Advertisement

HIKMAH RAMADAN: Puasa sebagai Solusi Krisis Modernisme

Endro Dwi Hatmanto
Jum'at, 31 Maret 2023 - 05:47 WIB
Nugroho Nurcahyo
HIKMAH RAMADAN: Puasa sebagai Solusi Krisis Modernisme Endro Dwi Hatmanto, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMY - Istimewa/UMY

Advertisement

Dalam bukunya The loss of happiness in market democracy, Robert A Lane, seorang professor dalam ekonomi politik, menulis telah terjadi The paradox of economic growth atau paradoks pertumbuhan ekonomi orang-orang modern.

Lane berargumentasi pertumbuhan ekonomi yang masif tidak serta merta membuat manusia modern menjadi lebih bahagia. Hal ini disebabkan oleh apa yang disebut sebagai hedonistic treadmill, yakni ketika manusia modern semakin banyak memiliki uang dan kekuatan finansial, semakin bertambah pula keinginan-keinginannya untuk dipuaskan dan dipenuhi. Akibatnya, begitu satu keinginan terpenuhi, keinginan lain minta dipenuhi, begitu seterusnya sehingga manusia modern tidak akan pernah merasa puas dalam memenuhi keinginannya. Tidak mengherankan ada orang yang sudah kaya raya tapi masih melakukan korupsi karena ketamakan dalam memenuhi nafsu dan keinginan.

Advertisement

Pemenuhan kebutuhan yang tiada henti akibat paradoks pertumbuhan ekonomi dalam masyarakat kita hari ini ditandai dengan gaya hidup hedonisme dan ‘flexing’. Gaya hedonisme mengajarkan bahwa tujuan hidup adalah untuk bersenang-senang. Nasihat menyesatkan disebarkan melalui media: “YOLO”; You Only Live Once; Anda cuma hidup sekali, maka bersenang-senanglah. Parahnya, gaya hidup mewah ini sering sekali diikuti oleh gaya hidup flexing yakni memamerkan kemewahan di media sosial seperti pamer piknik keluar negeri, mobil mewah, rumah mewah dan tas branded. Gaya hidup mewah yang dipamerkan ini memancing orang lain untuk tidak mau kalah karena mereka sudah terinfeksi penyakit modernisme yang lain yaitu FOMO (Fear of Missing Out). Akibatnya banyak orang yang berlomba-lomba dalam pamer kemewahan di saat banyak orang lain yang hidup dalam kekurangan.

Perilaku-perilaku manusia di era krisis modernisme saat ini tentu berbanding terbalik dengan ajaran agama. Contohnya, Nabi Muhammad mengajarkan cara hidup yang sederhana dan tidak mengumbar kemewahan. Al-Qu’ran juga mengajarkan kita untuk tidak hidup secara boros (QS. Al Isra: 27).

Ibadah puasa dapat menjadi solusi bagi perilaku menyimpang seperti hedonisme, boros dan flexing. Dalam bukunya Secrets of Divine Love, A. Helwa (2021) mengatakan puasa tidak hanya mengontrol anggota badan dari lapar haus dan keinginan syahwat biologis, tetapi juga pikiran. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah yang menyiratkan bahwa banyak orang yang orientasi puasanya hanya puasa fisik namun tidak sampai pada puasa akal dan pikiran.

A. Helwa lebih lanjut mengatakan: “Puasa bukan hanya menahan diri dari kebutuhan fisik namun puasa juga tentang menyucikan indra-indra kita dari keserakahan”. Puasa mencegah manusia dari gaya hidup hedonis, perilaku koruptif, pamer harta benda, dan penyakit-penyakit di era modernisme. Semoga kita dapat menjadi manusia dengan sikap mental dan perilaku yang lebih mulia dengan berpuasa Ramadan.

*Endro Dwi Hatmanto, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMY

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

alt

Hadapi Musim Kemarau, Kementan Siapkan Program Pompanisasi di Daerah Pertanian Kering

Bantul
| Sabtu, 25 Mei 2024, 07:27 WIB

Advertisement

alt

Lagu Rohani Kristen When I Pray For You, Doa Ayah untuk Calon Anaknya

Hiburan
| Jum'at, 24 Mei 2024, 21:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement