Advertisement

OPINI: Geopolitik Ubah Peta Ekspor Batu Bara

Hendra Sinadia, Direktur Eksekutif APBI-ICMA
Senin, 25 April 2022 - 06:07 WIB
Maya Herawati
OPINI: Geopolitik Ubah Peta Ekspor Batu Bara Sebuah kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (14/1/2022). ANTARA FOTO - Nova Wahyudi

Advertisement

Harga dan permintaan komoditas batu bara dikenal rentan oleh dinamika geopolitik. Tensi hubungan Australia dan China berakibat dihentikannya ekspor batu bara Australia oleh China sehingga berdampak terhadap kenaikan harga. Sedangkan contoh yang terkini adalah invasi Rusia atas Ukraina yang memicu reaksi Uni Eropa (UE) untuk menghentikan impor batu bara mereka dari Rusia yang mendorong lonjakan harga serta berpotensi mengubah peta ekspor batu bara.

Gejolak geopolitik yang awalnya menjadi salah satu pemicu naiknya harga komoditas di 2021 adalah kurang harmonisnya hubungan Australia dan China yang dipicu oleh ketidaksukaan Beijing terhadap langkah Canberra yang mendukung investigasi asal muasal virus Corona yang diklaim oleh Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara sekutunya termasuk Australia berawal dari kota Wuhan. Perkembangan geopolitik di atas yang mendorong pemerintah China mengambil langkah berani menghentikan (meski tidak ada keputusan resmi) impor batu bara dari Australia.

Advertisement

Akibat dari “embargo” China tersebut, Australia mengalihkan (divert) ekspornya kebanyakan ke India. Membanjirnya pasokan batu bara dari Australia ke India mau tidak mau turut menggerus porsi ekspor dari Indonesia ke India. Ekspor RI ke India pada 2020 sekitar 97 juta ton, dan di 2021 hanya 65 juta ton.

Sementara itu, ekspor Australia di 2021 ke India sebesar 81 juta meningkat dari tahun sebelumnya 71 juta ton. Namun, eksportir Indonesia mengisi sebagian pasar China yang ditinggalkan oleh Australia, sehingga terjadi keseimbangan (re­balancing) atas ekspor seaborne batu bara termal.

Harga komoditas kemudian melambung di luar perkiraan akibat konflik Rusia vs Ukraina. Invasi Rusia yang dimulai 24 Februari 2022 membuat negara-negara anggota UE yang selama ini menjadi importir batu bara Rusia mencoba mencari alternatif pasokan. Bahkan, UE telah mengumumkan akan menghentikan impor batu bara dari Rusia efektif di Agustus 2022. Selain Rusia, negara-negara UE mengimpor batu bara dari Kolombia, Afrika Selatan, dan AS.

Embargo impor batu bara oleh UE bakal berdampak signifikan bagi yang merupakan eksportir batu bara terbesar ketiga dunia setelah Indonesia dan Australia. Di tahun 2021, Rusia mengekspor lebih dari 180 juta ton atau sekitar 15% dari pengapalan batu bara dunia (global seaborne coal export).

Jika UE menghentikan impor batu bara dari Rusia di Agustus, maka negara-negara UE akan berupaya keras untuk mencari pengganti dari sekitar 60 juta ton (6% dari global seaborne coal export). Dalam kondisi seperti ini para pembeli batu bara dari Eropa akan mencari alternatif pasokan termasuk dari Indonesia.

Dari segi pengapalan lewat jalur Atlantik, Kolombia, AS dan Afsel lebih diuntungkan ketimbang Indonesia dan Australia. Kolombia sejauh ini menjadi eksportir besar kedua ke Eropa dengan jumlah 20 juta ton, disusul AS dan Afsel. Sementara Indonesia ekspornya sebagian besar sekitar 98% ke Asia Pasifik.

Namun, dalam situasi darurat energi seperti saat ini, negara-negara Eropa tentu akan mengupayakan melakukan pencampuran (blending) batu bara kalori tinggi dan menengah-rendah. Dalam kondisi tersebut, suplai dari Indonesia masih berpeluang mengingat kapasitas produksi juga masih bisa ditingkatkan meski harga pengapalan (freight cost) ke Eropa cukup tinggi.

Mengingat perekonomian Rusia banyak ditopang oleh ekspor energi fosil, maka Putin mau tidak mau harus mencari pasar alternatif untuk ekspor batu baranya. Vladimir Putin sudah mengeluarkan pernyataan untuk mengalihkan tujuan ekspor batu bara Rusia fokus ke Asia terutama China dan India. Sejauh ini, Presiden Xi Jin Ping dan PM Narendra Modi tetap menjalin hubungan baik dengan Presiden Putin. Dalam situasi ini kargo dari Rusia kemungkinan besar China bakal mendapat tambahan pasokan dari Rusia.

Seandainya ekspor Rusia dialihkan ke China, kemungkinan pasar ekspor Indonesia bisa tergerus. Demikian pula jika Rusia meningkatkan pengiriman ke India, potensi pasar ekspor Indonesia bisa terganggu. Di tengah berbagai kemungkinan tersebut, eksportir dari RI perlu melakukan inisiatif menjajaki pasar baru khususnya Eropa.

Upaya ini bisa dikoordinasikan dengan dukungan dari kedutaan besar RI di beberapa negara di Eropa, seperti yang sedang diinisiasi oleh KBRI Berlin. Kondisi saat ini akan mengakibatkan pemasaran ekspor batubara akan mencari keseimbangan baru.

Dinamika perubahan pasar akibat gejolak geopolitik bisa berdampak menekan harga komoditas akibat limpahan pasokan dari Rusia ke pasar Asia. Selain itu, menarik untuk dicermati bagaimana negara-negara Eropa menyikapi rencana energi bersih (clean energy) mereka ditengah upaya mencari alternatif pasokan batubara.

Dengan melakukan embargo atas impor batu bara dari Rusia, negara-negara UE suka atau tidak suka harus mencari pasokan batu bara. Sehingga untuk jangka pendek beberapa tahun ke depan pasar Eropa yang ditinggalkan Rusia akan menjadi pasar potensial bagi eksportir dari Indonesia. Keseimbangan pasar akibat geopolitik akan terus terjadi kedepannya.

Oleh karena itu, kerja sama pemerintah termasuk KBRI dengan pelaku usaha perlu lebih diintensifkan menyikapi perkembangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Bantul Dapat Hak Akses Data SDGs Desa Kemendes PDTT

Bantul
| Kamis, 26 Januari 2023, 23:57 WIB

Advertisement

alt

Unik! Peragaan Busana Viktor & Rolf Tampilkan Ball Gown Terbalik

Hiburan
| Jum'at, 27 Januari 2023, 02:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement