Advertisement

OPINI: Mengasihi ASI bagi Pengungsi

Lina Handayani, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta
Rabu, 14 Januari 2026 - 11:27 WIB
Sunartono
OPINI: Mengasihi ASI bagi Pengungsi Lina Handayani, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

Advertisement

Bencana alam yang silih berganti melanda Indonesia (banjir, gempa bumi, tanah longsor, hingga erupsi gunung api) telah memaksa ratusan ribu warga mengungsi dari rumah mereka. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terbaru menunjukkan bahwa pada awal Januari 2026, jumlah pengungsi akibat bencana di Sumatra mencapai 242.174 orang dan mencakup ribuan bayi serta ibu menyusui yang tergolong kelompok rentan. (UNICEF)

Di tengah ketidakpastian itu, satu kebutuhan dasar sering terabaikan: air susu ibu (ASI). ASI bukan sekadar sumber nutrisi; ia adalah hak anak, pelindung kesehatan, dan wujud kasih sayang pertama dalam kehidupan manusia. Dalam kondisi pengungsian yang penuh keterbatasan—terbatasnya air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan—ASI tetap menjadi sumber makanan paling aman dan higienis karena tersedia tanpa perlu alat tambahan. (UNICEF)

Advertisement

Rekomendasi lembaga internasional juga menegaskan hal ini. UNICEF dan WHO menyatakan bahwa dalam situasi darurat seperti konflik atau bencana alam, praktik menyusui menjadi lebih penting daripada sebelumnya karena membantu memberikan sumber makanan yang aman, bergizi, dan melindungi bayi dari penyakit serta kematian. Dukungan yang tepat perlu menjadi bagian dari respons setiap krisis kemanusiaan. (UNICEF)

Islam menempatkan menyusui pada posisi yang mulia. Allah SWT berfirman, “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan” (QS. Al-Baqarah: 233). Ayat ini menunjukkan bahwa menyusui bukan hanya tanggung jawab biologis, tetapi amanah moral dan sosial yang harus dijaga, bahkan dalam kondisi darurat.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan pentingnya belas kasih terhadap mereka yang lemah, “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil” (HR. Tirmidzi). Bayi pengungsi adalah “yang kecil” yang paling perlu perhatian bersama—bukan hanya dari keluarga, tetapi juga dari pemerintah dan masyarakat luas.

Namun tantangan di lapangan sering menghambat praktik menyusui. Trauma fisik dan psikologis, kelelahan, minimnya privasi, serta kurangnya pasokan makanan yang bergizi bagi ibu mengurangi intensitas menyusui. Parahnya, bantuan kemanusiaan sering didominasi susu formula tanpa pengawasan yang memadai, yang dalam konteks sanitasi yang buruk justru berpotensi meningkatkan risiko penyakit pada bayi.

Dukungan terhadap ASI harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kebijakan tanggap darurat bencana. Pemerintah pusat dan daerah bersama lembaga kemanusiaan harus menjadikan perlindungan ibu dan bayi sebagai prioritas dalam standar operasional respons bencana.

Ini mencakup penyediaan ruang aman menyusui, pendampingan tenaga kesehatan terlatih di pos kesehatan darurat, serta kampanye edukatif yang sesuai budaya dan konteks lokal untuk memastikan praktik menyusui tetap berlangsung.

Kementerian Kesehatan dan UNICEF/WHO telah menekankan pentingnya sistem dukungan berkelanjutan bagi ibu menyusui di seluruh Indonesia—dengan target meningkatkan angka pemberian ASI eksklusif hingga 80 persen. Namun selama masa tanggap darurat, prinsip ini selayaknya diintegrasikan dalam kebijakan nasional dan regional guna secara efektif menjamin perlindungan dan kesehatan bayi di pengungsian. (World Health Organization)

Secara luas, menyusui dalam situasi darurat bukan hanya langkah kemanusiaan; ini adalah investasi jangka panjang. Bayi yang menerima ASI memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dan risiko penyakit yang lebih rendah—kontribusi nyata bagi kualitas generasi masa depan, bahkan ketika mereka lahir dan tumbuh di tengah keterbatasan.

Negara harus hadir dengan kebijakan yang proaktif dan terintegrasi, memastikan bahwa di setiap titik pengungsian, perlindungan ibu dan bayi bukan sekadar retorika, tetapi tindakan nyata. Dengan fondasi nilai kemanusiaan dan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, kita dapat menjadikan ASI sebagai simbol harapan, keberpihakan, dan martabat manusia—di saat genting sekalipun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Jumlah Pernikahan di Bantul Terus Menurun dalam 3 Tahun Terakhir

Jumlah Pernikahan di Bantul Terus Menurun dalam 3 Tahun Terakhir

Bantul
| Rabu, 14 Januari 2026, 14:37 WIB

Advertisement

BTS Gelar Konser Dua Hari di Jakarta Desember 2026

BTS Gelar Konser Dua Hari di Jakarta Desember 2026

Hiburan
| Selasa, 13 Januari 2026, 23:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement