OPINI: Menghapal Alquran untuk Mengenal Allah

Acara pembacaan ayat suci Alquran oleh para siswa Kelas VI SD/MI di Taman Budaya Kulonprogo, Rabu (16/5 - 2018).Harian Jogja/Uli Febriarni
13 Mei 2019 07:47 WIB Rinasa Agistya Anugrah Hikmah Ramadan Share :

Alquran diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW dengan perantaraan malaikat Jibril. Jibril menurunkan Alquran kepada Rasulullah dan beliau pun langsung memahaminya. Hal ini disebutkan di dalam Alquran surat Al-Baqarah : 97.

Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Alquran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Kemudian Rasulullah SAW mengajarkan Alquran itu kepada para sahabat. Mereka menuliskannya pada pelepah, daun-daun kering, batu, dan tulang. Pada saat itu belum ada kertas seperti zaman modern sekarang ini. Kemudian para sahabat langsung menghafalnya dan mengamalkannya. Alquran dipahami dengan menghafal, bukan hanya sekedar membaca.

Bagaimana dengan zaman sekarang? Coba kita perhatikan di sekitar kita, diantara teman-teman dan keluarga kita, atau bahkan termasuk diri kita sendiri, ada berapa persen diantara mereka yang hafal Alquran? Berapa persen yang sedang menghafal Alquran? Mungkin kita susah memberikan prosentasenya karena masih sedikit sekali.

Kaum muslimin saat ini masih cukup berpuas diri dengan membaca Mushaf Alquran dan tidak memahami maknanya. Padahal membaca Alquran baru langkah awal berinteraksi dengan Alquran. Alquran sebagai petunjuk bagi kita tidak cukup dibaca tetapi juga dihafal dan dipahami.

Mungkin ada sebagian yang bertanya mengapa Alquran perlu dihafal? Tidakkah cukup dengan membaca Mushaf dan membaca terjemahan? Dengan menghafal Alquran ada suatu rasa yang diberikan Allah kepada hati kita. Rasa ini diperoleh karena ayat-ayat yang dibaca berulang-ulang. Pengulangan ayat-ayat suci itulah yang menjadi makanan untuk hati kita. Sesuai dengan Al-Baqarah : 97, Alquran itu diturunkan di hati Nabi Muhammad SAW, bukan di akal pikiran beliau. Ini berarti Alquran itu untuk konsumsi hati, bukan hanya pikiran.

Segala Larangan
Rasa inilah yang menjadikan kita nikmat mengenal Allah, memahami kehendak-Nya, dan ringan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Rasa ini kurang kehadirannya ketika hanya membaca saja. Apalagi bila membacanya tidak diiringi dengan pemahaman artinya dan membaca tidak diulang-ulang.

Alquran adalah pedoman hidup. Tetapi hanya segelintir orang yang hafal dan paham Alquran. Bagaimana Alquran bisa menjadi pedoman hidup seorang muslim bila membaca dan memahaminya secara tuntas saja belum dilakukan?

Misalkan jika kita akan pergi ke suatu tempat yang belum pernah kita singgahi sebelumnya. Kita perlu bekal peta, rambu-rambu, dan atau petunjuk oleh seorang yang pernah bersinggah di tempat itu. Kalau kita tidak memahaminya apakah kita dijamin akan sampai ke tujuan?

Kita mungkin lebih senang bertanya kepada penduduk setempat. Tetapi jika orang yang kita tanya juga kurang paham, akankah kita sampai ke tujuan dengan selamat? Mungkin justru akan tersesat. Padahal jika kita memahami peta, rambu-rambu, petunjuk-petunjuk, dan juga bertanya maka kita akan mendapatkan jalan terbaik untuk sampai ke tujuan.

Memahami Alquran bukan fardhu kifayah yang dibebankan hanya kepada ulama, kiai, dan ustadz. Tetapi seperti yang dicontohkan oleh para sahabat yaitu membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkan Alquran dilakukan sebagai kewajiban individual setiap kaum muslimin.

Walaupun secara akademik kita sendiri membidangi bidang ilmu umum, sebagai seorang muslim kita juga harus melakukan seperti apa yang telah dicontohkan para sahabat. Jika secara individu, seorang muslim meningkat kualitasnya, keluarga yang dibinanya juga akan berkualitas. Akhirnya sebuah masyarakat madani yang diidamkan selama ini juga dapat terwujud.

*Penulis merupakan dosen Teknik Mesin Vokasi Universita Muhammadiyah Yogyakarta