OPINI: Puasa Transformatif & Rekonsiliasi yang Fitri

CEO dan Co-Founder Umma Indra Wiralaksmana (kedua kanan), Head of Third-Party Platform Go-Jek Sony Radhityo (kedua kiri), CEO Kitabisa.com Alfatih Timur (kanan) dan Direktur Utama Dompet Dhuafa Imam Rulyawan berbincang usai peluncuran program Ramadan Ummah (Rummah) di Jakarta, Kamis (2/5). - Bisnis/Nurul Hidayat
11 Mei 2019 07:07 WIB Maksun Aspirasi Share :

Ada fenomena di masyarakat kita yang sangat menarik, (karena) lucu, (dan) tapi lumayan berbahaya, yakni terpisahnya kesale¬han individual dan kesalehan sosial.

Di sisi lain, muncul pula simbol-simbol agama yang dijadikan garansi, seolah bila seseorang telah melakukan aktivitas ritual keagamaan tertentu, seperti salat, puasa, haji, dan ibadah yang bersifat ‘pribadional’ lainnya, dia merasa hidupnya sudah memperoleh jaminan kesucian.

Fenomena ini sangat tampak pada masa kampanye Pilpres tempo hari, bahkan berlanjut hingga Pilpres usai. Karena itu, tidak jarang kita menjumpai seseorang yang secara individual sangat saleh tetapi secara sosial melakukan black campaign, money politics, suap, korupsi, bersikap intoleran terhadap sesama, melancarkan aksi sebar hoaks, dan berbagai bentuk kezaliman lainnya.

Kini, dalam bulan Ramadan, umat Islam kembali diwajibkan menunaikan ibadah puasa dan dianjurkan memperbanyak amal saleh. Sebagaimana sebelumnya, aktivitas keagamaan di bulan suci ini akan tampak semarak dengan berbagai aktivitas.

Seir¬ing dengan meningkatnya aktivitas keagamaan di negeri ini, kian meningkat pula kualitas dan kuantitas tindak kriminal serta penegasian nilai-nilai moral di berbagai lapisan masyarakat. Hampir setiap hari berita utama media massa dihiasi oleh kabar kezaliman sosial berbagai bentuk. Ironisnya, banyak dari para pelaku tindak kekerasan itu yang mengklaim dirinya sebagai muslim.

Dalam konteks inilah, di bulan yang penuh berkah ini, kita harus mencermati kembali ‘keberpuasaan’ sekaligus keberagamaan selama ini agar puasa benar-benar transformatif dan fungsional sekaligus reformatif terhadap perilaku sehari-hari.

Ini sungguh penting karena Nabi SAW telah memberikan early-warning bahwa “Sekian banyak orang menjalankan puasa, akan tetapi mereka hanya mendapatkan lapar dan dahaga”.

Ada sebuah penilaian bahwa perilaku seseorang itu ditentukan oleh bagaimana dia memandang dan memahami ajaran agamanya. Karena itu, kita sering menemukan berbagai analisis dan pembahasan ilmiah tentang perilaku umat manusia, terutama perilaku sosial, ekonomi, dan politik.

Penilaian itu, secara teoritis dan intelektual, memperoleh legitimasi dari beberapa tesis para ilmuwan seperti Max Weber, Clifford Geert atau Robert N. Bellah.

Para ilmuwan itu misalnya, mengatakan dan membuktikan bahwa perilaku sosial yang mendukung pertumbuhan usaha modern selalu mempunyai akar-akar dalam ajaran agama, yang melahirkan dimensi-dimensi moral dan etik.

Dari berbagai tesis itu kita juga memperoleh informasi bahwa keberhasilan dari sistem ekonomi dan poli¬tik bangsa justru sangat jelas berhubungan erat dan tergantung pada kuat dan lemahnya sistem etika bangsa yang bersangkutan.

Di sinilah posisi agama cukup signifikan dan sentral, mengingat tak satu pun agama yang dianut oleh manusia yang tidak mengajarkan etika tentang bagaimana hidup yang baik, penuh cinta, kasih, dan sayang serta mengatur bagaimana cara berinteraksi dengan sesamanya dalam bermasyarakat.

Persoalannya, ada pemahaman yang salah mengenai doktrin agama yang hidup di masyarakat kita. Agama hanya dipahami sebagai pengatur perilaku individu se-seorang terhadap Tuhannya (hablun minallah). Agama hanya dipahami untuk memuja dan memuji keagungan Tuhan. Alhasil, segala sesuatu bisa dilakukan atas nama dan demi keagungan Tuhan.

