OPINI: Sehat dan Bahagia saat Puasa

ilustrasi. - Reuters/Ina Fassbender
20 Mei 2019 06:07 WIB M. Bambang Edi Susyanto Hikmah Ramadan Share :

Sikap kesyukuran akan membuat kita menjadi tenang dan ketenangan itu membuat sehat dan bahagia. Menarik, bahwa Rasulullah SAW mengajarkan dua doa yang dimulai dengan hamdalah, baik saat kita mendapat anugerah maupun saat mendapat musibah.

Ketika mendapat anugerah, sekecil apapun perlu kita syukuri sambil mengingat berbagai anugerah lain yang telah diberikan Allah kepada kita. Alhamdu lillahilladzi bini'matihi tatimmush sholihat, pengakuan dan pujian kepada Allah atas berbagai kebaikan yang telah diberikan kepada kita. Sikap ini akan mengundang rasa puas dan kepuasan itu sangat positif untuk kesehatan dan kebahagiaan.

Ketika mendapat musibah, kita tetap memuji Allah dengan doa alhamdu lillahi 'alaa kulli haal, yang artinya segala puji bagi Allah dalam semua keadaan. Doa yang menimbulkan rasa tenang dan rasa tenang itu juga sangat positif untuk kekebalan tubuh kita dibandingkan dengan kecemasan dan kesedihan yang berlarut yang dapat menurunkan kekebalan tubuh bahkan menimbulkan radikal bebas dalam tubuh kita.

Tip kedua yakni, sangat baik jika kita sering mendeklarasikan diri sebagai orang yang beruntung dan sebaliknya jangan pernah merasa diri sebagai orang yang sial. Keberuntungan terbesar kita adalah karena kita terjaga menjadi bagian dari orang yang beriman sedangkan Allah menyatakan dalam awal surat Al mukminun bahwa beruntunglah orang yang beriman, sedangkan orang yang beriman dan bertaqwa dijanjikan Allah akan mendapatkan jalan keluar atas berbagai persoalan dan rezeki yang tak terduga. Deklarasi keberuntungan akan mengundang keberuntungan berikutnya. Deklarasi bahwa kita sehat, akan menambah kesehatan kita. Maka sempatkanlah berkata, bahwa kita beruntung, bahwa kita sehat.

Ketiga, kata cukup menggambarkan takaran yang sesuai untuk aktivitas kita, bekerja cukup, berolahraga juga cukup dan beristirahat juga cukup. Lengkapi dengan rekreasi yang cukup. Terlalu lelah bekerja bahkan berolah raga, berhubungan dengan peningkatan risiko timbulnya berbagai penyakit karena setiap stres fisik maupun psikologis termasuk kelelahan dapat menimbulkan kita kebanjiran sitokin, zat-zat merugikan yang memediasi timbulnya keradangan dan jika itu berlangsung kronik, terus menerus, maka dapat menimbulkan berbagai penyakit pada berbagai sistem tubuh kita. Maka benarlah jika dikatakan bahwa sebaik-baik perkara adalah yang di tengah-tengah.

Mendoakan
Dzikir akan menimbulkan ketenangan sebagaimana kita dapatkan informasi dalam al-Quran. Karena itu, Profesor Dadang Hawari telah menulis tentang manfaat dzikir untuk kesembuhan penyakit kanker. Doa juga perlu kita lakukan untuk mengharap sehat dan kebahagiaan karena Allah-lah sumber kebahagiaan sejati bagi kita.

Tip kelima yakni dengan mengendalikan emosi yang juga sangat baik untuk kesehatan. Amarah berulang menurunkan kekebalan tubuh. Lebih jauh lagi, pengendalian amarah dihubungkan dengan potensi mendapat kebahagiaan tertinggi, yaitu surga sebagaimana disabdakan Nabi SAW: jangan marah, dan bagimu surga.

Keenam, memahami kekuatan dan kelemahan diri sangat penting untuk kesehatan kita. Dan di dalam dirimu, apakah engkau tak memikirkannya? Allah menegur kita dalam ayat tersebut. Memahami diri ini terkait dengan sikap dan takaran serba cukup di atas.

Sikap gembira dalam takaran yang cukup juga diperlukan untuk kesehatan dan kebahagiaan kita. Bahkan kegembiraan adalah obat yang tepat untuk orang yang sakit. Itu sebabnya salah satu misi orang yang menjenguk orang sakit adalah menghibur orang yang dijenguk. Misi lain tentunya mendoakan dan mengedukasi (memberikan pencerahan).

Selanjutnya, agama menghendaki agar dalam konsumsi makanan atau minuman kita memerhatikan dua aspek yang sama pentingnya, yaitu halal dan thoyyib. Konsep thoyyib terkait dengan tips terakhir ini. Tak cukup halal, makanan, minuman, obat dan lain-lain yang kita pilih hendaknya halal dan thoyyib, dalam arti jelas kemanfaatannya dan madharatnya minimal atau tidak ada sama sekali.

*Penulis merupakan dosen Kesehatan Anak Universitas Muhammadiyah Yogyakarta