OPINI: Momentum Kebangkitan Daerah Istimewa Yogyakarta

Nelayan melabuhkan kapalnya di Pantai Gesing, Girikarto, Panggang, Gunungkidul, DIY. - Bisnis Indonesia/Rachman
08 Maret 2019 08:00 WIB Dibyo Sumantri Aspirasi Share :

Sesungguhnya beberapa tahun silam, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan HB X telah menegaskan perlunya mewujudkan visi dan misi menjadikan pantai selatan pusat pertumbuhan ekonomi DIY. Gubernur DIY berketetapan merubah paradigma Among Tani menjadi Dagang Layar.

Hakikatnya, bukan berarti pemerintah mengharapkan petani beralih profesi menjadi nelayan. Melainkan punya makna yang lebih luas, yaitu upaya maksimal memanfaatkan potensi kelautan yang sangat besar di sektor selatan DIY untuk kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat.

Ketika itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Energi dan Sumber Daya Mineral DIY juga menjelaskan wilayah selatan DIY justru akan menjadi beranda depan pusat pertumbuhan ekonomi. Tengara tersebut, kini telah mendekati kenyataan dengan pembangunan NYIA.

Dalam setiap tahapan, masyarakat patut dilibatkan agar memahami arah pembangunan di daerahnya, sehingga tidak terjadi salah penafsiran. Perubahan paradigma memang perlu kecermatan dan pendekatan sistematis, terstruktur dan transparan.

Falsafah pembangunan patut diciptakan untuk membangkitkan semangat seluruh warga. Sebuah falsafah yang menginspirasi semangat membangun pernah diucapkan Presiden Nikaragua, Jose Mujica; “Orang yang sering dikatakan ‘miskin’ sesungguhnya bukanlah orang yang tidak memiliki apa-apa, tetapi mereka adalah orang yang selalu membutuhkan peningkatan taraf hidup. Sejatinya mereka bukanlah hidup dalam kemiskinan, melainkan mereka hidup dalam kesederhanaan...”

Seperti diketahui, masyarakat DIY yang andhap asor dan lembah manah tidak berarti pesimistik tetapi sebuah sikap hidup yang jujur dan penuh kesederhanaan. Tugas pimpinan dan pengampu kewenangan yang menciptakan kredo, dan mendidik ethos kerja, kreativitas dan inovasi sehingga warga memiliki komitmen untuk hidup kreatif dan produktif.

Membangun Kreativitas
Sesungguhnya masyarakat DIY memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi. Pembangunan berbagai hotel, kafe, barista, kios pernak-pernik maupun resto ala warung lesehan di Jogja bagian utara dan timur membuktikan adanya kreativitas dan entrepreneurship warga.

Lantas bagaimana dengan Jogja bagian selatan dan barat? Kesemuanya tidak bisa dilepaskan dari komitmen, dan inisiatif pimpinan di masing-masing wilayah. Sebagaimana konsep yang dikembangkan Joseph Stiglitz, Creating a Learning Society; A New Approach to Growth, Development, and Social Progress.” Bahwa dalam menciptakan kesejahteraan, akumulasi kreativitas dan inovasi lebih penting ketimbang modal.

Sudah saatnya pemerintah beserta aparaturnya memperhatikan harmonisasi pembangunan wilayah, termasuk bagian selatan dan barat. Dalam pandangan sosiopsikologis, pemerataan pembangunan dapat mengubah pola pikir masyarakat jadi lebih mandiri, berinisiatif dan lepas dari ketergantungan kepada subsidi pemerintah.

Generasi Muda
Kebangkitan DIY bukan saja lantaran banyaknya lembaga pendidikan, atau obyek pariwisata yang berkembang akhir-akhir ini. Maupun pembangunan infrastruktur seperti kehadiran NYIA. Akan tetapi juga dipengaruhi peran profesional muda yang tertarik menjadi perintis dan mengembangkan usahanya di masing-masing daerah.

Jogja masih membutuhkan generasi muda yang mumpuni dibidang keilmuan, keterampilan kerja, kemampuan berbahasa asing, dan pemahaman teknologi informasi yang baik. Last but not least, profesional muda tersebut tidak latah untuk bekerja di kota besar ataupun luar negeri tetapi justru ingin membangun daerahnya. (Lihat opini Satwika Ganendra; Tenaga kerja Bersiap Hadapi Revolusi Industri 4.0. Harian Jogja, Rabu, 6/2/2019)

Pemerintah Daerah dituntut lebih cermat dalam mengelola kehadiran profesional muda, yang rata-rata termasuk dalam generasi milenial. Kehadiran mereka di seantero daerah diharapkan menjadi inisiator dan motivator untuk membangkitkan semangat seluruh warga di daerahnya.

Dalam mendorong pertumbuhan daerah memang dibutuhkan perintis semacam para profesional muda, lantaran rata-rata para profesional terlahir dari generasi milenial yang memiliki karakter unik. Antara lain mereka berani mengambil risiko, idealis, kepercayaan diri yang tinggi dan kadang tidak kompromistik dengan budaya koruptif.

Kendati pun persaingan begitu dahsyat di era disruptif dan borderless world, akan tetapi ditangan para profesional muda diharapkan semua permasalahan dapat dilalui dengan seksama. Termasuk dalam merubah paradigma Among Tani menjadi Dagang Layar sebagaimana diharapkan Gubernur DIY Sri Sultan HB X. Semoga.

*Penulis merupakan mantan Finance & HR Director Krakatau Steel Group