Dari pemahaman ini muncul suatu sikap rasa takut dan berdosa ketika melanggar atau melakukan larangan ritual yang bersifat ‘pribadional’ terhadap Tuhan. Anehnya, sikap keras itu tidak berlaku ketika seseorang melakukan dosa-dosa sosial yang sifatnya horizontal, tidak berhubungan langsung dengan Tuhan (hablun minannas).

Padahal dalam agama, apabila seseorang telah berdosa secara individual terhadap Tuhan, dia cukup memohon ampun (bertobat) dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya. Namun apabila melakukan dosa sosial, misalnya korupsi, yang nyata-nyata merugikan banyak orang, dosanya tidak akan diampuni sebelum meminta ampun dan mengakui atas kezaliman sosial terhadap yang dizalimi.

Di sisi lain, agama tanpa tanggung jawab sosial sama saja dengan pemujaan belaka. Tak perlu seseorang berpuasa misalnya, jika tanpa dibarengi tanggung jawab sosial. Sebab, agama bukanlah pelarian semu dan dalih untuk mencari ketenteraman spiritual semata. Agama juga bukan hanya menjadi urusan individu untuk mendapatkan ketenangan dan menjadi media penebus dosa.

Puasa Transformatif

Ibadah puasa memang dikenal dengan sifatnya yang sangat ‘pribadional’. Namun bukan berarti puasa hanya berdimensi individual-teologis belaka tanpa dimensi sosial. Nabi SAW mengingatkan: “Betapa banyak orang berpuasa tapi sia-sia belaka, mereka tidak memperoleh apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga, lantaran mengabaikan etika sosial atau melakukan dosa sosial”.

Artinya, jika sikap mudah mendakwa, mengklaim, memvonis, memojokkan, menghujat, menghina, memprovokasi, meneror, merasa paling benar dan konstitusional, bersikap intoleran, anarkis, dan sikap kerdil lainnya terhadap sesama, yang jelas-jelas berlawanan dengan esensi dan makna transformatif dari nilai ibadah puasa, masih saja subur dalam diri sang muslim, puasa itu tak akan membuahkan apa-apa selain rasa lapar dan dahaga. Dan itu berarti kekalahan, bukan keme¬nangan.

Dalam kehidupan masyarakat yang kini lebih didominasi corak solidaritas organis, meminjam istilah Emile Durkheim, di mana hubungan antarsesama lebih diorientasikan kepada vested of interest maka melalui ibadah puasa umat Islam dapat menarik tali hubungan sosial yang sudah kebablasan itu ke dalam koridor yang harmonis atas dasar persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyah), kesamaan (al-musawah), dan keadilan (al-‘adl).

Ketika kualitas kesenjangan sosial cenderung menguat antarlapisan sosial, dan orang-orang rentan teralienasi secara struktural dan kultural maka melalui ibadah puasa yang transformatif, umat Islam dituntut mengembangkan kepedulian dan solidaritas sosial yang manusiawi sebagai implementasi dari pesan luhur Nabi SAW: “Tidak beriman seseorang, jika dia tidur nyenyak karena kekenyangan, sementara tetangganya dibiarkan menggelepar kelaparan”.

Dengan demikian, puasa transformatif mendorong kita untuk selalu introspeksi dan meningkatkan kualitas diri. Puasa transformatif tidak hanya membudayakan puasa seremonial-formal yang biasa dihiasi dengan membludaknya budaya konsumerisme mengiringi buka puasa dan menjelang hari raya.

Puasa transformatif bukan hanya menciptakan pribadi yang tahan lapar dan haus tetapi tanpa daya untuk mengubah diri menjadi pribadi yang kukuh di saat Ramadan berlalu.

Puasa tranformatif adalah puasa yang membuat kita lebih baik dan tekun dalam beribadah, membuahkan sense of crisis dan sense of aware terhadap si miskin dan kaum yang tertindas, dan bisa menciptakan kedamaian, toleransi dan harmoni antar sesama umat maupun antarumat beragama.

Puasa transformatif pascapilpres mampu menjadikan Ramadan sebagi ajang untuk saling memaafkan, merajut kembali jiwa-jiwa yang terkoyak, karena beda pilihan menuju rekonsiliasi yang fitri dan sejati. Tidak ada lagi 01 dan 02. Yang ada adalah 03, yakni Persatuan Indonesia. Semoga!

*Penulis merupakan dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo, Semarang