 19 Mei 2022, 23:27 WIB

Advertisement

alt

Film The Man with the Iron Heart, Kisah Gelap Praktik Genosida oleh Nazi

Hiburan
| Kamis, 19 Mei 2022, 21:07 WIB

Advertisement

Advertisement