OPINI: Menggapai Spirit Ramadan

Takjil di Masjid Jogokariyan Mantrijeron Kota Jogja. - Harian Jogja/Desi Suryanto
15 Mei 2019 06:07 WIB Suswanta Aspirasi Share :

Sya’ban radhiyallahu’anhu adalah sahabat yang memiliki kebiasan unik, yaitu setiap memasuki masjid sebelum salat, ia senantiasa i’tikaf di pojok depan masjid. Ia duduk di pojok bukan mencari sandaran untuk tidur, tetapi karena tidak ingin mengganggu jamaah lain yang mau beribadah. Kebiasaan unik Sya’ban ini ternyata tidak luput dari pengamatan Rasul SAW.

Suatu pagi saat sholat subuh mau dimulai, Rasul tidak melihat Sya’ban. Baginda Rasul bertanya kepada para sahabat, akan tetapi tidak ada sahabat yang mengetahuinya. Sholat subuh ditunda beberapa saat menunggu Sya’ban, meski akhirnya diputuskan segera sholat agar tidak terlambat. Setelah selesai sholat, Rasul bertanya lagi kepada para sahabat, apakah ada yang tahu rumahnya Sya’ban dan bersedia mengantarkan ke rumahnya? Ada sahabat yang mengetahui rumah Sya’ban dan bersedia mengantarkan Rasul SAW.

Perjalanan kaki memakan waktu selama tiga jam. Setelah sampai tujuan, Rasul SAW mengetuk pintu rumah Sya’ban sambil mengucapkan salam. Terdengar suara wanita sambil menjawab salam. Rasul bertanya, benarkah ini rumah Sya’ban? Ya benar, saya istrinya. Bolehkah kami bertemu Sya’ban karena tadi pagi tidak hadir sholat subuh di masjid. Sang istri menjawab dengan berlinang air mata dan mengatakan bahwa suaminya telah meninggal tadi pagi. Innalillaahi wa inna ilaihi ra’jiun, subhanallah, satu-satunya penyebab Sya’ban tidak sholat jama’ah sholat subuh di masjid karena ajal sudah menjemputnya.

Rasul SAW menjelaskan bahwa saat Sya’ban dalam keadaan sakratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT, bukan hanya itu, semua pahala dari perbuatannya juga diperlihatkan Allah SWT. Apa yang dilihat Sya’ban dan orang yang sakratul maut tidak bisa dilihat oleh orang lain. Dalam pandangan yang tajam, Sya’ban melihat aktivitas kesehariannya berjalan tiga kilometer tiap hari ke masjid dan diperlihatkan apa bentuk surga yang menjadi batas. Saat melihat itu, ia berucap, “Aduuh kenapa tidak lebih jauh..”. Timbul penyesalan dalam dirinya mengapa ruhnya tidak lebih jauh agar pahala dan surga yang didapatkannya lebih indah.

Hawa Nafsu
Dalam penggalan berikutnya, Sya’ban melihat ia akan sholat jama’ah dalam musim dingin. Dinginnya sampai terasa menusuk tulang. Sya’ban menggunakan baju rangkap tiga lapis. Baju terluar sengaja dipilih yang kurang bagus karena nanti akan dibuka ketika sholat. Di tengah jalan, ia melihat seseorang yang terbaring kedinginan dan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban segera membuka baju luarnya dan diberikan kepada orang tersebut.

Ia kemudian memapah orang tersebut untuk diajak sholat berjamaah di masjid. Diperlihatkan pahala dari perbuatannya, dan Sya’ban berteriak, “Aduuh kenapa tidak yang baru.” Berikutnya Sya’ban melihat adegan ketika ia membagi kuenya dengan pengemis yang sudah tiga hari tidak makan. Ketika diperlihatkan pahalanya, ia berteriak, “ Aduuh kenapa tidak semuanya.”

Sya’ban tidak menyesali perbuatannya, tetapi menyesal mengapa ia tidak melakukan lebih dari itu. Sya’ban telah menginspirasi kita bagaimana menetapi sabda Rasul SAW :
“Orang yang cerdas adalah yang selalu mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.’ (HR. Tirmidzi)

Makna dari mengendalikan hawa nafsunya adalah orang yang selalu menghisap dirinya didunia sebelum di hari kiamat. Terkait hadist ini, Umar bin Khattab radhiallahu’anhu mengatakan, “hisaplah diri kalian sebelum kalian dihisap Allah Ta’ala kelak. Bersiaplah menghadapi hari perhitungan yang amat dahsyat. Sesungguhnya hisap pada hari kiamat akan terasa ringan bagi orang yang senantiasa menghisap dirinya ketika di dunia.”

Inilah spirit Ramadan, yaitu kita harus melakukan kebaikan secara optimal dan senantiasa melakukan introspeksi diri. Marilah kita syukuri nikmat dan hidayah yang luar biasa dari sang Pencipta. Allah masih memberi kepercayaan dan kasih sayangnya kepada kita di bulan mulia ini. Mari kita perbaiki pemahaman agama kita.

Kita agendakan tadarus rutin untuk melancarkan bacaan dan memahami ayat-ayatNya. Kita rutinkan jamaah sholat fardhu di masjid. Kita targetkan ada peningkatan kualitas iman, ilmu dan amal sholeh kita. Jadikan Ramadan tahun ini seakan terakhir kita, agar termotivasi memberikan ibadah dan amal soleh terbaik.

*Penulis merupakan dosen Ilmu Pemerintahan Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta